Solidaritas warga

Agar Pengungsi Mimpi Indah...

Kompas.com - 09/11/2010, 09:25 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah ibu rumah tangga di Perumahan Gumuk Indah, Sidoarum, Godean, Sleman, DI Yogyakarta, mencoba meringankan beban para pengungsi korban letusan Gunung Merapi. Tak bisa jauh-jauh meninggalkan rumah, mereka memilih membuat bantal bagi pengungsi.

Kesibukan membuat bantal itu tampak di rumah Juwariyah, Minggu (7/11/2010) siang. Ia yang kebetulan memiliki mesin jahit bertugas memotong dan menjahit kain. Ibu-ibu lain bertugas memasukkan bahan bantal berupa dakron ke kain yang ketiga sisinya telah dijahit.

Mereka bekerja di antara dua karung besar berisi dakron yang isinya terus menyusut. Anak-anak kecil ikut sibuk membantu pekerjaan ibu mereka sambil bermain-main.

Dalam waktu singkat jadilah bantal-bantal empuk siap pakai. Ukurannya sengaja dibuat mungil, cukup untuk satu kepala. Warnanya cerah ceria, bermotif flora dan fauna. Ada jerapah, juga gajah. Kuning, biru, dan hijau muda. Membuat bantal ternyata mudah saja.

Bantal-bantal itu lantas diikat dengan tali. Setelah bantal siap dipakai, giliran para suami bekerja. Mereka bertugas mengantar ke barak pengungsian yang membutuhkan. Terbayang wajah sukacita anak-anak di pengungsian saat menerima bantal-bantal mungil itu.

Aktivitas membuat bantal itu dimulai sejak Jumat (5/11/2010), tepatnya ketika puluhan ribu manusia dilarikan ke barak-barak pengungsian yang lokasinya jauh dari rumah mereka. Dipindah secara mendadak, mereka tentu hanya sempat membawa pakaian yang menempel di tubuh.

Membayangkan kondisi pengungsi, Sholahuddin Noorazmy dan istrinya, Nuzulina, lantas mendapat ide membuat bantal. ”Kalau mau membantu evakuasi, kami jelas tidak mampu. Mau membuat dapur umum juga sulit. Makanya muncul ide bantal, istri bisa membantu pengungsi tanpa perlu meninggalkan rumah,” tutur Sholahuddin, Minggu.

Jejaring sosial

Sepakat membuat bantal, keduanya bergegas bekerja. Sholahuddin dan teman-temannya bertugas menghimpun dana. Sementara Nuzulina bertugas menggerakkan ibu rumah tangga di sekitar kompleks untuk bergotong royong membuat bantal.

Demi dana, Sholahuddin segera menghubungi teman-temannya yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta, ataupun Bandung. Ia membuat grup ”Bantal untuk Merapi” di Facebook.

Ia juga mengirim banyak pesan pendek ke banyak nomor, lengkap dengan mencantumkan nomor rekening. Dalam pesan pendek itu, ia meminta bantuan dengan slogan yang jelas: Rp 10.000 untuk satu bantal.

Dalam waktu singkat, tanggapan berdatangan. ”Tidak sampai 15 menit, ada donatur dari Bandung yang mentransfer uang Rp 500.000,” kata Sholahuddin.

Tentu tidak semua teman menyumbang dalam jumlah besar. Ada juga yang menyumbang dua bantal, yang berarti mentransfer Rp 20.000. Tanggapan positif itu membuat mereka optimistis.

Dengan dana yang masuk, Nuzulina segera berbelanja di toko kain. Lalu, dengan bahan yang ada, ia mengajak tetangganya ikut bekerja. Nuzulina menuturkan, semula ia berniat membuat bantal ukuran kepala dewasa dengan kain putih polos. Namun, salah satu tetangganya, Fatimah, mengusulkan agar bantal tersebut dibuat warni-warni. ”Kalau warna-warni, anak-anak kan jadi senang. Akhirnya kami membuat bantal kecil dengan motif flora dan fauna,” ujarnya.

Sampai saat ini mereka telah membuat 321 bantal. Bantal-bantal tersebut telah dikirim ke barak pengungsi di Kantor Kecamatan Mlati, Sleman.

Sholahuddin mengatakan, permintaan bantal terus berdatangan. Bahkan ada yang memesan 5.000 bantal kepadanya. Menerima pesanan itu, ia merasa senang sekaligus bingung karena kemampuan relawan saat ini masih sangat terbatas.

Saat ini, mereka terus bekerja. Terus membuat bantal-bantal mungil yang diharapkan bisa membantu pengungsi tidur nyenyak. Pengungsi juga berhak bermimpi indah meskipun nyatanya terenggut jauh di luar rumah.

(IDHA SARASWATI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau