Belasan Mahasiswa Blitar Kecam Rezim SBY

Kompas.com - 21/10/2010, 00:08 WIB

BLITAR, KOMPAS.com - Unjuk rasa terkait setahun pemerintahan rezim Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono juga terjadi di Blitar, Jawa Timur, Rabu (20/10/2010), meskipun daerah itu dikenal punya ikatan dengan SBY dan Boediono.

Lazim diketahui, ibunda SBY lama sekali tinggal di Jl Bali, Blitar sejak bercerai dengan suaminya di Pacitan, hingga menjelang Pemilu 2004 lalu. Sedangkan Boediono memang lahir dan besar di Blitar, sebagaimana Presiden Sukarno menjalani masa kecil hingga remaja di Blitar.

Namun, jumlah pengunjuk rasa di kota kecil itu tak semassif di kota-kota lain. Ia hanya diikuti belasan mahasiswa.

"Perekonomian nasional lebih banyak dikuasai pihak asing, seperti tambang, minyak dan gas, perbankan, hingga industri jasa maupun pasar modal. Belum tampak keberhasilan pemerintah menangani negeri ini," ujar koordinator aksi, Sujiono, di Blitar.

Ia menilai, kabinet Indonesia Bersatu ini telah gagal mengemban amanat rakyat. Terbukti, selama satu tahun kepemimpinan SBY-Boediono, belum tampak kemajuan apapun. Bahkan, mereka menilai Indonesia tampak mundur saat ini.

"Bukan kemajuan yang tampak, melainkan kemunduran. Ini sungguh ironis sekali," ujarnya.

Kegiatan ini dilakukan di perempatan dekat Apotek Lovi, sekitar 1 Km di selatan makam Bung Karno, Kota Blitar. Mahasiswa membawa berbagai macam poster yang isinya kecaman pemerintahan SBY-Boediono.

Selain membawa berbagai macam spanduk yang isinya kecaman, mereka juga membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan di sepanjang jalur tersebut.

Dalam orasinya, mereka juga menuntut pasangan duet SBY-Boediono mundur dari jabatannya, karena dinilai lebih berpihak pada asing.

Massa juga menggalang tanda tangan lewat kain yang digelar di perempatan tersebut. Aksi itu sebagai bentuk ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah yang dinilai cenderung berpandangan neoliberal.

Aksi itu juga sempat memacetkan arus lalu lintas antarkota. Jalur itu adalah jalur utama untuk melintas ke beberapa instansi, mengingat jalur itu hanya satu arah.

Praktis, dengan kondisi itu, arus lalu lintas menjadi terganggu. Polisi terpaksa turun, agar para pengguna jalan dapat melanjutkan perjalanan, mencegah kemacetan.

Massa akhirnya membubarkan diri setelah melakukan orasi dan pengumpulan tanda tangan. Seluruh tanda tangan itu rencananya akan dikirimkan ke pemerintah, sebagai wujud apresiasi ketidakpercayaan masyarakat akan kinerja pemerintah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau