Nasronudin

Pendekatan Holistik Pasien HIV/AIDS

Kompas.com - 25/10/2010, 08:35 WIB

Nina Susilo

Orang dengan HIV/AIDS menghadapi masalah besar. Selain mengalami tekanan biologis dan psikologis, pasien biasanya juga tertekan secara psikososial. Karenanya, penanganan pasien HIV/AIDS harus dilakukan secara holistik. Virus jelas mengganggu fungsi tubuh sehingga membuat panik dan takut ketika dinyatakan terinfeksi.

Kondisi pasien makin parah ketika masyarakat dan keluarga memberi stigma serta mendiskriminasi pasien," tutur Prof dr Nasronudin yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Sabtu (23/10).

Dalam pengukuhan ini, Nasronudin menyampaikan orasi berjudul Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia Berbasis Biopsikososio-Spiritual Excellence.

Masalah berat pasien HIV/AIDS dipahami Nasronudin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Institut of Tropical Disease (ITD) Unair. Untuk itu, penanganan pasien HIV/AIDS tidak hanya memerlukan perawatan yang komprehensif dan berkesinambungan dari dokter, diperlukan juga dukungan keluarga dan masyarakat. Dokter tidak bisa sekadar mengobati, tetapi juga merawat dengan hati.

Kenyataannya, penyebaran HIV/AIDS sangat pesat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 58 juta jiwa terinfeksi HIV dan 22 juta jiwa di antaranya meninggal karena AIDS pada tahun 2000. Setiap hari 7.000 orang meninggal karena AIDS, sementara 16.000 orang di berbagai belahan dunia baru terinfeksi .

Di Indonesia, pada Juni 2010 sudah terdapat 21.770 kasus. Pertambahan ini sangat pesat. Dalam catatan Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS pada tahun 2004 masih 2.684. Lima tahun kemudian, jumlah itu meningkat menjadi 17.699 orang.

Unit perawatan

Menyadari penularan HIV/AIDS sangat pesat dan masalah yang dihadapi pasien sangat berat, Nasronudin menginisiasi unit pelayanan khusus terpadu pada tahun 2004. ”Tantangannya luar biasa besar ketika merintis UPIPI (Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi). Kesannya pasien HIV/AIDS akan disendirikan dan didiskriminasi. Setelah diketahui pelayanan yang diberikan kelas 1 dengan tarif kelas 3, UPIPI diterima dan bermanfaat,” kata ayah tiga anak itu.

Kini, pasien HIV/AIDS mendapat layanan terpadu di UPIPI. Dokter spesialis syaraf, spesialis kejiwaan, spesialis penyakit dalam, spesialis paru, jantung, dan obstetri ginekologi siap membantu. Bahkan, biasanya terdapat pula pemuka agama untuk memberi konsultasi spiritual dan menguatkan hati pasien.

Perangkat laboratorium ITD untuk memeriksa virus HIV/AIDS , kata Nasronudin, kini semakin lengkap. Tahun ini ITD memiliki nucli-sens yang mampu mendeteksi virus HIV yang masih 15 kopi dalam darah atau sekitar 4-11 hari setelah terpapar. Kebanyakan, alat deteksi virus HIV baru mampu memantau keberadaan virus ketika sudah mencapai 400.000 kopi atau 3 minggu hingga 3 bulan setelah terpapar.

Semakin dini terdeteksi, pengobatan bisa segera dilakukan. Selain itu, nucli-sens yang diimpor dari Perancis ini diuji untuk memisahkan virus HIV dari sperma pasien.

Bila ini bisa dilakukan, kata dia, pasien HIV/AIDS lelaki bisa memiliki keturunan dengan sistem bayi tabung tanpa khawatir menularkan pada istri maupun anak.

Dari desa

Semangat Nasronudin untuk memberikan sesuatu pada sesamanya dibentuk sejak kecil. Lahir dan tumbuh di Desa Kaponan, Kecamatan Blarak, Ponorogo, sejak kecil Nasronudin akrab dengan kehidupan petani dan kerap membantu mencari rumput.

Lulus sekolah dasar, orangtuanya yang menjabat sebagai sekretaris desa menyekolahkan Nasronudin ke SMP Negeri 1 Ponorogo. Harus berpisah dari orangtua dan hanya dibekali beras, Nasronudin remaja belajar mandiri. Karena cerdas, ia memiliki banyak teman.

Dia kemudian kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Ketika itu, ia diterima di jurusan teknik sipil dan kedokteran. ”Ayah saya menyuruh sekolah dokter supaya bisa membantu orang lain. Jadi saya memilih FK,” ujarnya.

Keinginan melanjutkan pendidikan spesialis membuat Nasronudin memilih menjalani tugas daerah di Natuna, Kepulauan Riau. Masyarakat Natuna tahun 1980-an masih terbiasa ke dukun untuk mengobati penyakit sehingga dukun menganggap dokter sebagai musuh.

Supaya tidak dimusuhi, Nasronudin mendekati para dukun dan meminta agar diizinkanmembantu bila pasien belum sembuh.

Pendekatan ini berhasil. Dukun tidak merasa terancam dan masyarakat sedikit-sedikit memahami manfaat dokter.


***


Prof Dr Nasronudin dr, SpPD, K-PTI, FINASIM

• Lahir: Ponorogo, 3 November 1956

• Istri: Wahyu Dwi Astuti

• Anak: 
- Brian Eka Rachman dr, 
- Bimo Dwi Lukito SKed, 
- Deby Tri Siswita

• Pendidikan: 
- SD Ponorogo 1964-1970 
- SMP 1 Ponorogo 1970-1973 
- SMAN 1 Ponorogo 1973-1976
- 1977-1983 Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Brawija
- 1991-1996 Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam FK Universitas Airlangga 
- 2002-2005 Pendidikan S-3 Ilmu Kedokteran Program Doktor Pascasarjana Unair 

• Pekerjaan: 
- 1984-1985 RSUP Pekanbaru, Riau 
- 1985-1986 RSU Tanjung Pinang, Kepulauan Riau 
- 1986-1988 Puskesmas Sedanau, Natuna, Kepulauan Riau 
- 1988-1991 Puskesmas Dabo Singkep, Kepulauan Riau 
- 1999-sekarang Staf Subbagian Tropik Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FK Unair-RSU Dr Soetomo Surabaya 
- 2004-2009 Kepala Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) FK Unair-RSU Dr Soetomo Surabaya 
- 2008-sekarang Ketua Institute of Tropical Disease (ITD) Unair 

• Publikasi: 
- HIV&AIDS, Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Sosial; Airlangga University Press, 2007

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau