Letusan merapi

Ancaman dari Hulu Itu...

Kompas.com - 12/11/2010, 09:44 WIB

KOMPAS.com — Amukan Merapi sejak 26 Oktober bukan hanya membawa bencana primer letusan dan awan panas. Bahaya yang tak kalah serius menebar ancaman: lahar dingin.

Badan Geologi Kementerian ESDM memperkirakan, sebagian besar dari 140 juta meter kubik material pasir, kerikil, dan batu erupsi Merapi telah memenuhi hulu-hulu sungai di sektor selatan, barat daya, barat, dan tenggara.

Di antara 12 kali besar yang berhulu di Merapi, tiga di antaranya mengalir ke Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Kali Gendol, Boyong, dan Kuning. Pasir, batu, puing rumah, dan batang pohon memenuhi badan kali. Bahkan, meluap ke bantaran, seperti di Kali Gendol.

Di kali lintasan utama awan panas itu, tinggi lahar dingin menyamai tinggi bantaran kali yang terlihat di sekitar Dusun Plumbon, Umbulmartani, atau 13 kilometer dari puncak Merapi. Di Dusun Ngepringan, Wukirsari, dan Glagah Malang, Glagaharjo, Cangkringan, tinggi timbunan material vulkanik melimpas ke permukiman di pinggir kali.

Sedimentasi setengah kedalaman kali juga terjadi di Kali Kuning di Desa Wedomartani, Ngemplak, dan Kali Balong (perpanjangan Kali Boyong) di Desa Sardonoharjo, Ngaglik. Tinggi sedimentasi di kedua sungai itu mencapai 1 meter, bercampur dengan pohon yang tumbang.

Namun, perhatian khusus tertuju pada Kali Boyong karena lintasannya menusuk langsung ke jantung Kota Yogyakarta dalam aliran Kali Code.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono sejak jauh hari mengingatkan potensi bahaya itu, khususnya pascagelombang erupsi besar 3-5 November lalu. Pantauan terakhir PVMBG, material vulkanik Merapi memenuhi hulu Kali Boyong, 16 kilometer dari puncak.

Hujan intensitas tinggi di daerah hulu yang sewaktu-waktu bisa terjadi memicu gelontoran material itu ke hilir, berupa banjir lahar dingin. Gambarannya terlihat saat banjir lahar itu menerjang Code pada 5 November.

Saat itu, arus  Code begitu deras dengan warna coklat keruh dan bau belerang. Potongan kayu dan batu-batu besar terseret arus bercampur pasir, kerikil, dan lumpur. Beruntung hujan tidak berkepanjangan sehingga limpasan material segera mereda.

Namun, endapan pasir dan lumpur otomatis mempercepat pendangkalan kali. Hal itu memunculkan potensi air akan meluap karena kapasitas tampung Code berkurang. Sekitar 13.000 warga di 14 kelurahan yang bermukim di sepanjang bantaran Code terancam kebanjiran.

Rabu lalu, Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Kota Yogyakarta memperkirakan, endapan di dasar Code mencapai ketebalan 2 meter dari kedalaman kali yang hanya 3-4 meter. Adapun panjang Kali Code yang melintasi Kota Yogyakarta mencapai 6 km dengan lebar 4 meter.

Sejak akhir pekan lalu, warga sepanjang Code secara swadaya mengeruk pasir dan mengisinya ke kantong-kantong untuk meninggikan bibir kali. Ada yang mengeruk pasir untuk kepentingan ekonomi. Pemerintah kota mengerahkan dua unit alat berat backhoe untuk mempercepat pengerukan.

Cukupkah segala upaya itu?

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengakui, upaya itu tak bisa menyelesaikan masalah. Hanya mengurangi saja. Apalagi, upaya percepatan pengerukan dengan alat berat terhambat kendala teknis padatnya permukiman di sepanjang Code.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, manuver alat berat dan tempat pembuangan sedimen yang sebagian besar merupakan pasir menjadi kendala utama saat ini. ”Jalan masuk alat berat di Code hanya ada tiga titik, yakni di Tukangan, Tungkak, dan Bintaran. Lokasi pembuangan hasil kerukan juga harus dipikirkan,” ujarnya.

Mungkinkah ini berarti bencana ikutan Merapi tinggal menunggu waktu? Mudah-mudahan tidak.

(MOHAMAD FINAL DAENG/TIMBUKTU HARTANA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau