Aktivitas wapres

Kerinduan Setelah 52 Tahun Kunjungan Soekarno...

Kompas.com - 09/11/2010, 03:04 WIB

Setelah menempuh perjalanan hampir 11 jam sejak pukul 06.00 dari Jakarta, Jumat (5/11) pukul 18.20, pesawat Dash-7 Pelita Air yang membawa rombongan Wakil Presiden Boediono dari Bandar Udara Pattimura di Laha, Ambon, mendarat di bumi Duan Lolat, Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku.

Selain Ny Herawati Boediono, ikut pula Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, dan lainnya.

Dalam kunjungan kerjanya selama dua hari di daerah yang dikenal rawan gempa itu, selain meresmikan sejumlah proyek, Wapres juga menyaksikan pemberian bantuan yang nilainya puluhan miliar rupiah kepada masyarakat daerah tertinggal, di antaranya dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan kredit usaha rakyat (KUR).

Tiba di Bandara Olilit, Saumlaki, Wapres dan istrinya disambut ritual adat masopeng atau penerimaan tamu terhormat. Ritual itu ditandai taburan tepung dan santan air kelapa sebagai tanda sukacita dan doa berkah serta keselamatan.

Menuju rumah dinas Bupati Maluku Tenggara Barat (MTB) Bitzael Silvester Temmar, Wapres dielu-elukan siswa-siswi beserta para guru di kiri kanan jalan. Bendera Merah Putih kecil dikibar-kibarkan. Sesampainya di rumah dinas bupati, Boediono diberi gelar adat suku Talimba, suku yang mendiami Pulau Yamdena, di mana Saumlaki berada.

Gelar yang diberikan kepada Boediono adalah ”Mel Ratan Ken Tnebar Barataman”, yang artinya bangsawan tertinggi dan luhur serta orang dituakan yang datang dari Barat.

”Dalam ingatan kami, baru Presiden RI Ir Soekarno yang datang ke Saumlaki pada tahun 1958 hingga sekarang ini. Karena itu, dalam 52 tahun ini, kerinduan kami terlunaskan setelah Wapres datang menengok kami,” kata Bupati MTB Bitzael.

Nama Ir Soekarno diabadikan sebagai nama jalan utama kota Saumlaki, yang menghubungkan Bandara Olilit dengan pusat kota Saumlaki. Oleh sebab itu, sebagai ucapan rasa terima kasih warga Saumlaki, nama Prof Dr Boediono pun akan diabadikan sebagai nama jalan utama menuju bandar udara internasional yang kini tengah dibangun di Lorulun, Kecamatan Wertariam.

Penghargaan itu membuat Wapres Boediono tersanjung. ”Sungguh saya mendapat kehormatan. Ini akan menjadi catatan hidup saya,” ujarnya saat berdialog dengan siswa SMA/SMK se-Saumlaki di SMA Unggulan Saumlaki, Sabtu (6/11).

Menurut Wapres, sejak menginjakkan kakinya di Saumlaki, dirinya mengaku tersentuh dengan masyarakat daerah tertinggal yang jaraknya lebih dekat ke Australia atau Timor Leste daripada ke Jakarta itu.

Menginjakkan kaki di Saumlaki tidak mudah. Selain sulitnya sarana transportasi, cuaca juga buruk. Wapres pun terpaksa berganti pesawat dan menghindari cuaca buruk yang datang menjelang sore. Dari sebelumnya pesawat BAe RJ-85, Wapres harus ganti dengan Dash-7 karena runway Bandara Olilit cuma 900 meter.

Pers yang mendampingi Wapres pun terpecah-pecah menuju Saumlaki. Ada yang ikut BAe RJ-85 dan Dash-7 bersama Wapres, tetapi tiba di Ambon, rombongan wartawan pun dipindah naik CASA TNI AL. Pulangnya, karena baling-baling dan mesin CASA TNI AL rusak, wartawan pun terpaksa digabung dengan pesawat Wapres.

Meskipun sulit dan jauh menuju Saumlaki, Wapres ternyata tidak kapok berkunjung ke pulau terluar lainnya di provinsi lain. Ia justru berjanji akan terus datang dan menengok masyarakat di pulau-pulau terdepan lainnya yang terpencil.

(Suhartono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau