Asian games 2010

Indonesia Raih Perak dan Perunggu

Kompas.com - 14/11/2010, 03:54 WIB

Dongguan, Kompas - Ivana Ardelia dan Jadi Setiadi menjadi atlet putri dan putra pertama yang mempersembahkan medali bagi kontingen Indonesia. Ivana Ardelia yang turun di cabang wushu menyumbangkan medali perak. Sementara Jadi Setiadi mendapatkan medali perunggu di cabang angkat besi pada multiajang Asian Games XVI 2010 di Guangzhou, China, Sabtu (13/11).

Turun di perseorangan putri nomor taolu (jurus), Ivana meraih medali perak. Adapun Jadi Setiadi menggaet medali perunggu seusai bertarung ketat di kelas 56 kilogram putra, di Dongguan Gymnasium, Guangdong, China.

Ivana, yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, yang daerahnya kini dilanda musibah letusan Gunung Merapi, mempersembahkan medali perak setelah mendapat nilai cukup baik untuk jurus nanquan saat tampil di Nansha Gymnasium, Guangzhou.

”Hasil yang diperoleh sudah sebanding dengan latihan yang dilakukan Ivana. Ivana sudah lebih dari tiga bulan berlatih di China,” tutur Ngatino, manajer tim wushu Indonesia yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Wushu Indonesia.

Hingga berita ini diturunkan, untuk babak penyisihan nomor sanshou (pertarungan) putri, Indonesia menurunkan atletnya di kelas 60 kilogram. Moria Manalu, atlet andalan dari DKI Jakarta, harus bertarung menghadapi Wejam Al Hunaishi dari Yaman.

Perjuangan

Jadi Setiadi yang bermain di Dongguan Gymnasium, 64 kilometer dari Guangzhou, menjadi putra Indonesia pertama yang meraih medali di Asian Games XVI 2010 setelah melalui perjuangan keras.

”Saya sangat senang bisa meraih medali di Asian Games Guangzhou. Sejak sebelum berangkat ke sini targetnya memang bukan meraih medali,” ujar Jadi kepada Kompas.

Ini diakui Sony Kasiran, manajer tim angkat besi Indonesia. ”Kami hanya berhitung bahwa peluang Jadi Setiadi sekitar 45 dan 55 persen. Jadi, kemenangannya kali ini juga menunjukkan kemampuan mengatur taktik dari pelatihnya, Edi Santoso,” kata Sony.

Jadi Setiadi langsung berlutut setelah mampu melakukan angkatan 151 kilogram untuk clean and jerk dan mampu mendatangkan tepuk tangan penonton yang memadati Dongguan Gymnasium. Ia langsung yakin akan mampu meraih medali perunggu sekalipun lifter Myanmar, Pyae Phyo Phyo, masih memiliki kesempatan angkatan dengan berat barbel yang sama.

Kegagalan Phyo mengangkat barbel mengukuhkan Jadi sebagai peraih perunggu, dengan disaksikan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

Sempat gagal

Pada angkatan snatch Jadi hanya bisa mengangkat beban 120 kilogram. Itu pun merupakan angkatan pertama. Berikutnya, ia gagal pada angkatan kedua seberat 123 kilogram, begitu juga pada kesempatan ketiga dengan berat barbel yang sama.

Dari bawah panggung pelatihnya, Edi Santoso, meneriakkan agar Jadi tidak ragu melakukan tarikan barbel ke atas kepala.

Setelah tampak berdoa sejenak, Jadi pun langsung menyentak barbel seberat 123 kilogram. Barbel sempat terangkat, tetapi tidak bisa tertahan di atas kepala. Keseimbangan Jadi terganggu dan ia pun terjatuh ke belakang bersama dengan barbelnya.

Namun, pada angkatan clean and jerk, Jadi mampu mengangkat barbel mencapai 151 kilogram pada angkatan ketiga. Setelah gagal pada angkatan pertama dengan barbel seberat 148 kilogram, ia mampu menyelesaikan angkatan kedua dengan berat barbel 146 kilogram.

Ternyata angkatan tersebutlah yang membuatnya meraih medali perunggu. Medali emasnya diraih lifter andalan tuan rumah, Wu Jingbiao, yang total angkatannya mencapai 285 kilogram. Adapun medali perak diraih lifter Korea Utara, Kum Choi Cha, yang total angkatannya 276 kilogram, atau 5 kilogram di atas total angkatan Jadi Setiadi.

(A Tomy Trinugroho/ Korano Nicolash LMS dari Guangzhou, China)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau