Bencana merapi

Delapan Kecamatan di Magelang Lumpuh

Kompas.com - 08/11/2010, 03:13 WIB

MAGELANG, KOMPAS - Kota Kecamatan Muntilan dan delapan kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang lumpuh selama lima hari terakhir akibat letusan Gunung Merapi. Listrik padam total dan pertokoan, warung, serta pasar tutup. Sejumlah sekolah dan perkantoran diliburkan karena menjadi tempat pengungsian.

Dari pemantauan Kompas, delapan kecamatan di Magelang yang lumpuh itu adalah Kecamatan Borobudur, Mungkid, Muntilan, Salam, Ngluwar, Sawangan, Srumbung, dan Dukun. Penduduk terus dilanda ketegangan karena ancaman banjir lahar dingin, abu vulkanik, dan pasir. Sementara itu, bunyi gemuruh dan getaran letusan Merapi terus mencekam penduduk.

Gemuruh letusan Merapi juga terdengar di pedesaan sekitar 7-20 kilometer di seputar Merapi, seperti Desa Tempel, Kadisobo, Turi, Pakem, Cangkringan, Ngemplak, Ngaglik, Depok (di Kabupaten Sleman); Kemalang, Jatinom, Gemampir, Tulung (Klaten); serta Musuk, Cepogo, dan Selo (Boyolali). Desa-desa dan kawasan lereng Merapi di Jawa Tengah maupun DIY itu pada umumnya telah dikosongkan demi pertimbangan keselamatan.

Abu vulkanik setebal 5-7 sentimeter juga menjadi ancaman, penyebab puluhan atap rumah runtuh dan korsleting listrik. Korsleting juga dipicu tumbangnya pohon-pohon yang menimpa kabel-kabel listrik.

”Ini situasi paling menakutkan dalam sepuluh hari terakhir. Sulit saya gambarkan. Desa saya mati. Gelap. Sunyi. Bunyi gemuruh. Angin,” kata Tanto Mendut, seniman dari Kecamatan Mungkid, Jumat malam, melukiskan suasana tiga malam terakhir.

Puluhan tempat pengungsian di Muntilan dan Kabupaten Magelang terpaksa hanya menggandalkan generator dan lilin sebagai sumber penerangan. Warga yang ingin mengisi ulang baterai telepon seluler harus ke Kantor Telkom Muntilan yang menyediakan tempat pengisian ulang.

Heriyanto (53), pengungsi asal Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, mengatakan, warung-warung dan toko-toko yang tutup mengakibatkan pengungsi kesulitan mencari tambahan keperluan hidup. Listrik mati menyebabkan pengungsi kekurangan air bersih. ”Kami berharap pemerintah memberi bantuan air bersih dan PLN segera mengatasi listrik yang mati,” katanya.

Ancaman banjir

V Kirdjito, aktivis lingkungan dari Dusun Tutup Ngisor, Kecamatan Srumbung, Magelang, melaporkan, Minggu siang, awan panas dan lahar dingin kembali mengguyur wilayah barat Merapi. Aliran lahar dingin membanjiri Sungai Talun, Sungai Senowo, dan Sungai Lamat.

Sungai Senowo dan Sungai Lamat adalah dua sungai yang melewati wilayah Kota Muntilan. Sungai Senowo melewati daerah Prumpung, pusat kerajinan patung di Muntilan, dan Sungai Lamat melewati sekitar terminal bus Kota Muntilan. Menurut penduduk setempat, aliran lahar dingin membawa serta material berupa batu-batu vulkanik berdiameter 2 meter.

”Srumbung sudah kosong tiga hari lalu karena sangat berbahaya kalau tetap tinggal di sana,” kata Kirdjito. Penduduk mengungsi ke Magelang dan Muntilan, seperti ke asrama SMP/SMA Van Lith Muntilan atau ke pengungsian perusahaan karoseri mobil New Armada. Sebagian lain penduduk mengungsi di perkantoran, masjid, gereja, dan sekolah.

Manajer PLN Magelang Purwadi mengatakan, PLN akan segera meminta Subdinas Pemadam Kebakaran untuk membersihkan abu vulkanik dengan semprotan air. ”Kami memprioritaskan menghidupkan listrik di sekitar lokasi pengungsian dan pusat-pusat pemerintahan dan perdagangan. Untuk daerah-daerah dekat Gunung Merapi belum dapat ditangani karena masih berbahaya,” kata Purwadi.

Abu vulkanik Merapi juga mengakibatkan 2.505.848 hektar kebun salak gagal panen karena tanaman roboh dan terbakar. Wijayanti, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan, Kabupaten Magelang, juga melaporkan, 326.260 hektar tanaman padi dan sayuran rusak terguyur debu Merapi. Abu vulkanik juga menyebar rata ke seluruh bagian Candi Borobudur, terbanyak di bagian lantai lorong dan tiga lantai teratas (Arupadhatu).

Menurut Gubernur Jateng Bibit Waluyo, pemerintah hanya akan membeli sapi yang hendak dijual, tetapi peternak kesulitan karena harganya murah.

Besarnya erupsi Merapi kali ini dipastikan menyebabkan kerusakan lingkungan serta sarana dan prasarana di daerah bencana. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, tak mudah bagi pemerintah untuk melakukan pendataan di saat kondisi Gunung Merapi tak stabil.

(Tim KOMPAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau