Menjaga Warisan Pahlawan

Kompas.com - 10/11/2010, 05:04 WIB

Tepat 65 tahun lalu di hari dan tanggal yang sama dengan hari ini, Surabaya mulai digempur pasukan Sekutu. Pertempuran itu melahirkan sebutan Kota Pahlawan bagi Surabaya. Apa yang bisa dilakukan untuk melestarikan nilai kejuangan atas peristiwa itu? Berikut wawancara dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di ruang kerjanya, Selasa (9/11).

Bagaimana memaknai Hari Pahlawan?

Kalau saya mengelola kota ini untuk kepentingan saya atau golongan saya, saya mencederai tujuan pahlawan (berjuang). Penghargaan saya berikan dengan mengelola kota ini sebaik mungkin. Itu sebenarnya yang diinginkan para pejuang yang rela melepaskan nyawa mereka untuk kemerdekaan Surabaya.

Bagaimana mengaktualisasi Hari Pahlawan?

Pertama, anak-anak harus tahu sejarah Hari Pahlawan. Dia harus tahu bagaimana dan mengapa disebut Hari Pahlawan. Karena itu, kemarin saya tidak mau hanya karnaval (Parade Surabaya Juang, 7 November 2010 dari Kantor Gubernur Jawa Timur ke Balaikota Surabaya). Ada teaterikal tentang sejarah, dulu terjadi apa di kawasan itu.

Saya juga ingin anak-anak bertemu dengan tokoh-tokoh atau pelaku-pelaku peristiwa bersejarah. Pejuang di Surabaya berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Saya ingin ada event mempertemukan pelaku sejarah itu dengan anak-anak.

Kemudian, kalau dulu lawan penjajah, ke depan melawan apa? Paling berat melawan kebodohan dan masalah ekonomi atau kemiskinan. Nah, itu yang harus diperangi bersama.

Saya ingin (peringatan) 10 November untuk bangkitkan masyarakat Surabaya untuk berjuang dari sisi ekonomi. Bagaimana masyarakat merasakan dampak pembangunan dengan menjadi pelakunya. Dengan semangat kepahlawanan ini, masyarakat bersama pemerintah memperjuangkan ekonomi mereka.

Hari Pahlawan tidak bisa lepas dari sosok Bung Tomo. Apakah perlu membuat makam yang lebih bagus?

Ke depan memang ingin menjadikan tempat yang lebih representatif. Memang tidak mudah. Ada masalah-masalah sosial ekonomi warga di sekitarnya. Itu PR saya ke depan.

Jangan sampai ada situs menonjol, sementara masyarakatnya belum merata. Saya bisa saja benahi makam, menjadikannya taman. Akan tetapi, lingkungan sekitarnya (masih) banyak orang bertempat tinggal tidak layak. Saya tidak ingin pembangunan yang seperti itu. Saya tidak ingin pembangunan yang sepotong-sepotong.

Saya ingin kompleks makam yang nyaman, bukan megah. Makam sekarang tidak cukup, akan ditata lagi. Tetapi, (penataan) bukan secara visual saja. Penataan menyeluruh terhadap semua aspek di sekeliling makam.

Bagaimana dengan makam pejuang tak dikenal?

Sebenarnya bisa ditempatkan di makam pahlawan. Namun, tidak bisa begitu saja memindahkan makam. Harus izin keluarga. Apakah mereka tidak keberatan makam itu dipindah?

Tentang status sebagai Kota Pahlawan, apakah Surabaya perlu ikon?

Terus terang saya tidak ingin dilihat dari simbol-simbol. akan tetapi, apa sih esensinya? Banyak juga patung-patung kita buat, tinggal dirawat dan dikelola sebagai penanda Kota Pahlawan.

Saya ingin masyarakat mendapatkan roh Surabaya sebagai Kota Pahlawan, tahu betul apa makna Kota Pahlawan. Tidak hanya tagline (semboyan) atau gedung-gedung. Roh dan semangat yang sebenarnya sudah dimiliki warga Surabaya. Misalnya untuk soal kebersihan, banyak orang yang menjadi pejuang lingkungan.

Bagaimana dengan penghargaan terhadap veteran?

Surabaya rutin memberikan santuan setiap bulan. Jumlahnya lebih besar dari (santunan yang diberikan) pusat. Namun, yang harus diingat pejuang di Surabaya bukan hanya yang tergabung dalam (korps) veteran. Berbagai lapisan masyarakat ikut berjuang. Saya akan mulai membuat penghargaan untuk mereka (masyarakat yang tidak masuk korps veteran).

Bagaimana dengan pelestarian gedung-gedung tua yang banyak di Surabaya?

Surabaya akan buat green map tetenger (penanda) Kota Pahlawan. Peta yang menunjukkan dulu di situ terjadi apa. Di situ (peta) ada cerita dulu ada gedung apa dan apa yang terjadi di dalamnya. Green map itu akan menjadi perlindungan bagi gedung, selain peraturan tentang cagar budaya. Green map itu bisa diakses masyarakat di luar Surabaya dalam bentuk online. Jadi, ada kebanggan tersendiri bagi warga atau pemilik gedung itu.

Dengan memaksimalkan yang ada, apakah Surabaya merasa tidak perlu punya museum representatif?

Saya bermimpi punya museum tentang Surabaya. Museum tentang sejarah lahirnya Surabaya. Jadi suatu saat anak-anak tidak hanya tahu mereka hidup dan beraktivitas di Surabaya. Namun, mereka juga tahu bagaimana Surabaya ini berkembang. Mungkin akan dicarikan tempat. Gedung-gedung tua milik Pemkot atau Pemprov Jatim bisa dijadikan tempat untuk museum itu.

Saya juga ingin mengumpulkan barang-barang apa saja terkait Pertempuran 10 November. Mungkin piring, spanduk, bagde, topi, atau pisau. Barang-barang memorabilia untuk ditaruh di Museum Tugu Pahlawan. Saya merasa museum itu sekarang masih kosong.

Dengan sejarah yang panjang, bagaimana mengelolanya agar bisa dijual sebagai komoditas pariwisata?

Saya tidak hanya menjual gedung-gedung tua yang cantik seperti di Eropa. Surabaya lebih pada membangkitkan kawasan lama. Kampung dengan kenyamanan tinggi dan kesejahteraan tinggiItu yang mau kita jual. (RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau