Kemiskinan, Musuh Sekaligus Teman

Kompas.com - 28/10/2010, 02:56 WIB

MAMUJU, KOMPAS.com--Bupati Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat Drs Suhardi Duka, MM menyatakan kemiskinan yang masih terjadi di masyarakat bukan hanya sekedar musuh tetapi juga teman.

"Kemiskinan itu bukan musuh yang harus terus dilawan dengan cara ditekan tetapi dia juga harus menjadi teman yang harus diketahui dan dikenali," kata Bupati Suhardi Duka di Mamuju, Selasa.

Ia mengatakan, kemiskinan itu harus menjadi teman agar dapat dikenali apa yang menyebabkan kemiskinan itu dapat terjadi, kita semua harus mengetahui akar masalah yang menjadi pemicu kemiskinan itu.

Menurut dia, karena pemerintah di Mamuju telah lama berteman dengan kemiskinan maka kemiskinanpun dapat dikenali sehingga akan dilakukan upaya untuk menekannya dengan memposisikan kemiskinan sebagai musuh bersama.

"Kemiskinan di Mamuju dipicu karena buruknya infrastruktur pembangunan di samping juga lemahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, serta karena kultur masyarakat yang malas," katanya.

Ia mengatakan, karena buruknya infrastruktur di Mamuju seperti jalan dan jembatan maka berdampak bagi bumi masyarakat misalnya kakao yang menjadi hasil pertanian andalan masyarakat Mamuju, karena harganya menjadi rendah.

"Harga kakao di Kota sekitar Rp20.000/kg namun di daerah terpencil yang jauh, harganya lebih rendah hanya sekitar Rp9.000/kg karena buruknya jalan yang menyulitkan distribusi kakao,"katanya.

Sedangkan  dampak kemiskinan yang diakibatkan lemahnya pendidikan dan rendahnya kesehatan adalah sumber daya manusia rendah dan derajat kesehatan masyarakat juga rendah, sehingga sulit untuk digunakan menjadi modal dasar pembangunan.

Menurut Bupati, kemiskinan karena kultur masyarakat yang malas membuat masyarakat menjadi tidak aktif dalam bekerja meningkatkan ekonomi dan kesejahteraannya.

Dia mengatakan, karena sebagian yang menjadi penyebab munculnya kemiskinan di Mamuju telah dapat dikenali karena menjadi teman, maka kemiskinan di Mamuju dapat ditekan dari tahun ketahun secara bertahap.

"Angka kemiskinan di Mamuju tahun 2005 semenjak saya memimpin Kabupaten ini sekitar 15,9 persen namun setelah lima tahun kemudian yakni 2010, kemiskinan menurun menjadi 8,1 persen," kata Suhardi yang sudah menjadi Bupati Mamuju untuk yang kedua kalinya ini.

Ia mengatakan, pemerintah di Mamuju terus berupaya memerangi kemiskinan karena pemerintah merasa sangat bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Saya sebagai pemimpin takut dosa jika sampai masyarakat Mamuju terus mengalami kemiskinan sehingga pemerintah dan masyarakat juga harus bersatu melawan kemiskinan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau