KUDUS, KOMPAS.com - Sekurangnya 200-an hektar sawah di Desa Undan Tengah, Kudus, Jawa Tengah, sejak sepekan terakhir kebanjiran menyusul tingginya curah hujan.
Menurut Kepala Desa Undaan Tengah Akrab, di Kudus, Senin (25/10/2010) sebagian sawah yang kebanjiran ini baru disemai padi dengan usia tanam sekitar 23 hari.
"Sebagian petani ada yang melakukan persemaian hingga dua kali, mengingat banjir sebelumnya berlangsung cukup lama, sehingga membuat persemaian tanaman padinya mati," ujarnya.
Padahal, kegagalan dalam melakukan persemaian cukup merugikan petani, karena terlanjur mengeluarkan biaya hingga Rp 600 ribuan per hektare, termasuk biaya benih hingga upah pekerja.
Selain persemaian tanaman padi petani, katanya, bajir juga melanda tanaman padi petani yang sudah berumur satu bulan dengan luas sekitar 25 persen dari 200 hektare sawah yang terkena banjir.
"Petani cukup khawatir, jika genangan banjir ini tidak segera surut akan membuat tanaman padi petani puso, termasuk yang baru melakukan persemaian," ujarnya.
Adapun luas areal tanaman padi yang ada di Desa Undaan Tengah mencapai 536 hektare.
Diduga, penyebab banjir tidak hanya karena curah hujan yang tinggi, melainkan debit air Sungai Juwana yang meningkat juga menjadi penyebab utamanya, karena saluran pembuang dari areal persawahan petani ke Sungai Juwana tidak lancar, sehingga menggenang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, masyarakat di Kecamatan Undaan akan melakukan kerja bakti membersihkan Sungai Juwana yang dipusatkan di wilayah Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.
"Sebelumnya, kepala desa se-Kecamatan Undaan bersama pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) akan menggelar rapat koordinasi terkait rencana tersebut, sekaligus mencari solusi agar banjir tidak melanda kawasan tersebut maupun daerah lainnya," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang