Obyek Wisata Diliburkan

Kompas.com - 31/10/2010, 03:48 WIB

Yogyakarta, Kompas - Sepanjang hari Sabtu (30/10), Yogyakarta tertutup hujan abu yang terjadi akibat letusan Gunung Merapi. Sebaran abu vulkanik menyebar merata di wilayah DI Yogyakarta, bahkan sampai ke pesisir selatan yang berjarak sekitar 80 kilometer dari Merapi. Sebagian besar sekolah dan obyek wisata terpaksa diliburkan, sedangkan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, sempat ditutup sekitar 1,5 jam.

Yogyakarta praktis menjadi kota bermasker karena hampir semua orang yang berada di luar rumah menggunakan masker. Bahkan, karyawan rumah sakit atau kantor pun tak melepaskan maskernya meski sudah berada di dalam ruangan.

”Walaupun di dalam ruangan, sebaran debu itu masih kami rasakan. Makanya, masker tetap kami pakai,” kata Rini, karyawan di sebuah rumah sakit swasta.

Pemerintah Kota Yogya, Sabtu pagi, memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar. Sekitar 522 sekolah dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga SMA memulangkan murid mereka lebih awal, sebagian lain bahkan langsung meliburkan. ”Kami memang menginstruksikan jika memang tidak kondusif untuk kegiatan belajar mengajar, bisa diliburkan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Yogyakarta Budi Asrori.

Bandara dan obyek wisata 

Bandara Adisutjipto sempat ditutup sekitar 1,5 jam, pukul 06.00-07.20. Manajer Operasi PT Angkasa Pura I, Bandara Adisutjipto, Halendra menuturkan, akibat abu vulkanik Merapi, landas pacu sepanjang 1.100 meter tertutup abu setebal 2 milimeter. ”Dari panjang runway 2.200 meter, separuhnya tertutup debu. Debu ini berbahaya karena bisa masuk ke mesin pesawat. Kami memutuskan menutup Bandara sehingga landasan bisa dibersihkan,” katanya.

Station Manager Garuda Indonesia Yogyakarta Anang Didik mengatakan, akibat abu vulkanik, pihaknya memutuskan mengalihkan semua penerbangan dari dan menuju Yogyakarta ke Bandara Adisumarmo, Solo.

Akibat pengalihan tersebut, jadwal penerbangan terlambat. Garuda mengalihkan penumpang ke Solo menggunakan bus.

Airport Manager Mandala Edi Santoso mengatakan, maskapainya memilih menunda penerbangan sampai kondisi aman.

Abu vulkanik membuat bisnis perhotelan di kawasan wisata Kaliurang di lereng Merapi sepi karena ditinggalkan tamu. ”Kerugian yang kami derita per harinya dari sewa kamar hotel dan jasa boga mencapai Rp 400 juta,” kata Ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang Christian Awuy, Sabtu. Di Kaliurang terdapat sekitar 300 hotel dan penginapan kecil.

Menurut Awuy, pasca-erupsi pertama pada Selasa, tamu-tamu hotel membatalkan pesanan kamar, padahal sedianya akan dipakai untuk 1-2 bulan ke depan.

Karena itu, Awuy akan memfokuskan pada pembenahan hotel. Ia optimistis pariwisata di Sleman bisa segera pulih. ”Proses erupsi Merapi yang terjadi cepat seperti sekarang ini semoga juga akan berakhir cepat,” ujarnya.

Kondisi berbeda terjadi di Kota Yogyakarta. Bisnis perhotelan dan penginapan di kawasan kota tak terdampak. Masih banyak turis asing berjalan-jalan di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta. ”Biasa saja. Warga masih berlalu lalang seperti biasa. Tidak ada masalah,” kata Silvain, turis dari Singapura.

”Saya kira aman-aman saja kondisinya. Ini biasa saja,” kata turis asing dari Polandia, Juliusz Barczuk, bersama pasangannya, Joanna Radomyska.

Hanya saja, mereka khawatir tidak bisa mengunjungi Candi Borobudur.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) DIY Edwin Ismaedi Himna mengatakan, hujan abu vulkanik di wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya tidak membuat pelaku wisata DIY pesimistis.

”Memang jadwal penerbangan sempat terlambat. Tetapi, hari ini tamu dari Singapura dan Bali tak membatalkan kunjungannya ke Yogyakarta. Turis asing yang ada di Yogyakarta juga tidak lantas panik lalu pergi meninggalkan Yogyakarta,” katanya.

Ketua Asosiasi Humas Yogyakarta Deddy Pranowo mengatakan, tingkat hunian hotel di wilayah DIY termasuk tinggi. Hotel berbintang, misalnya, tingkat huniannya bisa mencapai 80 persen. Kegiatan wisata konvensi di Yogyakarta relatif tetap padat. Sedangkan tingkat hunian di hotel nonbintang mencapai 40-80 persen.

Pengelola Taman Pintar juga menutup wahana wisata itu selama satu hari. Rencananya, obyek wisata di tengah kota itu akan dibuka kembali pada Minggu.

Petugas obyek wisata Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul melaporkan, hujan abu mulai jatuh di Parangtritis sejak subuh dan baru reda pukul 08.30.

Sejumlah turis asing yang ditemui di Malioboro mengaku tidak khawatir dengan hujan abu vulkanik. ”Biasa saja. Orang- orang juga beraktivitas seperti biasa,” kata Steve Dunar, insinyur dari Inggris, yang tengah berjalan menuju Keraton.

Di Jalan Kaliurang, terutama di Kilometer 21 ke atas (menuju Kaliurang), abu menutup jalanan cukup tebal, ketinggiannya mencapai 3-5 cm. Jarak pandang terbatas sehingga motor harus berhati-hati melintas.

Pembagian masker

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Choirul Anwar menyatakan, pihaknya telah mendistribusikan 50.000 masker bagi masyarakat kurang mampu di Yogyakarta. ”Pendistribusian dilakukan lewat puskesmas dan kelurahan-kelurahan,” katanya.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto menyatakan akan menambah jumlah masker dengan memesan 100.000 masker lagi ke Jakarta. ”Kalau tidak begitu penting, sebaiknya membatasi bepergian untuk menghindari debu,” kata Herry.

Sejumlah apotek dan toko pun diserbu masyarakat sejak dini hari untuk memborong masker. Dian, salah satu petugas apotek di Jalan Prof Yohannes, Gondokusuman, mengatakan sudah 1.500 masker terjual sebelum pukul 06.00 setelah dibeli ratusan orang. Sejumlah rumah sakit juga kehabisan stok masker.(ENY/ENG/IRE/PRA/ARA/GSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau