JAKARTA, KOMPAS.com — Kekalahan Partai Demokrat dalam pemilu tengah waktu di House of Representative atau DPR Amerika Serikat tidak akan memengaruhi jadwal kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama ke Indonesia pada 9-10 Oktober mendatang.
Pasalnya, hubungan Indonesia dan Amerika Serikat sama sekali tidak terpengaruh dengan kondisi politik, baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia. Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat bersifat kemitraan yang strategis, setara, dan sangat kuat sehingga tidak berpengaruh dengan kondisi politik dalam negeri masing-masing.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa saat ditanya pers seusai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (4/11/2010) petang.
Rapat terbatas yang dilakukan terutup bagi pers itu dihadiri Wakil Presiden Boediono, tiga menteri koordinator, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal.
"Tentu tidak karena hubungan kita dengan Pemerintah AS sifatnya tidak terpengaruh dengan kondisi politik dalam negeri masing-masing. Hubungan kita bersifat kemitraan yang setara dan strategis serta sangat kuat di antara komitmen masing-masing," ungkap Marty.
Menurut Marty, dalam kunjungan Presiden Obama, kemitraan strategis hubungan Indonesia dan AS akan diresmikan. Kemitraan strategis inilah yang mendasari hubungan kedua lembaga yang kuat dan setara serta menyeluruh. "Apalagi, tahun depan Indonesia menjadi pimpinan organisasi negara-negara di Asia Tenggara sehingga kerja sama di antara kedua negara menjadi komprehensif, termasuk di kawasan," ujar Marty.
Dino menambahkan, kedatangan Presiden Obama sangat penting, terutama untuk mendeklarasikan kerja sama kemitraan strategis yang komprehensif bersama Presiden Yudhoyono. Kerja sama itu menjadi payung hukum bagi peningkatan dan hubungan kerja sama kedua negara.
"Terkait dengan deklarasi kemitraan strategis yang komprehensif antara Indonesia dan AS, saat ini sudah berlangsung pertemuan enam kelompok kerja yang masing-masing menanganai masalah keagamaan, energi, pendidikan, tata kelola pemerintah, dan lingkungan hidup," ujar Dino.
Mahasiswa Indonesia turun tajam
Lebih jauh, salah satu hal yang akan diangkat dalam pertemuan bilateral dengan delegasi yang dipimpin Presiden Obama, Marty menyatakan bahwa Presiden Yudhoyono akan mendorong peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS.
Selama 10 tahun terakhir ini, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS berkurang sangat tajam. Jika sebelumnya 14.000 mahasiswa, maka jumlah itu kini turun menjadi 7.000 mahasiswa. "Oleh sebab itu, target kita adalah akan mendorong upaya peningkatan peluang jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar kembali di sana," ucap Marty.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang