Mutilasi

Kelamin dan Lutut Karyadi Belum Ketemu

Kompas.com - 20/10/2010, 02:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur sudah menahan Muryani, tersangka mutilasi terhadap suaminya, Karyadi (53).

Ia dikenakan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus dibereskan jajaran Polres Metro Jaktim.

Sambil menunggu tes Deoxyribonucleic acid (DNA), muncul dugaan bahwa 10 potongan tubuh yang selama ini ditemukan adalah satu tubuh yang sama.

"Jika benar itu tubuh yang sama, kami menilai ada tiga potongan yang belum didapatkan. Ketiganya adalah bagian badan, alat kelamin dan sepasang lutut," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jaktim, Kompol Nicolas A Lilipaly di ruang kerjanya, Selasa (19/10/2010) tengah malam.

Sebelumnya, sepanjang Rabu (13/10/2010), lima potongan tubuh ditemukan di empat lokasi terpisah di Kramatjati dan Ciracas, Jakarta Timur. Kepala Polres Jakarta Timur Komisaris Besar Saidal Mursalin saat itu menduga korban dibunuh lebih dari satu hari sebelumnya dan berusia 35-40 tahun.

Penemuan itu berawal dari sebuah batok kepala yang ditemukan petugas pintu air Kali Baru, RT 6 RW 1, Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramatjati, pada pukul 06.30 WIB.

Tidak lama setelah penemuan kepala di Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramatjati, seorang tukang ojek menemukan sepotong paha manusia pukul 08.15 WIB di jembatan H Simi, RT 4 RW 15, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati.

Seusai penemuan sepotong paha, lagi-lagi ditemukan potongan lengan kiri di Pintu Air Cililitan Kali Baru, RT 1 RW 15, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati pukul 10.30.

Diduga masih ada potongan badan manusia lain yang masih ada di sepanjang aliran Kali Baru karena petugas sempat membuka pintu air.

Masih pada hari yang sama, Deden Ruhiyat, seorang pemulung menemukan dua bagian tubuh manusia di bak truk sampah di Jalan Makmur RT 9 RW 2 Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas.

Pemulung sebenarnya menemukannya pukul 08.00 WIB, tapi baru melaporkan ke Ketua RT, Jumadi, pukul 16.00 WIB. Lalu, keesokan harinya (14/10/2010) pukul 14.00, pemulung lainnya, Kirno, menemukan bokong tanpa alat kelamin di jembatan H Simi, Kali Baru dekat PGC, Jakarta Timur.

Lokasi itu sama dengan penemuan paha. Petugas Pintu Air Cililitan kembali menemukan potongan tubuh korban mutilasi, Jumat (15/10/2010), sekitar pukul 09.00. Temuan kali ini berupa potongan tangan dan kaki kiri.

Keesokan harinya, warga kembali menemukan potongan tubuh korban mutilasi, Sabtu (16/10/2010), sekitar pukul 06.25 WIB. Potongan tubuh ke-9 ini, berupa kaki kanan, ditemukan warga di lokasi sama seperti penemuan sebelumnya.

Kemudian pada pukul 10.20 WIB, potongan terakhir ditemukan, yakni tangan kanan, di dekat Kalibaru depan Polsek Ciracas yang akan masuk ke Polsek Kramatjati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau