Sepak bola

Pemain Timnas Bertumbangan

Kompas.com - 12/10/2010, 03:45 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Sehari menjelang laga persahabatan dengan Maladewa, tim nasional Indonesia harus mengatasi kehilangan pemain timnya dalam jumlah yang signifikan. Dua nama baru dari Persib dan Persija dipanggil untuk mengisi keko- songan tersebut.

Beberapa nama pemain yang harus absen karena cedera seperti Kurnia Meiga, Ricardo Salampessy, Zulkifli Sukur, Eka Ramdani, Atep, dan Arif Suyono. Boaz Solossa yang tampil mengesankan dalam laga Indonesia-Uruguay pun diragukan kembali hadir dalam pertandingan 12 Oktober ini.

”Ada juga M Ridwan yang harus pulang untuk menemani istrinya yang akan melahirkan dalam dua hari terakhir ini,” ungkap Pelatih Indonesia Alfred Riedl, Senin (11/10) di Bandung, Jawa Barat.

Riedl mengaku heran dengan hal tersebut karena dia harus kehilangan sedikitnya lima orang karena cedera maupun sakit hanya dalam rentang satu minggu. Sempat terlontar bahwa ini kejadian pertama kali yang dialami sewaktu ia menjadi pelatih.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim nasional Indonesia kembali memanggil dua pemain, yaitu Ambrizal dari Persija dan Hariono dari Persib. Riedl beralasan, keduanya memang sudah menjadi kandidat pemain timnas yang dipertimbangkan.

Disinggung mengenai pemain naturalisasi, Riedl mengatakan bahwa Rafael Guillermo Edward Eduardo Maitimo juga dipastikan tidak ikut bertanding. Dia akan pulang ke Jakarta karena masih terganjal dengan masalah kewarganegaraan.

Menurut manajer tim nasional Andi Darussalam, pelajaran berharga yang harus diambil para pemain tim Indonesia dari Uruguay adalah profesionalisme mereka. Profesionalisme bisa diartikan sebagai disiplin dalam berlatih, serta hasil di lapangan.

”Mereka baru tiba dua hari sebelum pertandingan, berarti tidak lama setelah pulih dari jetlag, tetapi tetap bermain sungguh- sungguh dengan hasil 7-1 untuk Uruguay,” kata Andi.

Setara

Disinggung mengenai pemilihan Maladewa sebagai lawan Indonesia dalam laga persahabatan, Riedl mengaku ingin mencari lawan yang tidak terlalu jauh rentang kualitasnya dengan Indonesia. Laga dengan Uruguay memang tidak pernah diniatkan untuk menang karena tingkatnya jauh berbeda.

”Meskipun dengan kondisi tubuh yang prima, tim Uruguay adalah tim kelas dunia. Sementara Indonesia saja masih berusaha di tingkat Asia Tenggara,” ujar Riedl.

Salah satu kendala yang dihadapi para pemain timnas adalah kurangnya kebugaran. Ini bisa jadi akibat para pemain yang baru mengikuti dua pertandingan Liga Super Indonesia sehingga kebugaran tubuh belum sampai tahap puncak.

Peringkat ke-143

Menurut situs FIFA, Indonesia menempati peringkat ke-131, terpaut 12 peringkat dengan Maladewa yang menduduki ke-143. Meski demikian, Riedl mengaku tetap hati-hati karena Maladewa sudah berpengalaman dengan tim-tim di subkontinen Asia seperti India.

Pelatih Maladewa Ahmed Mauroof mengharapkan laga Indonesia-Maladewa akan menjadi pengalaman berharga bagi tim tersebut. Sabtu (9/10), Maladewa berhasil memukul Persib U-21 dengan skor 3-1.

Selain Maladewa, tim Indonesia juga berencana untuk berlatih tanding dengan dua sampai tiga tim luar negeri, seperti Paraguay atau Hongkong. Menurut rencana, pertandingan persahabatan itu bakal digelar pada November mendatang. (eld)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau