Menjadi Teman Korban "Bullying"

Kompas.com - 17/10/2010, 03:59 WIB

Agustine Dwiputri psikolog

Pada tulisan saya sebelumnya, telah dibahas mengenai arti bullying, dampak bagi korban, dan beberapa tips pemberdayaan individual bagi korban. Agar pembahasan tentang bullying dapat lebih menyeluruh, kali ini saya akan fokus pada hal yang membicarakan mengapa seseorang ingin mem-bully teman lain dan bagaimana kita sebagai teman juga dapat berpartisipasi membantu korban.

Alasan menyakiti orang lain

Pasti ada penyebabnya, mengapa seseorang tidak senang dengan keadaan orang lain yang tampak tenang dan nyaman. Ia senantiasa ingin mengganggu atau menyakiti orang lain.

Menurut Patti Criswell (2009) dalam bukunya, Stand up for Yourself and Your Friends”, ada banyak alasan, mungkin dia kesepian, sedih, marah, memiliki masalah yang tak dapat diselesaikan, mengalami penindasan di rumah, ingin diperhatikan, tidak terlalu percaya diri, punya pengalaman diperlakukan buruk sebelumnya, tidak menyadari bahwa menyakiti hati orang adalah salah, mencoba untuk menyesuaikan diri, atau iri pada kebahagiaan orang lain.

Bisa juga dengan menyakiti orang lain, muncul perasaan hebat atau bangga meskipun sebenarnya hanya bersifat semu dan sementara. Pada umumnya, pelaku juga tidak merasa dirinya menjadi lebih baik, tapi justru merasa makin buruk setelah itu.

Teman baik untuk korban

Ketika kita melihat seorang teman diganggu atau disiksa oleh orang/sekelompok orang, kita dapat menentukan pilihan penting untuk bertindak. Kita dapat berdiri di dekatnya dan menonton saja, atau bisa juga ”berdiri” untuk orang tersebut.

Menurut Patti Criswell (2009), salah satu cara untuk menjadi teman atau pengamat (bystander) yang baik adalah berbicara dengan suara keras dan tegas untuk menunjukkan bahwa kita tidak setuju dengan pem-”bully” dan menginginkan dia untuk berhenti. Kita bisa mempraktikkan beberapa kata seperti ini: ”Tinggalkan saja dia”, ”Tindakan kalian ini bukan lelucon, kecuali semua orang jadi tertawa”, ”Eh itu gak benar lho”, ”Hentikan”.

Jika kita ”berdiri” untuknya, kita akan merasa hebat dan bisa menambahkan daftar orang yang akan membela jika kita suatu waktu membutuhkannya.

Menceritakan vs mengadu

Cara lain untuk menjadi pengamat yang baik adalah dengan melaporkan apa yang terjadi kepada orang dewasa lain. Tak perlu takut dianggap sebagai pengadu. Ada perbedaan besar antara menceritakan dan mengadu. Dengan mengetahui perbedaan ini, kita justru punya keberanian dan kepercayaan diri untuk melaporkan bullying yang kita saksikan.

Bila kita mengadu, maka kita mencoba untuk memburukkan seseorang. Jadi tujuannya bukan untuk membantu seseorang, tetapi untuk membuatnya berada dalam kesulitan. Sementara bila kita menceritakan suatu tindakan bullying, kita melaporkan perilaku yang menyakiti diri atau orang lain. Kita merasa bahwa laporan ini adalah sesuatu yang harus diketahui oleh orang lain, seperti guru atau orangtua dan kita tengah mencoba untuk membantu seseorang.

Kemungkinannya adalah bukan hanya kita yang tidak menyukai apa yang terjadi, jika kita berbicara, orang lain mungkin juga akan bicara hal yang sama.

Beberapa cara untuk melapor adalah:

- menemui konselor sekolah,

- mengirimkan surat/tulisan yang anonim kepada guru atau kepala sekolah,

- duduk bersama orangtua dan bersama-sama menuliskan surat atau e-mail,

- meminta orangtua untuk berbicara dengan para pimpinan sekolah tanpa kita (teman korban) ikut serta.

Dengan melaporkan tindakan bullying, kita memberi kesempatan kepada mereka yang bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu tentang hal itu.

Kepedulian sebagai sahabat

Lebih lanjut Patti Criswell (2009) memberikan beberapa tips agar kita dapat menunjukkan kepedulian dan keberpihakan sebagai sahabat pada korban, di antaranya:

1. Katakanlah apa yang Anda pikirkan, misalnya dengan ucapan: ”Mereka salah”, atau ”Mereka pengganggu”, ”Jangan dengarkan mereka” atau ”Bertahanlah”.

2. Mengiriminya tulisan yang menghibur dan mendukung, seperti ”Sepuluh hal yang saya sukai tentang mu”.

3. Bantu dia mengatasi masalah, misalnya dengan menawarkan untuk melaporkan bersama mengenai apa yang terjadi atau mendorong dia untuk berbicara dengan orang dewasa yang berwenang.

4. Membelanya, dengan meyakinkan dia bahwa Anda tidak akan pernah terlibat dalam gosip di belakang punggungnya.

5. Tetap berada di dekatnya, misalnya dengan memberikan dia pelukan atau duduk bersamanya saat makan siang. Hanya dengan merasakan bahwa Anda dekat akan bermakna banyak bagi dirinya.

6. Berikan dia waktu untuk ”istirahat”, misalnya dengan menceritakan sebuah lelucon atau membuat rencana untuk bersama di luar sekolah. Juga dengan tidak membuang waktu membicarakan hal-hal negatif di sekolah, tapi sebaliknya, fokus pada bersenang-senang.

Dengan mengambil posisi membantu atau membela korban, pasti ada risiko bahwa kita juga akan disalahkan oleh teman lain yang lebih senang menjadi penonton saja dari jauh atau bahkan akan dimusuhi dan dijadikan korban bullying berikutnya dari pelaku, yang mungkin tadinya bahkan merupakan sahabat kita.

Untuk itu, ada hal dalam persahabatan yang perlu kita renungkan, yaitu bahwa tidak semua persahabatan akan berlangsung seumur hidup. Bahkan, kalaupun ada itu sangat langka. Dengan berjalannya waktu, beberapa persahabatan kita akan diperdalam dan beberapa akan menyelinap pergi. Jangan takut untuk mengubah persahabatan karena hal ini juga memungkinkan kita untuk berubah dan berkembang sebagai pribadi.

Salam persahabatan!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau