Nina Susilo
Orang dengan HIV/AIDS menghadapi masalah besar. Selain mengalami tekanan biologis dan psikologis, pasien biasanya juga tertekan secara psikososial. Karenanya, penanganan pasien HIV/AIDS harus dilakukan secara holistik. Virus jelas mengganggu fungsi tubuh sehingga membuat panik dan takut ketika dinyatakan terinfeksi.
Kondisi pasien makin parah ketika masyarakat dan keluarga memberi stigma serta mendiskriminasi pasien," tutur Prof dr Nasronudin yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Sabtu (23/10).
Dalam pengukuhan ini, Nasronudin menyampaikan orasi berjudul Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia Berbasis Biopsikososio-Spiritual Excellence.
Masalah berat pasien HIV/AIDS dipahami Nasronudin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Institut of Tropical Disease (ITD) Unair. Untuk itu, penanganan pasien HIV/AIDS tidak hanya memerlukan perawatan yang komprehensif dan berkesinambungan dari dokter, diperlukan juga dukungan keluarga dan masyarakat. Dokter tidak bisa sekadar mengobati, tetapi juga merawat dengan hati.
Kenyataannya, penyebaran HIV/AIDS sangat pesat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 58 juta jiwa terinfeksi HIV dan 22 juta jiwa di antaranya meninggal karena AIDS pada tahun 2000. Setiap hari 7.000 orang meninggal karena AIDS, sementara 16.000 orang di berbagai belahan dunia baru terinfeksi .
Di Indonesia, pada Juni 2010 sudah terdapat 21.770 kasus. Pertambahan ini sangat pesat. Dalam catatan Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS pada tahun 2004 masih 2.684. Lima tahun kemudian, jumlah itu meningkat menjadi 17.699 orang.
Menyadari penularan HIV/AIDS sangat pesat dan masalah yang dihadapi pasien sangat berat, Nasronudin menginisiasi unit pelayanan khusus terpadu pada tahun 2004. ”Tantangannya luar biasa besar ketika merintis UPIPI (Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi). Kesannya pasien HIV/AIDS akan disendirikan dan didiskriminasi. Setelah diketahui pelayanan yang diberikan kelas 1 dengan tarif kelas 3, UPIPI diterima dan bermanfaat,” kata ayah tiga anak itu.
Kini, pasien HIV/AIDS mendapat layanan terpadu di UPIPI. Dokter spesialis syaraf, spesialis kejiwaan, spesialis penyakit dalam, spesialis paru, jantung, dan obstetri ginekologi siap membantu. Bahkan, biasanya terdapat pula pemuka agama untuk memberi konsultasi spiritual dan menguatkan hati pasien.
Perangkat laboratorium ITD untuk memeriksa virus HIV/AIDS , kata Nasronudin, kini semakin lengkap. Tahun ini ITD memiliki nucli-sens yang mampu mendeteksi virus HIV yang masih 15 kopi dalam darah atau sekitar 4-11 hari setelah terpapar. Kebanyakan, alat deteksi virus HIV baru mampu memantau keberadaan virus ketika sudah mencapai 400.000 kopi atau 3 minggu hingga 3 bulan setelah terpapar.
Semakin dini terdeteksi, pengobatan bisa segera dilakukan. Selain itu, nucli-sens yang diimpor dari Perancis ini diuji untuk memisahkan virus HIV dari sperma pasien.
Bila ini bisa dilakukan, kata dia, pasien HIV/AIDS lelaki bisa memiliki keturunan dengan sistem bayi tabung tanpa khawatir menularkan pada istri maupun anak.
Semangat Nasronudin untuk memberikan sesuatu pada sesamanya dibentuk sejak kecil. Lahir dan tumbuh di Desa Kaponan, Kecamatan Blarak, Ponorogo, sejak kecil Nasronudin akrab dengan kehidupan petani dan kerap membantu mencari rumput.
Lulus sekolah dasar, orangtuanya yang menjabat sebagai sekretaris desa menyekolahkan Nasronudin ke SMP Negeri 1 Ponorogo. Harus berpisah dari orangtua dan hanya dibekali beras, Nasronudin remaja belajar mandiri. Karena cerdas, ia memiliki banyak teman.
Dia kemudian kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Ketika itu, ia diterima di jurusan teknik sipil dan kedokteran. ”Ayah saya menyuruh sekolah dokter supaya bisa membantu orang lain. Jadi saya memilih FK,” ujarnya.
Keinginan melanjutkan
Supaya tidak dimusuhi, Nasronudin mendekati para dukun dan meminta agar diizinkanmembantu bila pasien belum sembuh.
Pendekatan ini berhasil. Dukun tidak merasa terancam dan masyarakat sedikit-sedikit memahami manfaat dokter.
***
Prof Dr Nasronudin dr, SpPD, K-PTI, FINASIM
- 1991-1996 Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam FK Universitas Airlangga