Sipora Selatan Perlu Perhatian

Kompas.com - 03/11/2010, 04:39 WIB

Tua Pejat, Kompas - Meskipun bantuan untuk korban tsunami di Mentawai melimpah, distribusinya yang dipusatkan di Sikakap, Kecamatan Sikakap, Pulau Pagai Utara, belum merata. Sejumlah wilayah di Pulau Sipora merana karena bantuan dan tenaga medis belum masuk.

Sipora adalah pulau terbarat dari tiga pulau terparah yang diterjang tsunami, yaitu Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Wakil Ketua DPRD Kepulauan Mentawai Nikanor Saguruk di Tua Pejat, Pulau Sipora, Selasa (2/11), mengemukakan, koordinasi penyaluran bantuan tidak jelas. ”Di tingkat elite koordinasi hanya sebatas komunikasi, tidak sampai pada putusan,” kata Nikanor.

Penilaian buruknya koordinasi datang dari asosiasi lembaga swadaya masyarakat di Jakarta, kemarin. ”Cuaca selalu jadi alasan, padahal penyebab utama itu koordinasi dan manajemen yang buruk,” kata Vino Oktvia dari Koalisi Lumbung Derma, terdiri atas 40 lembaga swadaya masyarakat, masyarakat sipil, dan mahasiswa di Sumatera Barat. Ia didampingi Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Alvon Kurnia Palma.

Menurut Vino, pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sangat lambat dalam mendistribusikan bantuan. Akibatnya, bukan hanya lembaga swadaya asing harus mendistribusikan bantuan sendiri, melainkan juga kemungkinan bisa bertambahnya jumlah korban.

Diurus sendiri

Karena koordinasi yang lemah itu, menurut Nikanor, tim sukarelawan DPRD akhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri mengirim bantuan ke Bosua, Gobik, Masokut, dan Beriulou.

Adapun bantuan dari Kabupaten Pesisir Selatan, warga masyarakat di Tua Pejat, dan dinas-dinas dikirim dengan Kapal Motor Subbulat.

Kompas mendapati di lapangan, penduduk Pulau Sipora juga membutuhkan tambahan tenaga sukarelawan, dokter, dan perawat. Itu karena para korban tsunami di Bosua, Gobik, Katiet, Masokut, dan Beriulou—semuanya di Pulau Sipora—umumnya belum mendapat bantuan karena sulitnya medan.

Kepala Desa Bosua, Tua Pejat, Maralus Sagari, mengatakan, sebaiknya pemerintah membagi perhatian kepada korban tsunami di Sipora.

Seberino, warga Beriulou, mengatakan, korban masih perlu bantuan alat masak dan tenda.

Untuk membantu meringankan penderitaan korban, Senin sore, Kapal Motor Subbulat kembali berlayar untuk mendistribusikan bantuan.

Perlu ditempuh jalur darat

Sejumlah sukarelawan menganjurkan penyaluran bantuan melalui jalur darat sebaiknya digiatkan karena lebih aman daripada jalur laut dan udara.

Jalur-jalur darat itu, misalnya, dari Dusun Bulasat-Dusun Bulasat Barat (40 kilometer dengan sepeda motor), berjalan kaki ke Dusun Kinumbu (5 kilometer), berjalan kaki ke Dusun Lumu (4 kilometer), berjalan kaki ke Dusun Mapinang (3 kilometer), sebelum tiba di Dusun Maonai (2 kilometer) dari Mapinang.

Dusun-dusun yang belum terjangkau adalah Dusun Kinumbuk, Limu, Mapinang, Tapak, Maurau, Maonai, Bake, Lagigi, Asahan, Pourorogat, Muntei Sabeu, Muntei Sigoisok, Eruk Paraboat, Sabiret, dan Malakopak dengan ribuan korban selamat.

(JOS/INK/JON/ROW/EDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau