Jakarta, Kompas
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, Senin (11/10), mengatakan, pihaknya sudah menentukan pemenang tender perbaikan shelter.
”Perbaikan akan dimulai akhir Oktober dan dijadwalkan selesai 15 Desember sehingga akhir tahun ini transjakarta di kedua koridor itu bisa beroperasi,” kata Pristono.
Kerusakan yang terjadi antara lain kaca shelter pecah. Beberapa coretan juga tampak di badan shelter sehingga tempat tunggu penumpang itu tampak kumuh. Ada juga pelat besi di lantai shelter yang hilang dicuri.
Koridor IX akan melayani jalur Pluit-Pinang Ranti, sedangkan Koridor X akan beroperasi menghubungkan Tanjung Priok-Cililitan.
Operasional Koridor IX dan X pada akhir tahun mendatang merupakan penambahan jalur baru transjakarta dalam kurun 1,5 tahun terakhir. Sebelumnya, Koridor VIII dioperasikan pada 21 Februari 2009.
Untuk awal operasional transjakarta di Koridor IX dan X, Pristono mengatakan pihaknya sudah menyiapkan 94 bus yang terdiri dari 25 bus gandeng dan 69 bus tunggal. Bus-bus itu akan dibagi ke kedua koridor baru.
Pristono berpendapat penumpang transjakarta yang selama ini menumpuk di delapan koridor akan terdistribusi ke dua jalur baru yang dioperasikan akhir tahun ini. Karena itu, belum ada rencana penambahan jumlah bus transjakarta untuk Koridor I sampai Koridor VIII.
Pascaoperasional bus transjakarta di kedua koridor itu, Pemprov DKI Jakarta bakal menata ulang angkutan umum yang 50 persen rute berimpitan dengan jalur transjakarta. Dengan penataan ulang kendaraan umum, Pristono berharap tidak ada tumpang tindih jalur lagi.
”Angkutan umum yang 50 persen atau lebih rute berada di jalur yang dilewati transjakarta, bakal dicarikan rute baru agar tidak berimpitan,” kata Pristono.
Selain itu, Dishub berencana merancang keterhubungan bus transjakarta dengan moda transportasi lain seperti kereta rel listrik (KRL). Keterhubungan antara stasiun dan shelter itu akan memudahkan pengguna KRL berganti moda ke transjakarta, begitu juga sebaliknya.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan berpendapat operasional bus transjakarta harus diikuti dengan ketegasan Pemprov DKI menghapuskan parkir di jalan yang dilalui transjakarta.
”Pemprov DKI Jakarta perlu mengkaji kebijakan perparkiran dan penegakan hukum tegas, terutama untuk kendaraan yang parkir di bahu jalan yang dekat dengan jalur bus transjakarta,” kata Azas.
Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi berpendapat pemerintah juga perlu memerhatikan kualitas bus pengumpan (