Oleh Mukhamad Kurniawan dan Timbuktu Harthana
Ingin cari keringat, sehat, dan bentuk tubuh ideal. Itulah tiga jawaban favorit pengunjung saat ditanya mengenai motivasi datang dan berolahraga di pusat kebugaran. Motif itu pula yang membuat usaha ini semakin berkembang.
Tak hanya di ibu kota, pusat-pusat kebugaran kini marak berdiri di daerah, seperti Cirebon dan Purwakarta. Beberapa tahun terakhir, usaha berlabel "fitness centre" bermunculan, baik di pusat kota, pusat perbelanjaan, maupun tengah permukiman.
Pengunjungnya, dari pelajar, mahasiswa, pegawai negeri, hingga karyawan swasta. Di Hard Vee Fitness di Sadang Terminal Square Purwakarta, pengunjung didominasi karyawan swasta yang memanfaatkan waktu sepulang bekerja, yakni sore hingga malam Senin-Jumat. Pengunjung di Syakir Fitness Purwakarta di Jalan Taman Makam Pahlawan juga sama. Namun, pengunjung pada Sabtu-Minggu tak kalah ramai.
Lupi, salah satu pengelola Hard Vee, mengatakan, terdapat sekitar 800 pengunjung yang terdaftar sebagai anggota. Untuk menjadi anggota, mereka dikenai biaya pendaftaran Rp 25.000 dan iuran Rp 75.000 per bulan. Namun, di luar itu, ratusan pengunjung "dadakan" yang dikenai tarif Rp 10.000 datang setiap hari ke Hard Vee yang menempati salah satu sudut pusat perbelanjaan di Sadang.
Menurut Lupi, belasan pusat kebugaran berdiri di pusat Purwakarta tiga tahun terakhir. Sebagian berdiri di tengah perumahan atau kawasan permukiman meski dengan peralatan yang terbatas. Sebagian tidak memasang papan nama di depan gedung atau bangunannya.
Candu
Agus Yono, laki-laki berkulit putih ini, baru sebulan menjajal berolahraga di pusat kebugaran Body Oke di Jalan Perjuangan, Kota Cirebon. Namun, dia sudah merasa ketagihan. "Awalnya memang terasa pegal-pegal. Tapi, lama-lama badan malah lebih ringan. Kalau tidak ke gym, (badan) malah terasa tidak enak," ujar Agus.
Menurut Anita Rosanti, pemilik Body Oke, banyak alasan orang datang ke pusat kebugaran. Remaja, pelajar, dan mahasiswa datang ke pusat kebugaran untuk membentuk badan agar penampilannya lebih menarik.
Namun, sejumlah konsumennya kini sudah memiliki motivasi untuk berolahraga sehingga rutin berlatih. Mereka menganggap olahraga kebugaran menjadi pengganti futsal atau basket yang terlalu melelahkan dan butuh teman. Banyak pegawai dan karyawan melakukannya untuk tujuan itu. Tak heran, selepas jam pulang kantor hingga malam, pusat kebugaran banyak diserbu pegawai dan karyawan.
Sejumlah atlet memiliki tujuan menguatkan stamina, sementara beberapa model bermaksud membentuk badannya.
"Biasanya mereka latihan hanya 1-2 jam. Tapi, jika ada yang lama sampai 2-3 jam, biasanya dilanjutkan dengan mengobrol sesama anggota atau mencari relasi," kata Anita.
Selama ini masih banyak persepsi salah tentang pusat kebugaran. Masyarakat menganggap konsep lama, pembentukan tubuh, menjadi menu utama pusat kebugaran. Padahal, kini banyak pusat kebugaran yang menawarkan solusi hidup sehat, tampil prima, dan percaya diri. Hal itu yang menyebabkan masih sedikit perempuan di kota kecil berolahraga di pusat kebugaran.
Kaum hawa hanya memilih senam aerobik, dengan persepsi bisa cepat mengencangkan tubuh. Mereka resah jika latihan angkat beban justru membuat otot mereka membesar. Padahal, papar Anita, mengencangkan lengan, pinggul, paha, dan perut lebih cepat dengan berlatih kebugaran ketimbang aerobik. Untuk itulah, pengelola pusat kebugaran dan instrukturnya tidak akan sembarangan dan pukul rata memberi jenis dan porsi latihan kepada setiap anggotanya.
Selain sehat, sepertinya anak-anak remaja anggota pusat kebugaran ini mendapat semangat baru, yaitu semangat untuk tampil percaya diri dan semangat membangun koneksi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang