Bencana banjir

Menhut: Hentikan Kontroversi Wasior!

Kompas.com - 14/10/2010, 17:41 WIB

MANOKWARI, KOMPAS.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan meminta berbagai pihak untuk menghentikan kontroversi penyebab terjadinya bencana banjir di Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Pasalnya, penyebabnya sudah jelas, yaitu akibat curah hujan dengan volume air yang cukup tinggi.

Hal itu ditegaskan Zulkilfi untuk memperkuat pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya yang membantah adanya pembalakan liar. Penegasan disampaikan Menhut di kamar Hotel Swiss Bell Manokwari, Kamis (14/10/2010) petang, tempat rombongan Presiden SBY menginap.

Menhut menegaskan hal itu setelah ia bersama Staf Khusus Presiden Bidang Lingkungan Hidup Agus Purnomo melakukan pemantauan melalui udara di sekitar pegunungan di Distrik Wasior, Kamis siang.

"Hentikan kontroversi penyebab bencana Wasior, karena sudah jelas penyebabnya adalah curah hujan yang cukup tinggi selama 6 hari secara terus menerus di kawasan tersebut," tandasnya.

Dalam pemantauan selama 1 jam melalui udara, Menhut tidak menemukan adanya kerusakan hutan akibat pembalakan liar dan tidak ada aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan hutan. "Yang kami temukan justru lebih dari 20 titik longsoran yang menyebabkan munculnya semacam bendungan sehingga saat terjadi hujan terus menerus dan volume air sangat tinggi, bendungan tersebut akhirnya jebol dan airnya menerjang pemukiman di bawahnya," jelas Zulkifli.

Ditambahkan Menhut, yang dalam keterangan pers didampingi Agus, bukti adanya semacam bendungan di daerah aliran sungai (DAS) Mangrai Pegunungan Wasior yaitu batang-batang pohon yang tercerabut sampai akarnya dan kulitnya mengelupas.

"Itu membuktikan bahwa kayu-kayu batangan pohon itu sudah terendam beberapa saat dalam semacam bendungan di DAS Mangrai yang sudah terendam air hujan," katanya.

Lebih jauh Menhut mengatakan, banjir bandang yang terjadi di Wasior mengingatkan pada banjir besar di Jember (Jatim) beberapa tahun lalu yang mengakibatkan longsor dan menimbulkan semacam bendungan dan bendungan tersebut akhirnya jebol. Itulah yang menyebabkan banjir bandang di Jember.

"Hanya bedanya, di Jember tidak ada batang kayu pohon yang tercerabut dengan akarnya yang terendam dalam bendungan yang terjadi akibat longsoran," ujar Menhut sambil menunjukkan gambar-gambar hasil analisisnya.

Sementara Agus menunjukkan foto-foto hasil pemotretan udara yang menunjukkan titik-titik longsoran di kawasan pegunungan Distrik Wasior.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau