Kasus gayus

Din: Perlu 'Big Bang' dari Presiden

Kompas.com - 12/11/2010, 17:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mudahnya Gayus Tambunan keluar masuk Rutan padahal masih berstatus terdakwa, bahkan bepergian hingga ke Bali, dinilai telah mencoreng wajah penegakan hukum di Indonesia.

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin menyebut kondisi ini dengan istilah "aneh tapi nyata". Pasalnya, peristiwa ini terjadi di tengah maraknya pernyataan komitmen pemerintah untuk melakukan penegakan hukum. Hanya, lanjutnya, akan lebih aneh lagi ketika pemimpin negara dan aparat penegak hukum tidak tergerak menuntaskan kasus ini.

"Yang punya tanggung jawab untuk berantas ini adalah aparat penegakan hukum, seperti kepolisian, termasuk menurut hemat saya Bapak Presiden sendiri, mengambil langkah nyata, konkret, untuk turun tangan," katanya di Gedung MPR/DPR/DPR RI, Jumat (12/11/2010).

"Kalau ini tidak ada sentuhan dari atas, big bang, saya enggak yakin ini akan berubah. Ini perlu sebuah big bang," Din menegaskan.

Menurut Din, penyelesaian persoalan bangsa membutuhkan sebuah tindakan yang bersifat seperti ledakan dahsyat dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya dalam kata-kata atau retorika yang membosankan.

Mendorong KPK

Din sepakat bahwa salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengambil alih penanganan kasus Gayus.

"Saya setuju jika segera diambil alih oleh KPK karena dimensi korupsinya sangat kental. Tapi juga jangan ada pelemahan KPK. Kita, rakyat, menunggu fit and proper test Ketua KPK saja kok lama. Sampai sekarang kok belum," ungkapnya.

Menurut dia, dengan demikian peran ini tak hanya peran pemerintah, tetapi juga DPR. Peran juga harus dimainkan oleh masyarakat dan pers. Din mengaku sangat berterima kasih kepada fotografer Kompas yang menangkap sosok Gayus di tengah keriuhan turnamen tenis di Bali.

"Coba kalau tidak terekam foto wartawan. Itu sudah terekam saja masih berkilah, katanya bohong. Tapi setelah ditampilkan data, dia kemudian berbohong lagi. Ini banyak kebohongan dalam kehidupan kita," tandasnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau