Timbang Hidup Hewan Kurban Lebih Baik

Kompas.com - 10/11/2010, 11:36 WIB

Tasikmalaya, Kompas - Penjualan hewan kurban dengan cara timbang hidup memberikan kejelasan bagi pembeli yang kebanyakan awam dengan ternak sapi. Dengan timbang hidup, pembeli tidak akan merasa dibohongi oleh penjual sapi.

Peternak sekaligus pedagang sapi di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Nandang Suryana, Selasa (9/11), menuturkan, dirinya memilih menjual sapi untuk kurban dengan timbang hidup agar ada kejelasan bagi konsumen.

”Kalau timbang hidup kan ketahuan berapa bobot sapinya dan setelah dihitung akan ketahuan dapat berapa dagingnya. Dengan begitu, konsumen juga mengerti,” ujarnya.

Pada umumnya pedagang sapi menjual dengan menaksir bobot sapi. Padahal, kata Nandang, sapi dengan penampilan fisik tinggi besar belum tentu lebih berbobot dibandingkan dengan yang pendek.

Nandang sendiri menjual sapi dengan timbang hidup seharga Rp 27.000 per kilogram. Biasanya sapi yang dijual untuk kurban berusia 1-1,5 tahun. Harga taksiran sapi tersebut Rp 7 juta-Rp 8 juta per ekor.

Dia mengakui, menjual sapi dengan menaksir bobotnya akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan menimbang hidup. Akan tetapi, dia lebih merasa tenang jika beradu tawar dengan konsumen jika bobot sapi sesungguhnya telah diketahui.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya Dadang Andri mengatakan, meskipun pedagang sapi diarahkan untuk menjual dengan timbang hidup, tidak semua pedagang memiliki fasilitas menimbang sapi.

Dadang juga menambahkan, untuk kepentingan kurban, terkadang konsumen tidak terlalu memerhatikan bobot. Penampilan fisik sapi yang bagus dan bersih, misalnya, bisa menjadi faktor penentu. ”Terkadang, sapi yang bobotnya tak terlalu besar tapi penampakan fisiknya bagus, harganya lebih mahal,” ujarnya.

Ade Muksin (38), pedagang sapi, mengatakan, Idul Adha menjadi momentum bagi peternak sapi peranakan ongole (PO) untuk menjual sapinya. Sebab, sebagian besar sapi untuk kurban ialah sapi PO yang dipelihara peternak. Oleh karena itu, Ade menilai wajar, jika dengan cara menaksir bobot, peternak mendapatkan untung lebih.

Pemeriksaan

Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya memperkirakan kebutuhan sapi untuk kurban tahun ini mencapai 4.000 ekor. Hal ini, menurut Dadang, didasarkan atas kenaikan tren sejak tahun 2008 (3.812 ekor) hingga 2009 (3.893 ekor). 

Sementara itu, petugas kesehatan hewan dari Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya memeriksa hewan kurban yang dijual pedagang di sejumlah lokasi.

”Kebanyakan sapi ini didatangkan dari luar daerah karena Tasikmalaya belum bisa memenuhi sendiri kebutuhan sapinya. Karena itu, penting untuk memastikan sapi-sapi ini sehat,” kata petugas kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya, Aceu Siti Maemunah.

Meski hewan telah diperiksa, Dadang meminta warga yang akan membeli dan menyembelih hewan kurban memeriksa kembali hewan yang dibelinya. Secara fisik, gejala hewan yang sakit, misalnya, dapat dikenali dari nafsu makan yang kurang, mata redup, bulu kusam, ada sariawan di bibir, serta terdapat luka-luka kecil di sekitar kuku. (adh)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau