Timur tengah

PM Irak Berkunjung ke Iran, Allawi Berang

Kompas.com - 19/10/2010, 03:48 WIB

Teheran, Senin - PM Irak Nouri Al Maliki, Senin (18/10), tiba di Teheran, Iran, dalam rangkaian lawatan ke sejumlah negara untuk mencari dukungan. Al Maliki menemui Presiden Suriah Bashar Assad di Damaskus pada Sabtu dan Raja Abdullah II di Amman pada Minggu lalu.

Pemimpin Koalisi Daftar Irak Iyad Allawi (saingan utama Al Maliki) dua pekan lalu juga mengadakan lawatan ke sejumlah negara, yang meliputi Mesir, Suriah, Kuwait, dan Arab Saudi.

Dua tokoh Irak ini sedang memperebutkan jabatan perdana menteri. Allawi dan Al Maliki memilih meminta dukungan regional. Perundingan internal di antara kekuatan-kekuatan politik di Irak selama ini gagal mencapai kesepakatan soal penentuan pejabat PM Irak mendatang meski pemilu legislatif negara itu telah berlalu tujuh bulan lalu.

Pemilu legislatif Irak pada 7 Maret lalu menghasilkan tiga kekuatan besar, yaitu Koalisi Daftar Irak pimpinan Iyad Allawi (91 kursi), Koalisi Negara Hukum pimpinan Nouri Al Maliki (89 kursi), dan Koalisi Nasional Irak pimpinan Ammar Hakim (70 kursi).

Harian Inggris, The Guardian, Senin (18/10), mengungkapkan, Iran berhasil memengaruhi perundingan di balik layar dengan sejumlah kekuatan politik regional agar Nouri Al Maliki bisa menjabat kembali sebagai PM.

Menurut harian itu, Iran telah melakukan pembicaraan rahasia dengan Suriah, Hezbollah, faksi-faksi Kurdi di Irak, dan sejumlah kekuatan politik Syiah.

Iran juga berhasil memecah barisan Koalisi Nasional Irak pimpinan Ammar Hakim. Koalisi Nasional Irak kini terpecah antara kubu Al Sadr pimpinan Moqtada Al Sadr yang mendukung Nouri Al Maliki dan Majelis Tinggi Islam pimpinan Ammar Hakim, pendukung Allawi.

Kekalahan AS

Harian itu mengatakan, keberhasilan Iran itu merupakan kekalahan strategis AS di Irak.

Dukungan besar kepada Al Maliki membuat berang Iyad Allawi, yang menuduh Iran menggoyang stabilitas di Irak dan Timur Tengah dengan melakukan manuver dalam politik di Irak.

Allawi memperingatkan politisi Irak yang meminta restu Iran. ”Saya tidak akan meminta restu Iran agar menyetujui saya sebagai PM Irak,” kata Allawi seraya meminta Iran keluar dari pentas politik Irak. Pemimpin Majelis Tinggi Islam Ammar Hakim juga menegaskan tidak akan bergabung dalam koalisi pemerintahan pimpinan Maliki.

Harian Asharq Al Awsat, Senin, mengutip salah seorang juru bicara Koalisi Daftar Irak, Maeson Al Damlouji, mengungkapkan, Koalisi Daftar Irak pimpinan Iyad Allawi siap berunding untuk memberi jabatan presiden Irak kepada Iyad Allawi dan jabatan PM dipangku Nouri Al Maliki.

Namun, Damlouji memberi syarat harus menambah wewenang di bidang keamanan dan ekonomi kepada presiden Irak mendatang. Presiden Irak selama ini hanya jabatan simbolis. Perdana menteri mempunyai wewenang sangat luas.

Irak adalah negara yang terpecah ke dalam berbagai kelompok. (ap/bbc/mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau