Profil barack obama

Presiden AS yang Bisa Bahasa Indonesia

Kompas.com - 08/11/2010, 13:52 WIB
Barack Obama lahir pada 4 Agustus 1961 di Hawaii; belajar hukum di Harvard; bekerja sebagai pengacara hak-hak sipil di Chicago; bertugas di senat negara bagian Illinois tahun 1996-2004; terpilih sebagai senator tahun 2004; dan terpilih sebagai Presiden AS tahun 2008.

KOMPAS.com — Barack Obama membuat sejarah pada 4 November 2008 ketika ia, pada usia 47 tahun, dengan mudah mengalahkan saingannya dari Partai Republik, John McCain, untuk menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat. Dalam kampanye menuju Gedung Putih, ia pun sudah mencatat sejarah baru. Ia merupakan kandidat kulit hitam pertama yang menjadi pilihan Partai Demokrat, salah satu partai besar di AS. Pidatonya yang menggugah, dikombinasi dengan pesona mudanya, meraih pendukung di AS dan pengagum di seluruh dunia. Pada 20 Januari 2009, ia disumpah sebagai Presiden ke-44 AS, dan pada 9 Oktober tahun yang sama, ia meraih Hadiah Nobel Perdamaian.

Namun, dua tahun setelah berkuasa, kepercayaan rakyat AS terhadapnya memudar, terutama karena kegagalannya dalam memulihkan secara cepat kondisi perekonomian AS yang terpuruk akibat krisis. Ia mendapat pukulan keras berupa kekalahan partainya pada pemilihan sela yang berlangsung 2 November lalu. Partai Demokrat kehilangan posisi mayoritas di DPR (House of Representative) dan jumlah kursi di Senat tergerus meski sebagai mayoritas.

Dalam dua tahun kekuasaannya, di dalam negeri, ia berjuang keras untuk mengegolkan upaya reformasi kesehatan AS yang mendapat tentangan sengit. Sementara itu, secara internasional, sebagian besar usahanya berfokus pada upaya untuk mencapai perjanjian baru tentang pelucutan senjata nuklir dan perubahan iklim. Sejumlah usaha lain untuk persoalan luar negeri belum berbuah. Meski telah ada beberapa kemajuan dalam masalah Irak, antara lain dengan penarikan pasukan AS dari negara itu dan pada saat bersamaan tentara Irak diberi kesempatan untuk berbenah diri, persoalan di Afganistan tidak kunjung memberi titik terang dengan aksi pemberontakan yang kian memanas.

*** Obama pertama kali muncul ke panggung nasional ketika ia menimbulkan kejutan pada Konvensi Nasional Partai Demokrat tahun 2004 dalam sebuah pidato tentang kemandirian dan aspirasi. Putra seorang pria Kenya dan perempuan kulit putih dari Kansas itu menekankan sejarah pribadinya dalam sebuah pidato yang mencerminkan cita-cita tradisional Amerika. "Melalui kerja keras dan ketekunan, ayah saya mendapat beasiswa untuk belajar di tempat yang menarik, Amerika, yang menjadi simbol kebebasan dan kesempatan bagi begitu banyak orang yang datang sebelum dia," katanya.

Tak lama setelah itu, ia terpilih sebagai anggota senat dari Illinois. Ia kemudian menjadi kesayangan media dan salah satu tokoh yang paling "terlihat" di Washington.

Obama dinamai menurut nama ayahnya, yang tumbuh di daerah penggembalaan kambing di Kenya, tetapi mendapat beasiswa untuk belajar di Hawaii. Di sana, orang Kenya itu bertemu dan menikah dengan ibu Obama, Ann, yang tinggal di Honolulu bersama orangtuanya. Ketika Obama masih balita, ayahnya mendapat kesempatan belajar di Harvard, tetapi karena tidak cukup uang, keluarganya tidak ikut dibawa. Sang ayah kemudian kembali ke Kenya sendirian. Di sana ia bekerja sebagai ekonom pemerintah dan pasangan (ayah-ibu Obama) itu bercerai.

Ketika Obama berusia enam tahun, ibunya menikah lagi dengan seorang pria Indonesia dan keluarganya pindah ke Jakarta. Meski ayahnya dan ayah tirinya Muslim, Obama menganut Kristen dan bersekolah di sekolah umum dan Katolik selama empat tahun, 1968-1971, dan ia tinggal di Jakarta. Kunjungannya ke Jakarta yang berlangsung kurang dari 24 jam pada 9 dan 10 Nevember ini, menurut para pejabat Gedung Putih, selain sangat strategis untuk kepentingan AS, terutama dalam menjembatani AS dengan Islam, juga sangat spesial bagi Obama secara pribadi. "Obama merupakan Presiden AS pertama yang bisa berbahasa Indonesia. Indonesia sangat penting bagi AS," kata seorang pejabat Gedung Putih.

Dari Jakarta, Obama kemudian kembali ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya dan bersekolah. Obama melanjutkan studi ilmu politik di Universitas Columbia di New York, kemudian pindah ke Chicago, tempat ia menghabiskan tiga tahun sebagai seorang community organiser. Tahun 1988, ia memasuki Harvard Law School, di sana ia menjadi seorang Afrika-Amerika pertama yang menjadi Presiden Harvard Law Review.

Selama liburan musim panas dari Harvard, Obama kembali ke Chicago dan magang di sebuah firma hukum. Pada masa magang itu ia bertemu dengan Michelle Robinson, mereka berpacaran dan menikah tahun 1992. Pasangan itu memiliki dua anak perempuan, Malia dan Sasha.

Selesai di Harvard, Obama kembali ke Chicago untuk berpraktik hukum hak-hak sipil, mewakili korban-korban yang mengalami diskriminasi.

Ia kemudian bekerja di senat negara bagian Illinois dari 1996 sampai 2004, sebelum memenangkan kursi di Senat AS. Di Capitol Hill, Obama tercatat sebagai yang bersuara lantang terkait isu yang menjadi fokus partainya, tetapi juga bekerja dengan rekan-rekan Republik dalam isu-isu seperti pendidikan dan pencegahan HIV/AIDS.

*** Senator Obama menghadiri kebaktian di Trinity United Church of Christ di Chicago selama hampir dua dasawarsa, tetapi kemudian memisahkan diri dari tempat itu pada bulan Mei 2008 setelah khotbah kontroversial seorang pendeta Trinity menjadi berita utama.

Bagi banyak orang, Obama tampak seperti orang yang datang dari dunia antah-berantah dalam upayanya untuk menjadi Presiden AS. Meskipun ia pernah bertugas di senat negara bagian Illinois selama delapan tahun, baru tahun 2004 dia tampil menonjol secara nasional, dengan pidatonya yang menggugah pada Konvensi Nasional Partai Demokrat.

Hanya dalam waktu dua tahun menjelang pemilu, nama, wajah, dan kisahnya menjadi terkenal di luar Amerika. Senator itu merebut nominasi Partai Demokrat setelah perjuangan panjang dan melelahkan menghadapi saingan yang merupakan politisi kawakan, mantan Ibu Negara AS, Hillary Clinton.

Dalam perjalanan kampanyenya, Senator Obama memecahkan rekor untuk penggalangan dana dengan memanfaatkan internet bagi pengumpulan sejumlah besar sumbangan kecil ataupun dari sumbangan dalam jumlah besar dari perusahaan. Dia juga menunjukkan kemampuan untuk mengumpulkan massa hingga 100.000 orang atau lebih untuk ikut dalam pawai kampanye.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau