Singapura Keluhkan Asap

Kompas.com - 23/10/2010, 04:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Jumat (22/10), membenarkan menerima telepon dari rekan sejawatnya, Menlu Singapura George Yeo, terkait maraknya kabut asap dari Sumatera belakangan ini. Namun, pembicaraan semacam itu dinilainya merupakan hal biasa.

Pada Kamis (21/10) pukul 22.00, udara di Singapura sempat masuk kategori tidak sehat. Menurut Sekretaris Ketiga Fungsi Penerangan Sosial Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Singapura Hanung Nugraha, National Environment Agencies (NEA) mencatat Pollutant Standard Index (PSI) atau indeks standar polutan di Singapura malam itu tercatat 108 atau masuk kategori tidak sehat.

Namun, kemarin PSI berangsur-angsur turun, setidaknya hingga pukul 13.00 sudah 90, masuk kategori moderat. PSI tergolong tidak sehat jika sudah di atas 101 sampai dengan 200. Sementara 200 sampai dengan 300 tergolong sangat tidak sehat. Di atas 300, termasuk berbahaya.

Sebagaimana diberitakan, dampak asap kebakaran hutan dari sejumlah titik api di beberapa tempat di Sumatera dirasakan berdampak buruk oleh dua negara tetangga Indonesia, Singapura dan Malaysia. Otoritas pendidikan di Johor Baru, Malaysia, bahkan memutuskan menutup sementara waktu 200 sekolah. Pemerintah Malaysia juga membagikan masker kepada warganya.

Mengenai telepon dari pihak Singapura, Marty kemarin di Jakarta memaparkan, Perdana Menteri Singapura menyampaikan kepeduliannya atas perkembangan yang terjadi dalam kasus asap kebakaran hutan itu. ”Namun, perlu juga diingat, dampak asap tak hanya dirasakan Singapura atau Malaysia, tetapi juga oleh Indonesia sendiri,” ujarnya.

Marty juga mengingatkan, dalam tiga-empat tahun terakhir persoalan asap akibat kebakaran hutan Indonesia sempat tidak lagi muncul atau menjadi masalah. Kasus polusi asap terparah akibat kebakaran hutan, diakui, pernah terjadi tahun 2006-2007.

Marty mengklaim, itu sebagai bukti bahwa Pemerintah Indonesia berupaya keras dan sukses mencegah praktik pembakaran hutan dalam rangka membuka lahan perkebunan. Meski demikian, dia mengakui, upaya keras tadi tidak hanya dilakukan pihak Indonesia, tetapi juga negara-negara di seputar kawasan melalui kerja sama.

Menteri lingkungan

Tak hanya Marty yang menerima telepon. Pada Kamis malam lalu Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Singapura Yaacob Ibrahim juga mengontak rekan sejawatnya, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, guna membicarakan hal serupa.

Kemarin Gusti mengatakan, asap yang mencemari Singapura itu merupakan asap kebakaran hutan di Bengkalis, Riau. ”Singapura berharap polusi asap dari Indonesia tidak semakin parah.”

”Di Singapura, melampaui (baku mutu) sedikit saja, sudah ribut. Kalau di Indonesia sudah terbiasa, jadi tidak terlalu ribut. Ia (Singapura) meminta Pemerintah Indonesia mengintensifkan pemadaman kebakaran hutan. Tim sudah ada di sana dan kami sudah koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengintensifkan pemadaman, juga mencegah kebakaran di daerah lain,” kata Gusti.

Kemarin asap juga menyelimuti Batam di Kepulauan Riau. Namun, kabut asap yang tampak tipis di udara tidak sampai mengganggu aktivitas warga dan jadwal penerbangan di Bandar Udara Hang Nadin, Batam.

Sementara dari Pekanbaru, Riau, dilaporkan, meski hujan mulai turun di beberapa wilayah Riau pada Kamis malam dan titik api menunjukkan penurunan, tingkat penyulutan api di bagian tengah Pulau Sumatera itu masih dalam kategori ekstrem. Dengan kondisi seperti ini, puntung rokok sudah mampu menyebabkan timbulnya kebakaran lahan.

”Jika dalam dua atau tiga hari ke depan hujan tidak juga turun di wilayah Riau, peningkatan kualitas dan kuantitas kebakaran hutan dan lahan akan bertambah. Suhu udara cenderung meningkat karena dipengaruhi badai tropis Megi,” kata Marzuki, Staf Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Riau.

Ia menambahkan, arah angin bergerak dari selatan ke utara dan timur laut. Kondisi itu menyebabkan asap terbawa ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Ditambah lagi besarnya jumlah titik api pada 16-18 Oktober, yang mencapai 300-an titik. Ini membuat akumulasi asap semakin besar dan menimbulkan masalah di negeri tetangga.

”Sebenarnya asap bukan hanya dari Riau karena angin dari Jambi, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan juga mengarah ke Singapura,” ujar Marzuki.

(DWA/ROW/LAS/SAH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau