Desa wisata

Pembatalan Kunjungan Membuat Terpuruk

Kompas.com - 12/11/2010, 04:44 WIB

SLEMAN, KOMPAS - Desa-desa wisata di Sleman semakin terpuruk akibat bencana Merapi. Dari 38 desa wisata yang ada, tiga desa rusak dan 14 desa ditinggal warganya mengungsi. Pembatalan sewa penginapan pun mulai terjadi, termasuk mereka yang memesan untuk berwisata tahun depan.

Menurut pengelola Desa Wisata Brayut yang juga Kepala Seksi Pemasaran Forum Komunikasi Desa Wisata Sleman Jarwati, sudah puluhan rombongan membatalkan kunjungan ke desa-desa wisata. Mayoritas mereka adalah rombongan anak-anak sekolah dari kota-kota besar seperti Jakarta.

Selama ini, pengunjung dari luar DIY yang banyak memberi keuntungan bisnis desa wisata. ”Yang semakin mencemaskan, beberapa rombongan membatalkan agenda wisata yang dijadwalkan tahun depan,” kata Jarwati, hari Kamis (11/11).

Pembatalan tersebut langsung memengaruhi masa depan desa wisata. Apalagi, pembatalan itu tidak diikuti pemindahan kunjungan ke desa wisata lain yang lebih aman.

Tiga desa wisata yang total tidak bisa beraktivitas ialah Kinahrejo, Petung, dan Gondang, yang total memiliki 75 rumah inap (homestay). Setiap homestay mempunyai 1-4 kamar yang disewakan. Dusun-dusun di lereng Gunung Merapi itu rusak diterjang awan panas.

Terganggu hujan abu

Adapun aktivitas di 14 desa wisata lain di wilayah Kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi, dan Tempel terganggu karena hujan abu vulkanik Merapi. Desa-desa tersebut antara lain Sambi, Turgo, Kaliurang Timur, Srowolan, Kembangarum, Dukuh, Kelor, Garongan, Tunggularum, dan Trumpon.

Kini, perekonomian Desa Wisata Brayut tersendat karena sebagian warga mengungsi. Terlebih lagi sejumlah homestay juga dipakai sebagai tempat pengungsian.

Belum dihitung

Jarwati belum menghitung potensi kerugian yang dialami desa-desa wisata. Ia hanya menyebut, tarif sewa homestay di desa wisata sekitar Rp 65.000 per hari per orang, termasuk makan tiga kali. Paket-paket wisata seperti bercocok tanam, melihat atraksi wisata, dan membuat kerajinan dipatok Rp 10.000-Rp 15.000 per orang.

Menurut Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Shavitri Nurmala Dewi, Sleman masih mempunyai desa-desa wisata lain yang bisa didatangi, seperti Gamplong, Sangubanyu, Plempoh, dan Nawung. Candi Prambanan, Candi Boko, Museum Jogja Kembali, atau Museum Geoteknologi UPN juga masih layak dikunjungi.

Shavitri berharap, erupsi Gunung Merapi cepat selesai dan pengelola desa wisata juga diimbau tetap bersemangat.

”Awalnya berat, tetapi semua pihak akan kami dorong untuk saling bekerja sama,” ujarnya.

(PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau