Anomali cuaca

Banjir di Pati Datang Lebih Awal

Kompas.com - 22/10/2010, 04:16 WIB

PATI, KOMPAS - Perubahan cuaca sebagai dampak fenomena La Nina menyebabkan banjir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, datang lebih awal. Banjir tahunan yang biasanya terjadi Desember-Februari, tahun ini terjadi pada pekan ketiga Oktober.

Pada Senin (18/10) dini hari, misalnya, terjadi banjir bandang di Kecamatan Kayen. Sehari kemudian terjadi banjir akibat luapan Sungai Juwana di Kecamatan Gabus. Sementara pada hari Rabu banjir akibat luapan Sungai Juwana II melanda Kecamatan Sukolilo.

Banjir bandang dan luapan sungai tersebut terjadi akibat hujan deras sejak Minggu lalu di Kabupaten Pati, terutama di kawasan Pegunungan Kendeng Utara. Sungai yang semakin dangkal tidak dapat menampung air hujan.

Rumaji, Kepala Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, kemarin mengatakan, banjir mengakibatkan benih padi dan padi usia sekitar satu bulan tergenang. Luas lahan pertanian yang tergenang 186 hektar. ”Jika tidak lekas surut, bakal merugikan petani rata-rata Rp 2 juta per hektar,” katanya.

Luapan Sungai Juwana II tak hanya menggenangi lahan pertanian, tetapi juga jalan dan halaman rumah sejumlah warga di Desa Kasiyan setinggi 20-50 sentimeter. Jika hujan terus-menerus terjadi, permukiman warga berpotensi kemasukan air.

”Genangan di Desa Kasiyan biasanya bertahan lama, sekitar satu bulan. Pasalnya, Desa Kasiyan berada di daerah cekungan,” ujar Rumaji.

Di Desa Gadudero yang berbatasan dengan Desa Kasiyan, banjir merendam 12 hektar tanaman tembakau dan 50 hektar sawah. Sulkan (60), petani tembakau, mengatakan, genangan air sejak Rabu lalu mengakibatkan tanaman tembakau layu dan tidak dapat dipanen lagi. Kerugian mencapai Rp 50 juta per hektar.

Mengadu ke DPRD

Banjir yang selalu menggenangi sawah setiap kali hujan deras mendorong 25 petani dari Desa Denasih Wetan, Denasih Kulon, Karangasem Utara, dan Desa Kasepuhan di Kabupaten Batang mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jateng. Kemarin mereka diterima anggota DPRD, Adi Rustanto (F-PDIP), Wasiman (Partai Demokrat), serta Kepala Bidang Pemerintahan dan Kependudukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jateng Beny Pardjianto.

”Kami melaporkan lahan sawah yang sudah setahun terakhir ini kebanjiran terus dan menyebabkan petani tidak bisa menanam padi. Lahan yang tidak bisa ditanami di empat desa kami mencapai 200 hektar,” ujar Slamet Jasmadi, ketua kelompok tani asal Desa Denasih Kulon.

Di Desa Denasih Kulon, menurut Slamet, ada 68 hektar lahan yang kebanjiran terus akibat luapan Sungai Gabus. Pintu air penahan air laut di sungai itu jebol sejak dua tahun lalu. Apabila tidak banjir, produksi padi bisa mencapai 5 ton per hektar atau menghasilkan minimal Rp 7,5 juta per hektar.

”Kami mengadu ke DPRD agar dibantu dalam pembangunan kembali pintu air maupun tanggul sungai yang jebol,” ujar Matpurnomo, ketua kelompok tani di Desa Denasih Wetan.

Beni Pardjianto menjanjikan, masalah tersebut akan dibahas pihaknya dan dicarikan solusinya. (WHO/HEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau