A Ponco Anggoro
Sebuah rumah panggung beratap terpal di lereng Bukit Kampung Warwai, Wasior, kini jadi tempat bernaung Marten Warani (40) bersama enam anggota keluarganya. Di situlah mereka tinggal semenjak banjir bandang menyapu Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, 4 Oktober lalu.
Rumah itu dibangun sendiri dengan memanfaatkan papan dan potongan kayu yang terserak di antara puing-puing bangunan. Tak heran jika atapnya bolong di sana-sini.
Di depan rumah panggung itu Yustina Marini (45), salah satu anggota keluarga Marten, merebus daging kelelawar dengan menggunakan tungku kayu bakar.
”Sebetulnya, kerongkongan ini agak risi kalau makan daging kelelawar. Habis, mau makan apa? Masak makan nasi saja,” ujar Marten ketika ditemui Minggu (7/11).
Setiap malam Marten berburu kelelawar dengan senapan angin, dibantu lampu senter. Satu sampai dua ekor yang diperolehnya lumayan buat memenuhi kebutuhan lauk-pauk keluarga.
Siang hari Marten harus kembali masuk ke hutan untuk mencari sagu. Harap maklum, beras bantuan yang diberikan pada minggu pertama pascabanjir sudah menipis. Beras yang jumlahnya 20 kilogram tersebut kira-kira hanya untuk dua hari lagi.
Sambil menunggu matangnya rebusan kelelawar, anggota keluarga yang lain, Magdalena Karubuy (42) dan Paulina Sayori (28), mencari jantung pisang dan rebung bambu untuk dibuat sayuran.
”Mau beli sayuran di pasar tidak punya uang. Jadi kami cari bahan yang bisa dibuat sayuran di hutan,” kata Magdalena. Perempuan ini sebelum banjir terjadi biasanya membeli sayuran di pasar dari uang yang diperoleh suaminya sebagai kuli bangunan.
Keluarga Marten hanya gambaran mikro dari 2.349 warga korban banjir Wasior yang tertatih-tatih bertahan hidup di tempat pengungsian di Wasior.
Nasib pengungsi lain yang tercatat berjumlah 6.667 orang di Manokwari dan Sorong bisa jadi lebih baik dari Marten. Itu karena akses distribusi bantuan ke dua kota tersebut relatif lebih baik daripada Wasior.
Sepanjang hari yang ada di benak mereka hanya bertahan hidup di tengah kian surutnya bantuan dari pemerintah.
Sejumlah korban bahkan tidak lagi merasakan bantuan yang sempat deras datang pada pekan pertama dan kedua pascabanjir.
Dorce Baransano (43), pengungsi di Kampung Sepui, Wasior 2, Wasior, menyiasati hidup dengan memunguti sisa-sisa bawang dan sayuran kol yang selamat dari terjangan air bah. Bawang yang kondisinya masih baik dijualnya di Pasar Sore.
Hasil penjualan, sekitar Rp 150.000, dipakai untuk berjualan hari berikutnya. Ia membeli sayuran serta membuat sekaligus menjual donat dan sirup.
”Kalau menunggu bantuan pemerintah agar kami bisa hidup dan bekerja kembali, bisa-bisa kami mati kelaparan,” kata Dorce, yang tujuh kerabatnya tewas diterjang banjir bandang.
Selama ini Dorce dan keluarganya juga bisa bertahan hidup dengan barang-barang yang tercecer di reruntuhan rumah. Suami Dorce, Thomas Huyae (44), memunguti papan kayu dan kain terpal untuk dibuat bilik. Untuk memaku-maku papan dan kain terpal, ia menggunakan batu sebagai martil. Adapun perlengkapan masak dan makan, seperti panci, piring, dan sendok, dipungut dari rongsokan rumah tangga.
Untuk memperoleh air bersih, Thomas mencoba menyambung potongan-potongan pipa paralon. Salah satu ujungnya dihubungkan ke sumber mata air ke depan rumahnya, berjarak 1 kilometer.
Upaya Thomas ini ternyata bisa membantu memenuhi kebutuhan air bersih sepuluh keluarga lain yang mengungsi di Kampung Sepui.
Di tengah impitan beban hidup, para korban banjir tetap guyub dengan balutan tradisi gotong-royong. Saat Elisabeth Marani di Kampung Maimari yang masih berusia satu tahun terkapar karena malaria, korban banjir di Kampung Dottir berbondong-bondong membawakan kayu bakar dan beras 2 kilogram. Anak-anak kecil dan orang dewasa merubung ke rumah Elisabeth menyerahkan bantuan itu.
”Sudah jadi tradisi, kalau ada orang yang sakit atau meninggal, kami melakukan hal ini walau sebetulnya kami semua hidup susah,” tutur Eli Samumbuy (35), warga Kampung Dottir, Wasior.
Sejak pagi hari, setelah beribadah di gereja, sejumlah warga Kampung Dottir mencari kayu bakar di hutan. Sebagian warga yang lain berkunjung ke keluarga-keluarga di Dottir, meminta sumbangan beras.
Banjir bandang memang telah meluluhlantakkan Wasior. Sebanyak 172 orang meninggal dan 118 orang hilang. Namun, musibah itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk bertahan hidup, apalagi meninggalkan kearifan lokal.