Kurikulum

Mendesak, Pendidikan Kebencanaan

Kompas.com - 04/11/2010, 10:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Banyaknya korban jiwa dalam setiap bencana di Tanah Air semestinya mendorong pemerintah untuk segera menerapkan pendidikan kebencanaan. Tanpa pendidikan kebencanaan, anak-anak akan tercerabut dari lingkungannya dan korban akan terus berjatuhan.

”Masyarakat harus disadarkan bahwa mereka hidup di lingkungan alam yang rawan bencana alam, seperti gempa, letusan gunung api, tsunami, dan tanah longsor. Cara paling efektif untuk menyadarkan itu adalah melalui pendidikan sejak usia dini,” kata S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, Rabu (3/11/2010) di Jakarta.

Menurut Hamid, hal-hal yang bersifat lokal mesti diperkuat dalam pembelajaran di kelas. Dalam pengenalan soal alam Indonesia, misalnya, pembelajaran untuk anak-anak yang berada di daerah rawan gempa mesti berangkat dari pengenalan yang mendalam soal daerahnya.

”Ketika belajar soal gunung berapi, misalnya, sekolah di Yogyakarta dan sekitarnya mesti diberi pemahaman yang mendalam, termasuk juga bagaimana mengantisipasi jika meletus dan bagaimana membantu pascabencana,” kata Hamid.

Kurikulum pendidikan kita, menurut Hamid, mesti diimplementasikan dalam materi pelajaran yang dekat dengan lingkungan si anak. Kemudian, meluas ke masalah yang lebih umum.

Lendo Novo, pemerhati pendidikan lingkungan yang juga penggagas sekolah alam, mengatakan, pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia seharusnya mengajarkan anak-anak didik untuk hidup harmonis bersama alam. Dengan pengetahuan lingkungan yang kuat, anak-anak Indonesia akan mampu memanfaatkan potensi alam untuk kesejahteraan serta menjaga alam sebaik-baiknya guna mencegah terjadinya bencana atau kerugian yang lebih besar dari fenomena alam.

”Di tengah banyaknya bencana alam yang terjadi,  pendidikan kebencanaan memang mutlak diperkuat di sekolah-sekolah sejak dini. Tetapi, kunci utama dari persoalan ini sebenarnya bagaimana kurikulum dalam pendidikan kita itu memiliki roh utama tentang lingkungan,” katanya.

Siapkan modul

Secara terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, untuk mengurangi risiko bencana di daerah-daerah rawan bencana, pengetahuan pengurangan risiko bencana telah diintegrasikan ke dalam kurikulum.

”Segala macam informasi mengenai pendidikan kesiapsiagaan bencana itu telah dituangkan dalam modul-modul yang disusun Kementerian Pendidikan Nasional, guru, dan lembaga-lembaga nonpemerintah internasional,” kata Fasli Jalal.

Di dalam modul-modul pendidikan kesiapsiagaan bencana tersebut, menurut Fasli, juga diatur mengenai cara-cara melakukan sosialisasi tanggap bencana, antara lain melalui poster dan brosur yang dipasang dan dibagikan di sekolah-sekolah.

”Semua sudah dibuatkan dan tinggal diperbanyak saja,” ujarnya.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto, menambahkan, modul-modul mengenai pengetahuan kesiapsiagaan bencana itu memang sudah ada, tetapi informasi yang ada tidak terlalu rinci karena kondisi dan kebutuhan setiap daerah yang berbeda. (ELN/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau