Kesenian tradisional

Wapres Dukung Wayang Orang Bharata

Kompas.com - 08/10/2010, 22:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Pimpinan, pengurus, dan perwakilan seniman wayang orang yang tergabung dalam Yayasan Paguyuban Wayang Orang Bharata, Jumat (8/10/2010), menemui Wakil Presiden Boediono.

Dalam pertemuan tersebut, Wapres Boediono menyatakan dukungannya terhadap keberadaan Wayang Orang Bharata sebagai salah satu warisan budaya dan kesenian Indonesia. Wayang orang Bharata merupakan satu dari tiga kelompok wayang orang yang masih sanggup bertahan di Indonesia. Dua kelompok wayang orang lainnya adalah Sriwedari di Solo, dan Ngesti Pandowo di Semarang.

Sebelumnya, sejumlah kelompok wayang orang lainnya tercatat sudah tutup atau membubarkan diri.

Demikian diungkapkan Penasehat Yayasan Paguyuban Wayang Orang Bharata Soeparmo kepada pers, seusai menemui Boediono di Istana Wapres, Jakarta.

Dalam pertemuan itu, ia didampingi antara lain Pimpinan Wayang Orang Bharata Marsam Mulyo Atmodjo dan Kepala Dinas Pariwisata dan Sub Kebudayaan DKI Jakarta Ari Budiman serta seniman wayang orang lainnya.

"Yang menggembirakan kami dari komitmen dukungan Pak Wapres. Kelompok kesenian yang tinggal Senin-Kamis ini ternyata masih didukung oleh seorang pejabat," tandas Soeparmo.

Menurut Soeparmo, jangankan dukungan resmi, menerima untuk sekadar audensi saja dengan Wayang Orang Bharata saja, selama ini tidak pernah ada. "Dalam 20 tahun terakhir ini kami bersyukur kami bisa diterima oleh pejabat negara setingkat Wapres untuk pertama kalinya," tambah Soeparmo lagi dengan antusias.

"Mudah-mudahan para penari dan seniman yang selama ini sudah loyo, karena diterima dan didukung Pak Wapres menjadi semangat dan segar kembali. Meskipun, honor dan penghidupan mereka masih rendah dan pas-pasan," lanjutnya.

Dikatakan Soeparmo lagi, apabila Wapres mau datang dalam pagelaran Wayang Orang Bharata, ini artinya kehormatan dan penghargaan terhadap masa depan Wayang Orang Bharata. "Semoga kelompok kesenian tradisional ini terus tumbuh. Jangan sampai generasi muda kita tahun-tahun mendatang belajar wayang orang di luar negeri," harap Soeparmo lagi.

DKI tetap berkomitmen

Pada kesempatan itu, Ari Budiman menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap berkomitmen mendukung dan membantu Wayang Orang Bharata, yang didirikan tahun 1972 saat masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

"Dukungan dan bantuan dalam bentuk sarana dan prasarana serta penataan organisasi yang lebih baik dan modern agar dapat mewujudkan kesejahteraan bagi para seniman beserta keluarganya," kata Ari Budiman.

Setelah kelompok wayang orang Pancamurti, yang telah berdiri sejak 1963 mati, maka Ali Sadikin menghidupkan kembali dengan nama baru, Wayang Orang Bharata. Kelompok wayang orang ini sebelumnya adalah proyek percontohan pengembangan wayang orang di Jakarta.

"Kami punya komitmen tinggi terhada budaya bangsa. Namun, kami berharap kesenian wayang orang ini bisa dikemas seperti teater dan budaya modern tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi," tambahnya.

Lebih jauh, sutradara Wayang Orang Bharata Teguh Kentus Ampiranto menyatakan, Wapres Boediono yang diundang menonton pagelaran wayang orang terkait dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November mendatang, dipastikan akan hadir.

Pagelaran yang berlangsung 8-9 November mendatang akan mementaskan wayang orang klasik, berjudul "Salyo Wirotomo," yang bertutur tentang sikap kepahlawanan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau