Kisah unik dari merapi

Ada Kakek Tua Ingin Obrak-abrik Keraton

Kompas.com - 29/10/2010, 20:20 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com — Ketika Gunung Merapi mulai menyemburkan awan panas, Selasa, Lilik Muchlisin hendak mengakhiri aktivitas membuat gardu pandang di dekat rumahnya, Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Suara gemuruh tiba-tiba terdengar keras. Namun, semburan awan panas belum sampai ke Kaliadem.

"Saya mandi, kemudian shalat maghrib. Seusai shalat, saya baca Al Quran, surat Yasin. Anehnya, saat itu seperti ada sesuatu yang membuat saya tidak bisa melanjutkan baca Al Quran," kata Lilik.

Merasa kondisi masih aman, Lilik dan kakak iparnya, Suryadi, makan malam.

Begitu suapan terakhir, mendadak muncul awan panas yang menyapu rumah milik ayahnya, Ponimin.

"Piring yang sebelumnya dipakai Mas Suryadi terlempar. Kami kemudian masuk ke dalam kamar untuk menyelamatkan diri. Ayah dan ibu saya masih ada di luar sedang berdoa," ujar Lilik.

Dalam kamar sudah ada Lia Hatifah (kakak kandung Lilik), Ilham Galih Habibi (5 tahun, adik), dan Fiqih (2,5 tahun, putra Lia). Ketika mereka tengah berdoa, mendadak Hj Hayati, ibu Lilik, berlari masuk kamar karena disambar awan panas yang terlihat seperti semburan naga.

"Ibu mengaku sedang dikejar api Gunung Merapi," kata Lilik.

Suasana pun semakin mencekam karena sang ayah, Ponimin, tak juga masuk kamar. Baru belakangan Ponimin masuk kamar dan ikut bersila untuk berdoa.

"Saya membaca doa Nurbuat dan beberapa ayat suci Al Quran," kata Lia.

Di tengah hawa panas, semakin tipisnya oksigen, dan bau belerang menyengat, keluarga Ponimin masih sempat menghubungi sejumlah orang, di antaranya Presiden SBY dan Bupati Sleman Sri Purnomo, melalui handphone, untuk minta pertolongan.

Apa yang dialami Ponimin dan Hayati ketika berada di luar rumah?

"Saya didatangai orang tua, entah dari mana datangnya. Ia bilang akan mengobrak-abrik Keraton. Istri saya menjawab agar keinginan itu diurungkan. Orang tua tersebut kemudian pergi," kata Ponimin.

Pagi harinya, Ponimin mengaku didatangi orang yang sama. Saat itu pria misterius tersebut menyampaikan pesan aneh.

"Aku arep ngguwang wuwuh ngidul wetan. Kowe ndang lungo (Saya akan membuang sampah ke tenggara. Kamu cepat pergi)," ujar orang tua itu.

Lilik meyakini, orang misterius itu utusan penguasa Gunung Merapi. "Dari sudut pandang orang biasa, Merapi hanya sebuah gunung. Namun, dari sudut pandang spiritual, Merapi itu sebuah keraton," ujar Lilik.

Ia juga percaya saat ini "Keraton Merapi" tengah melakukan renovasi. "Kalau kita melakukan renovasi bangunan, biasanya ada sampah material yang perlu dibuang. Ya itulah debu dan pasir panas yang disemburkan Merapi," katanya.

Keyakinan Lilik tersebut seolah memberi penjelasan mengenai pesan orang tua misterius yang disampaikan kepada Ponimin. Lilik mengaku punya firasat berbeda mengenai akan adanya amukan Merapi.

"Selasa pagi, saya merasa suasananya mirip ketika ada orang yang meninggal dunia," katanya.

Selain itu, Lilik percaya, keluarganya bisa selamat dari kepungan awan panas berkat doa kedua orangtua dan keunikan adiknya, Ilham Galih Habibi.

"Adik saya itu dapat julukan bayi ajaib. Ada beberapa keunikan yang dipunyai adik saya itu, di antaranya lebih cepat bisa bicara dibandingkan anak balita pada umumnya," tambah Lilik. (Febby Mahendra/Krisna)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau