Transjakarta

Shelter Koridor IX dan X Dibenahi Akhir Oktober

Kompas.com - 12/10/2010, 02:54 WIB

Jakarta, Kompas - Pemprov DKI Jakarta akan memperbaiki shelter bus transjakarta di Koridor IX dan X. Sebagian shelter di kedua koridor itu sudah rusak sebelum difungsikan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, Senin (11/10), mengatakan, pihaknya sudah menentukan pemenang tender perbaikan shelter.

”Perbaikan akan dimulai akhir Oktober dan dijadwalkan selesai 15 Desember sehingga akhir tahun ini transjakarta di kedua koridor itu bisa beroperasi,” kata Pristono.

Kerusakan yang terjadi antara lain kaca shelter pecah. Beberapa coretan juga tampak di badan shelter sehingga tempat tunggu penumpang itu tampak kumuh. Ada juga pelat besi di lantai shelter yang hilang dicuri.

Koridor IX akan melayani jalur Pluit-Pinang Ranti, sedangkan Koridor X akan beroperasi menghubungkan Tanjung Priok-Cililitan.

Operasional Koridor IX dan X pada akhir tahun mendatang merupakan penambahan jalur baru transjakarta dalam kurun 1,5 tahun terakhir. Sebelumnya, Koridor VIII dioperasikan pada 21 Februari 2009.

Untuk awal operasional transjakarta di Koridor IX dan X, Pristono mengatakan pihaknya sudah menyiapkan 94 bus yang terdiri dari 25 bus gandeng dan 69 bus tunggal. Bus-bus itu akan dibagi ke kedua koridor baru.

Pristono berpendapat penumpang transjakarta yang selama ini menumpuk di delapan koridor akan terdistribusi ke dua jalur baru yang dioperasikan akhir tahun ini. Karena itu, belum ada rencana penambahan jumlah bus transjakarta untuk Koridor I sampai Koridor VIII.

Tata ulang

Pascaoperasional bus transjakarta di kedua koridor itu, Pemprov DKI Jakarta bakal menata ulang angkutan umum yang 50 persen rute berimpitan dengan jalur transjakarta. Dengan penataan ulang kendaraan umum, Pristono berharap tidak ada tumpang tindih jalur lagi.

”Angkutan umum yang 50 persen atau lebih rute berada di jalur yang dilewati transjakarta, bakal dicarikan rute baru agar tidak berimpitan,” kata Pristono.

Selain itu, Dishub berencana merancang keterhubungan bus transjakarta dengan moda transportasi lain seperti kereta rel listrik (KRL). Keterhubungan antara stasiun dan shelter itu akan memudahkan pengguna KRL berganti moda ke transjakarta, begitu juga sebaliknya.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan berpendapat operasional bus transjakarta harus diikuti dengan ketegasan Pemprov DKI menghapuskan parkir di jalan yang dilalui transjakarta.

”Pemprov DKI Jakarta perlu mengkaji kebijakan perparkiran dan penegakan hukum tegas, terutama untuk kendaraan yang parkir di bahu jalan yang dekat dengan jalur bus transjakarta,” kata Azas.

Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi berpendapat pemerintah juga perlu memerhatikan kualitas bus pengumpan (feeder) transjakarta agar kualitas bus pengumpan itu tidak terlalu jauh dibandingkan dengan transjakarta. Selama ini, kondisi bus pengumpan belum sebanding dengan transjakarta sehingga masyarakat ragu untuk berpindah dari pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Hal ini menyebabkan kemacetan belum bisa teratasi. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau