Gubernur Papua Barat Abraham Octavianus Atururi seusai memantau pembangunan tempat hunian sementara di Wasior, Selasa (9/11), mengatakan, empat sungai yang melintas di Wasior mendangkal setelah bencana banjir bandang, yaitu Sungai Sanduai, Rado, Anggris, dan Miei.
”Selama aliran sungai belum lancar, bencana banjir masih bisa terjadi. Normalisasi sungai perlu dilakukan sebelum pembangunan kembali,” katanya.
Berdasarkan pantauan, sungai-sungai itu kini mendangkal dari dalam semula 4 meter menjadi tinggal 1 meter. Sungai-sungai itu umumnya tertutup batang kayu, pasir, dan bebatuan yang terbawa air bah pada saat kejadian 4 Oktober lalu.
Pelaksana Tugas Bupati Teluk Wondama Decky Ampnir menyatakan, pihaknya telah mengusulkan normalisasi keempat sungai itu ke pemerintah pusat. Namun, sejauh ini kegiatan normalisasi sungai belum terjadwalkan.
Ketua Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada Dwikorita Karnawati yang ditemui di Wasior, Sabtu lalu, mengatakan, banjir bandang masih berpeluang kembali terjadi. Penyebabnya, keempat sungai itu diapit tebing curam. Tebing itu berpotensi longsor sehingga bisa menutup alur sungai yang bisa menyebabkan kembali banjir bandang.
Gubernur mengatakan, pembangunan belum bisa dilakukan karena perlu ada pengkajian daerah rawan bencana banjir di Wasior.
Decky mengatakan, pengkajian sudah hampir tuntas. Dengan begitu, saat pembangunan 93 hunian sementara rampung dua minggu mendatang, pembangunan fasilitas umum, seperti sekolah, puskesmas, dan jembatan, bisa mulai.
”Setelah hunian sementara selesai, diharapkan warga Wasior yang masih mengungsi di luar Wasior mau kembali dan ikut membangun Wasior,” katanya.
Rehabilitasi fasilitas umum di Wasior berjalan lamban. Rumah sakit belum bisa digunakan karena sebagian ruang tertutup lumpur setebal 30 sentimeter.
”Belum semua ruang di rumah sakit dibersihkan karena kami kekurangan tenaga,” kata dr Habel Pandelaki, Kepala Dinas Kesehatan Teluk Wondama.
Dia menambahkan, hal itu membuat pasien dengan kondisi gawat dan butuh dioperasi harus dirujuk ke Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat. Manokwari
dicapai dengan kapal laut selama 5-10 jam atau pesawat terbang selama 1 jam.
Warga Wasior resah atas lambannya pembangunan fasilitas umum. Willem Imburi (45), warga Kampung Moro, mengatakan, seharusnya fasilitas umum dibangun bersamaan dengan hunian sementara.
Tanggap darurat
Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Olly Dondokambey di Manado, Sulawesi Utara, Selasa, mengkritik pemerintah yang dinilai lamban menggunakan dana tanggap darurat untuk korban bencana.
Menurut Dondokambey, dana tanggap darurat sebesar Rp 150 miliar yang masih mengendap di Kementerian Keuangan belum terpakai. ”Padahal, pembahasan dana on call berikut DIPA sudah selesai dua minggu lalu. Pemerintah tinggal menggunakan untuk kebutuhan logistik korban bencana,” katanya.
Badan Anggaran DPR dan pemerintah juga selesai membahas dana rekonstruksi bencana di Sumatera Barat dan Wasior senilai Rp 1,9 triliun. Total dana cadangan bencana pada APBN 2010 mencapai Rp 4,2 triliun.