Setelah menempuh perjalanan hampir 11 jam sejak pukul 06.00 dari Jakarta, Jumat (5/11) pukul 18.20, pesawat Dash-7 Pelita Air yang membawa rombongan Wakil Presiden Boediono dari Bandar Udara Pattimura di Laha, Ambon, mendarat di bumi Duan Lolat, Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku.
Selain Ny Herawati Boediono, ikut pula Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, dan lainnya.
Dalam kunjungan kerjanya selama dua hari di daerah yang dikenal rawan gempa itu, selain meresmikan sejumlah proyek, Wapres juga menyaksikan pemberian bantuan yang nilainya puluhan miliar rupiah kepada masyarakat daerah tertinggal, di antaranya dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan kredit usaha rakyat (KUR).
Tiba di Bandara Olilit, Saumlaki, Wapres dan istrinya disambut ritual adat masopeng atau penerimaan tamu terhormat. Ritual itu ditandai taburan tepung dan santan air kelapa sebagai tanda sukacita dan doa berkah serta keselamatan.
Menuju rumah dinas Bupati Maluku Tenggara Barat (MTB) Bitzael Silvester Temmar, Wapres dielu-elukan siswa-siswi beserta para guru di kiri kanan jalan. Bendera Merah Putih kecil dikibar-kibarkan. Sesampainya di rumah dinas bupati, Boediono diberi gelar adat suku Talimba, suku yang mendiami Pulau Yamdena, di mana Saumlaki berada.
Gelar yang diberikan kepada Boediono adalah ”Mel Ratan Ken Tnebar Barataman”, yang artinya bangsawan tertinggi dan luhur serta orang dituakan yang datang dari Barat.
”Dalam ingatan kami, baru Presiden RI Ir Soekarno yang datang ke Saumlaki pada tahun 1958 hingga sekarang ini. Karena itu, dalam 52 tahun ini, kerinduan kami terlunaskan setelah Wapres datang menengok kami,” kata Bupati MTB Bitzael.
Nama Ir Soekarno diabadikan sebagai nama jalan utama kota Saumlaki, yang menghubungkan Bandara Olilit dengan pusat kota Saumlaki. Oleh sebab itu,
Penghargaan itu membuat Wapres Boediono tersanjung. ”Sungguh saya mendapat kehormatan. Ini akan menjadi catatan hidup saya,” ujarnya saat berdialog dengan siswa SMA/SMK se-Saumlaki di SMA Unggulan Saumlaki, Sabtu (6/11).
Menurut Wapres, sejak menginjakkan kakinya di Saumlaki, dirinya mengaku tersentuh dengan masyarakat daerah tertinggal yang jaraknya lebih dekat ke Australia atau Timor Leste daripada ke Jakarta itu.
Menginjakkan kaki di Saumlaki tidak mudah. Selain sulitnya sarana transportasi, cuaca juga buruk. Wapres pun terpaksa berganti pesawat dan menghindari cuaca buruk yang datang menjelang sore. Dari sebelumnya pesawat BAe RJ-85, Wapres harus ganti dengan Dash-7 karena runway Bandara Olilit cuma 900 meter.
Pers yang mendampingi Wapres pun terpecah-pecah menuju Saumlaki. Ada yang ikut BAe RJ-85 dan Dash-7 bersama Wapres, tetapi tiba di Ambon, rombongan wartawan pun dipindah naik CASA TNI AL. Pulangnya, karena baling-baling dan mesin CASA TNI AL rusak, wartawan pun terpaksa digabung dengan pesawat Wapres.
Meskipun sulit dan jauh menuju Saumlaki, Wapres ternyata tidak kapok berkunjung ke pulau terluar lainnya di provinsi lain. Ia justru berjanji akan terus datang dan menengok masyarakat di pulau-pulau terdepan lainnya yang terpencil.