Pendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terdiri dari sukarelawan Indonesia Bisa Jatim. Sekretaris Indonesia Bisa Jatim Irham mengatakan, pemerintahan sekarang terbentuk berdasarkan pemilu sah dan demokratis. Mereka mendukung pemerintahan ini sampai masa kerjanya berakhir. ”Permintaan agar Presiden turun saat ini adalah cara tidak demokratis,” ujarnya.
Para sukarelawan membagi-bagikan bunga mawar kepada pengendara kendaraan bermotor dan pejalan kaki di depan Taman Bungkul, Jalan Raya Darmo, Surabaya.
Saat mereka membagikan bunga, terjadi antrean kendaraan di depan taman. Ini karena sebagian kendaraan dihentikan sukarelawan yang memberikan bunga kepada pengemudi.
Sementara di depan Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, terjadi beberapa gelombang unjuk rasa. Massa terdiri dari mahasiswa dan buruh. Rombongan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi datang membawa sejumlah poster dan piring.
Semua piring itu dibanting sebagai wujud kekecewaan mereka atas kegagalan pemerintah menyejahterakan rakyat.
Mereka juga melemparkan piring-piring tersebut ke poster di depan Gedung Negara Grahadi. Poster itu bergambar Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Gubernur Jatim Soekarwo- Wakil Gubernur Saifullah Yusuf.
Aksi pelemparan itu sebagai wujud protes mereka atas kinerja Presiden dan Gubernur yang dinilai tidak memuaskan masyarakat.
Polisi yang berjaga di sekitar Gedung Negara Grahadi membiarkan aksi mereka. Para pengunjuk rasa meninggalkan lokasi unjuk rasa dengan tertib setelah melempari poster. Aksi mereka juga tidak menimbulkan kemacetan panjang di jalan-jalan di sekitar Gedung Negara Grahadi.
Sementara demonstrasi Aliansi Pemuda Pemudi Indonesia (APPI) diwarnai aksi saling dorong dengan polisi. Sebelum aksi saling dorong, APPI memblokade Jalan Gubernur Suryo. Polisi meminta pengunjuk rasa, terdiri dari buruh dan mahasiswa, menghentikan blokade.
Namun, massa bertahan di tengah jalan. Akhirnya, polisi memaksa mereka menepi agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Massa bertahan dan saling dorong dengan polisi.
Setelah terjadi ketegangan beberapa saat, massa beranjak ke pinggir jalan. Setelah orasi, massa dan polisi kembali saling dorong sebentar.
Sebelumnya mereka berdemonstrasi di depan Konsulat Jenderal Jepang. Unjuk rasa itu memprotes salah satu perusahaan Jepang di Jatim yang dinilai bertindak sewenang-wenang kepada pekerja. Namun, tidak disebutkan secara rinci bentuk kesewenang-wenangan itu.
Di Gedung Negara Grahadi, meraka memprotes biaya pendidikan yang mahal. Hal itu menyebabkan masyarakat kesulitan mendapat pendidikan, yang berujung pada kegagalan masyarakat miskin menaikkan derajat sosial dan ekonominya. ”Kami menuntut kapitalisasi pendidikan diakhiri,” ucap Fakhrudin, pengunjuk rasa.