Sopir SMK Curi Brankas Isi Rp 260 Juta

Kompas.com - 11/10/2010, 08:10 WIB

SIDOARJO, KOMPAS.com — Suparno (39), warga Dusun Bakalan, Desa Katerungan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, meringkuk di tahanan Markas Kepolisian Sektor Krian. 

Sopir SMK I Krian ini diduga membobol brankas besi milik sekolah tersebut yang berisi uang sekitar Rp 260 juta.

Tersangka mengaku terpaksa mencuri setelah ketagihan judi dan dijerat utang senilai Rp 20 juta. Polisi membekuk tersangka dua jam setelah Bendahara SMK Krian I Puspita Dewi (40) melapor ke Mapolsek Krian, Minggu (10/10/2010) sore.

Dewi mengaku kaget saat mengetahui ruangannya diacak-acak. “Ternyata brankas uang sudah tidak ada,” katanya.

Saat dia masuk ruang berukuran sekitar 8 x 4 meter itu, pintu tidak terkunci. Padahal sehari-hari, pintu ruangan terkunci rapat. Saat itu Dewi  bersama kakaknya, Puspita Rini, datang di sekolah di Desa Katerungan, Krian, itu pukul 13.30 WIB.  “Saya mau mengerjakan laporan,” kata Dewi.

Anjing pelacak yang dibawa polisi hanya berputar-putar di sekitar sekolah. “Berarti ada orang dalam,”duga Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sidoarjo AKP Ernesto Saiser di lokasi kejadian.

Sejumlah saksi pun dimintai keterangan polisi. Selain tukang kebun sekolah yang memegang kunci, diperiksa juga Suparno, yang sehari-hari menyopiri Kepala SMK Krian I Bambang Suharsono.

Suparno diperiksa intensif karena polisi memperoleh informasi bahwa dia sempat meminjam kunci pada salah satu tukang kebun sekolah, sehari sebelum kejadian. “Dia meminjam kunci dengan alasan kunci itu juga cocok untuk kunci rumahnya,” kata Kapolsek Krian Kompol Achmad Sholeh.

Setelah didesak polisi, Suparno akhirnya mengaku. Polisi juga mendapatkan bukti uang Rp 1,6 juta dalam dompetnya.  Uang yang diambil sempat dipakai Suparno berjudi sabung ayam, tetapi kalah. “Sekitar Rp 500.000 untuk judi,” beber Kompol Achmad Sholeh.

Di depan polisi, Suparno mengaku mengambil brankas di ruangan bendahara sekitar pukul 06.00 WIB saat sekolah sepi. Dengan kunci duplikat yang didapat beberapa hari sebelum aksi, tersangka dengan mudah membuka pintu ruangan bendahara.

Ban mobil kempes Dia lalu membopong brankas berukuran 60 cm x 40 cm itu ke luar ruangan menuju mobil. Namun, ternyata salah satu ban mobil itu kempes. Ia kemudian lari ke gudang praktik di belakang sekolah. Di tempat itu, dia lantas membuka paksa pintu brankas menggunakan linggis.

Beberapa bekas goresan di ujung brankas masih membekas. Setelah terbuka, ia mengambil semua uang, sekitar Rp 260 juta. Dari jumlah itu, tersangka membawa pergi 1,6 juta, sedangkan sisanya disimpan di sebuah lemari di gudang tersebut.

Dia kemudian menutup brankas dengan tripleks agar tidak kelihatan. Sampai  tadi malam, uang yang tersisa hanya Rp 164 juta. ”Kami masih mencari sisanya,” ucap AKP Ernesto Saiser.

Saat ini polisi mengembangkan kasus tersebut. Ada dugaan pelaku lebih dari seorang. Sebab, untuk membawa brankas itu seorang diri dalam keadaan kosong, lumayan sulit.

Suparno mengaku terpaksa membobol brankas itu karena bingung kerap ditagih istrinya agar segera menyelesaikan renovasi rumah.

Padahal, rumah itu dibangun salah satunya dengan uang pinjaman. “Utang saya banyak. Ada di mana-mana. Jumlahnya sekitar Rp 20 juta,” ujarnya kepada Surya di Mapolsek Krian, Minggu malam.

Lulusan Sarjana Teknik Mesin sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Surabaya ini mengaku sudah bekerja selama 13 tahun di sekolah tersebut dengan gaji  Rp 1,7 juta per bulan. Namun, gaji itu tidak diterima utuh karena dia punya utang di koperasi sekolah. (Mustain)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau