Aksi di Hari Sumpah Pemuda

Kompas.com - 29/10/2010, 03:24 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2010, di Surabaya diwarnai unjuk rasa pendukung dan penentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kelompok pendukung membagikan bunga mawar kepada pengendara dan pejalan kaki di Taman Bungkul. Kelompok penentang berdemonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi.

Pendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terdiri dari sukarelawan Indonesia Bisa Jatim. Sekretaris Indonesia Bisa Jatim Irham mengatakan, pemerintahan sekarang terbentuk berdasarkan pemilu sah dan demokratis. Mereka mendukung pemerintahan ini sampai masa kerjanya berakhir. ”Permintaan agar Presiden turun saat ini adalah cara tidak demokratis,” ujarnya.

Para sukarelawan membagi-bagikan bunga mawar kepada pengendara kendaraan bermotor dan pejalan kaki di depan Taman Bungkul, Jalan Raya Darmo, Surabaya.

Saat mereka membagikan bunga, terjadi antrean kendaraan di depan taman. Ini karena sebagian kendaraan dihentikan sukarelawan yang memberikan bunga kepada pengemudi.

Sementara di depan Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, terjadi beberapa gelombang unjuk rasa. Massa terdiri dari mahasiswa dan buruh. Rombongan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi datang membawa sejumlah poster dan piring.

Semua piring itu dibanting sebagai wujud kekecewaan mereka atas kegagalan pemerintah menyejahterakan rakyat.

Mereka juga melemparkan piring-piring tersebut ke poster di depan Gedung Negara Grahadi. Poster itu bergambar Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Gubernur Jatim Soekarwo- Wakil Gubernur Saifullah Yusuf.

Aksi pelemparan itu sebagai wujud protes mereka atas kinerja Presiden dan Gubernur yang dinilai tidak memuaskan masyarakat.

Polisi yang berjaga di sekitar Gedung Negara Grahadi membiarkan aksi mereka. Para pengunjuk rasa meninggalkan lokasi unjuk rasa dengan tertib setelah melempari poster. Aksi mereka juga tidak menimbulkan kemacetan panjang di jalan-jalan di sekitar Gedung Negara Grahadi.

Saling dorong

Sementara demonstrasi Aliansi Pemuda Pemudi Indonesia (APPI) diwarnai aksi saling dorong dengan polisi. Sebelum aksi saling dorong, APPI memblokade Jalan Gubernur Suryo. Polisi meminta pengunjuk rasa, terdiri dari buruh dan mahasiswa, menghentikan blokade.

Namun, massa bertahan di tengah jalan. Akhirnya, polisi memaksa mereka menepi agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Massa bertahan dan saling dorong dengan polisi.

Setelah terjadi ketegangan beberapa saat, massa beranjak ke pinggir jalan. Setelah orasi, massa dan polisi kembali saling dorong sebentar.

Sebelumnya mereka berdemonstrasi di depan Konsulat Jenderal Jepang. Unjuk rasa itu memprotes salah satu perusahaan Jepang di Jatim yang dinilai bertindak sewenang-wenang kepada pekerja. Namun, tidak disebutkan secara rinci bentuk kesewenang-wenangan itu.

Di Gedung Negara Grahadi, meraka memprotes biaya pendidikan yang mahal. Hal itu menyebabkan masyarakat kesulitan mendapat pendidikan, yang berujung pada kegagalan masyarakat miskin menaikkan derajat sosial dan ekonominya. ”Kami menuntut kapitalisasi pendidikan diakhiri,” ucap Fakhrudin, pengunjuk rasa. (RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau