Prasasti Berusia Ribuan Tahun Ditemukan

Kompas.com - 06/11/2010, 09:23 WIB

PAGARALAM, KOMPAS.com - Batu megalit baru bertuliskan huruf palawan berukuran 2x3 meter ditemukan di hutan Dusun Talangkubangan, Kelurahan Kancediwe, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan (Sulsel), Sabtu (6/11/2010).

Lokasi penemuan megalit ini di perbatasan tiga wilayah yaitu Kota Pagaralam, Kabupaten Muaraenim dan Lahat.

Batu megalit ini mirip dengan prasasti dan terlihat seperti perkampungan yang sudah lama tidak ditempati lagi.

Selain masih banyak tanaman seperti hiasan halaman rumah berupa bambu kuning kecil dan kondisinya masih tertata rapi, batu megalit ini juga berada di kawasan sumber panas bumi yang memiliki luas sekitar 3-4 hektare.

"Ada dua batu bertulis huruf palawa tinggi 2 meter dan lebar 3 meter dengan kondisi tegak seperti bangunan rumah yang kami temukan di daerah Bukit Ghanggas atau Lengkenai Bughul di perbatasan tiga daerah," kata Irwan (27).

Warga desa Talangkubangan itu menyatakan, anehnya di sekitar batu megalit itu terdapat sejumlah tanaman hias seperti bambu kuning ukuran kecil dan penanamannya tertata rapi berjejer.

Kalau dilihat dari keadaan sekitar batu megalit itu belum pernah didatangi orang baik pencari hewan buruan maupun dan burung hutan.

Kondisi batu itu masih utuh tegak lurus dan dipermukaannya banyak tulisan manusia zaman purba.

"Kami tidak tahu apa arti tulisan di batu megalit itu. Batu itu diperkirakan sudah berumur ribuan tahun," katanya.

Jarak lokasi kalau dari Pagaralam harus menempuh perjalanan sekitar dua-tiga hari berjalan kaki.

Namun kalau dari daerah Muaraenim sekitar dua hari melewati sungai, jurang, bukit termasuk hutan rimba.

Hal senada juga diungkapkan Almani (45) warga lainnya. Batu yang baru ditemukan itu mirip bangunan rumah, berada tidak jauh dari sungai dan daerah hutan yang ada sumber panas bumi.

"Kami tidak berani melihat dari jauh. Kondisinya luas apalagi terkesan angker karena di sekitar lahan itu tidak terdapat pohon kayu, hanya hamparan uap panas bumi," ungkapnya.

Sementara itu Petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai, mengatakan, banyak ditemukan megalit, arca atau peninggalan bersejarah tersebar di daerah tersebut.

Daerah yang paling banyak dan berada disatu lokasi baru di daerah Desa Talang Batu Gong Kecamatan Dempo Selatan dan Desa Skendal, Kecamatan Pajarbulan, Lahat.

"Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apa jenis batu megalit atau prasasti peninggalan zama para sejarah itu tersbut." katanya.

Jika umur bisa dipastikan sudah ribuan tahun, namun perlu dilihat tulisan dan jenis batu pembuat megalit itu termasuk arti tulisannya, demikian Akhmad Rivai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau