Konser Perjalanan Spiritual Iwan Fals

Kompas.com - 18/10/2010, 11:04 WIB

ADI SUCIPTO KISSWARA

Virgiawan Listanto (49) yang lebih terkenal sebagai Iwan Fals, Rabu (13/10) malam, menggelar konser perjalanan spiritual bersama Ki Ageng Ganjur di Lapangan Sidayu, Kabupaten Gresik. Iwan mengawali aksinya untuk menggebrak panggung dengan lagu ”Sore Tugu Pancoran.”

Iwan mengingatkan agar masyarakat Indonesia lebih peduli kepada sesama. Dalam kesempatan itu juga dihimpun dana secara spontan untuk anak-anak sekolah korban lumpur Lapindo. Dia juga berharap pemerintah lebih peduli lagi pada nasib anak-anak yang kurang beruntung, dan masyarakat miskin dan masalah pengangguran.

”Jangan sampai ada Budi-Budi yang lain di negeri ini,” katanya merujuk pada lagu ”Sore Tugu Pancoran”.

Iwan mengetuk hati seluruh komponen bangsa ini untuk turut menyelamatkan Bumi dari tangan-tangan nakal. Satu di antaranya dengan menanam pohon untuk pelestarian lingkungan. Dia menyatakan betapa pentingnya menanam pohon karena pohon adalah untuk kehidupan. Pohon bisa memperkaya oksigen yang dibutuhkan manusia untuk bernapas. ”Bila pohon ditebangi, sama artinya membunuh kehidupan,” kata pria kelahiran 3 September 1961 itu.

Iwan menuturkan, sumber daya hutan seperti pohon-pohon yang ada di sekeliling manusia tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sosial masyarakat. ”Bangsa ini harus berkaca dari bencana banjir bandang di Wasior, serta rusaknya hutan di berbagai belahan bumi Nusantara yang memicu bencana di mana-mana. Es di kutub telah mencair, cuaca sudah tidak bisa diprediksi, dan pemanasan global menjadi isu di seluruh dunia,” tuturnya.

Gaya hidup

Iwan berharap menanam pohon bisa menjadi gaya hidup. Dengan menanam pohon berarti menyayangi diri sendiri, keluarga, dan anak cucu.

”Pohon jangan dipandang hanya sebelah mata. Itu merupakan nyawa kita untuk jangka panjang. Pohon menyumbangkan oksigen yang bisa memberikan kita kesejukan. Pohon juga untuk antisipasi bencana alam, seperti banjir atau tanah longsor,” tutur suami Rosanna itu.

Lontaran kata-kata Iwan itu diikuti tembang ”Pohon Kehidupan”, ”Tanam Siram”, dan ”Hutanku”. Ketika penonton ada yang saling melempar botol bekas minuman kemasan dan sandal, Iwan pun bersama Sastro Al Ngatawi dari kelompok musik Ki Ageng Ganjur melantunkan shalawat atau istighfar untuk menenangkannya. ”Kita ke sini kan maunya ngaji. Kalau ada yang bikin kacau, itu berarti mengganggu orang ngaji,” kata Sastro menenangkan penonton.

Misi dakwah

Konser kali ini turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Wakil Bupati Gresik Mohammad Qosim, dan mantan Bupati Gresik Robbach Ma'sum. Iwan bersama Ki Ageng Ganjur akan melakoni perjalanan spiritual, dakwah, dan musik religi di 50 kota di Tanah Air.

Sebelumnya, Rabu siang, Iwan berkunjung ke Pondok Pesantren Bumi Aswaja di Wonokerto, Kecamatan Dukun. Dia turut menanam 1.000 pohon di Madrasah Ibtidaiyah Wonokerto. Dia salut dengan keagamaan di Gresik yang masih kuat. ”Mungkin teladan dari Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim masih menjadi panutan kawula muda di sini,” ucapnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Bumi Aswaja, Irsyadul Ibad, menuturkan bahwa Iwan dan Ki Ganjur menyinggung fenomena kesenian yang mulai ditinggalkan pesantren. Kesenian di pesantren akan dihidupkan dengan misi utama untuk dakwah. Kesenian, khususnya musik, bukan saja untuk menghibur, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sarana pengajian.

Iwan dan Ki Ageng Ganjur ingin kembali menghidupkan pesantren sebagai pusat pengembangan seni dan budaya, selain untuk belajar agama. Upaya itu sekaligus menepis anggapan pondok pesantren menjadi sarang teroris.

Sastro Al Ngatawi memaparkan, kelompok musik Ki Ageng Ganjur bersama Iwan bukan sekadar untuk konser, tetapi lebih banyak untuk misi dakwah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau