Sinyal KRL Sering Hilang dari Pantauan

Kompas.com - 27/10/2010, 03:54 WIB

Depok, Kompas - Sinyal kereta rel listrik tiba-tiba menghilang di meja pantauan Stasiun Depok Lama. Petugas stasiun tidak dapat memantau posisi KRL selama dalam perjalanan. Akibatnya, terjadi gangguan perjalanan KRL dari Stasiun Universitas Indonesia sampai Stasiun Depok Lama.

Seluruh jaringan komputer yang mendeteksi keberadaan KRL menunjukkan tanda warna merah, tanda ada persoalan sinyal. Petugas stasiun terpaksa mengubah pola keberangkatan KRL sehingga berjalan secara manual.

Selama terjadi gangguan, ada 13 jadwal kedatangan dan keberangkatan KRL yang terlambat. Keterlambatan yang terjadi rata-rata 40 menit.

”Gangguan sinyal terjadi sejak pukul 16.00 sampai pukul 17.10. Kemungkinan gangguan ini disebabkan tegangan listrik yang terlalu rendah,” tutur Kepala Stasiun Depok Lama Rochman, Selasa (26/10) di Depok, Jawa Barat.

Menurut Rochman, gangguan persinyalan dapat berdampak serius pada keselamatan perjalanan KRL karena posisi kereta tidak terpantau di layar monitor stasiun. Selama gangguan sinyal, pantauan keberadaan sinyal hanya dapat dilakukan melalui sambungan telepon seluler.

Gangguan sinyal juga memperlambat perjalanan KRL dari Stasiun Universitas Indonesia menuju Stasiun Depok Lama. Pada saat normal, KRL dapat berangkat beriringan setelah KRL sebelumnya berangkat melewati satu blok. Panjang blok ini 1-1,5 kilometer. Sementara pada saat gangguan, KRL baru dapat berangkat ketika KRL sebelumnya sampai ke stasiun tujuan.

”Gangguan keberangkatan dan kedatangan KRL paling banyak terjadi dari arah Jakarta menuju Bogor, sebanyak tujuh KRL. Sedangkan dari arah Bogor ke Jakarta ada enam KRL yang terganggu jadwalnya,” tutur Rochman.

Cuaca buruk

Gangguan sinyal sebelumnya pernah diungkapkan oleh Agus Nurrohman (52), masinis KRL yang tinggal di Depok.

Menurut Agus, persinyalan sering terganggu ketika cuaca buruk seperti hujan lebat atau kena petir. Padahal, tanpa sinyal, perjalanan KRL sangat membahayakan keselamatan penumpang, terutama di setiap pintu perlintasan.

Agus sendiri melengkapi diri dengan peralatan handy talky (HT) yang dibelinya. Sayangnya, HT milik Agus sudah terlihat usang dan ketinggalan zaman, suaranya pun nyaris tidak terdengar lagi. Satu-satunya alat komunikasi di kereta yang dapat diandalkan adalah telepon seluler miliknya sendiri dengan pulsa yang dibeli dari uangnya sendiri.

Pendapat senada juga diungkapkan Kepala Stasiun Depok Baru Nasrudin. Menurut dia, sinyal memang sering terganggu ketika cuaca buruk. Saat terjadi gangguan, perjalanan KRL dari Stasiun Universitas Indonesia menuju Stasiun Depok Lama berjalan manual. Jika dalam kondisi sinyal KRL normal, dalam sekali perjalanan bisa lima KRL sekaligus. Namun demi keselamatan penumpang, perjalanan KRL dijalankan satu per satu. Setelah KRL dari Stasiun UI tiba di Stasiun Depok Lama, baru KRL berikutnya bisa diberangkatkan.

Masinis KRL Taufik meminta semua pihak yang berkepentingan dengan jaringan kereta memerhatikan kelengkapan fasilitas KRL. Gangguan sinyal seperti yang terjadi kemarin sore membuatnya waswas.

Karena itu, dia meminta PT Kereta Api Indonesia memperbarui peralatan yang sudah tidak layak pakai. ”Apalagi sekarang sering terjadi hujan petir, sebaiknya sinyal diperkuat di sepanjang jalur KRL,” kata Taufik.

Saat gangguan sinyal kemarin, Taufik ganti KRL 295 tujuan Depok-Stasiun Jakarta Kota dengan KRL 301, dari Depok ke Stasiun Tanah Abang. (NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau