Yogyakarta, Kompas
Lapisan debu vulkanik Merapi yang berpotensi mengandung hara penyubur tanah untuk pertanian sebenarnya baru bisa dimanfaatkan sekitar 10 tahun setelah peristiwa penyebaran abu vulkanik itu. Penyuburan tanah bisa dipercepat jika dicampur
Meskipun demikian, pemulihan lingkungan dapat dilaksanakan dengan sejumlah pendekatan.
Mereka yang dimintai komentar dan pendapatnya berkenaan dengan upaya pemulihan lingkungan, khususnya penyiapan lahan baru pertanian, dan penggunaan air minum, antara lain Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Junun Sartohadi; ahli mineralogi liat dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB Bogor, Iskandar; ahli kimia dan kesuburan tanah dari Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta, Abdul Syukur; serta Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian Irsal Las.
Junun mengemukakan, tindakan preventif pengurasan sumur tanah atau mata air, untuk menghilangkan kandungan logam berat yang menempel pada debu vulkanik serta mengendap di dasar sumur, perlu dilakukan masyarakat yang lingkungannya terpapar debu vulkanik Merapi.
Menurut Junun, pengurasan merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan logam berat dalam sumur. Penggunaan zat penetral dan penggumpal atau koagulan tidak akan menghilangkan logam berat.
Logam berat merupakan unsur yang tidak mudah dinetralkan. Adapun koagulan hanya berfungsi untuk menjernihkan air. Padahal, air yang terkena debu vulkanik tetap jernih.
Pengurasan serupa perlu dilakukan di tandon-tandon mata air sehingga air yang digunakan masyarakat sehat kembali. Jenis logam berat yang menempel pada debu vulkanik antara lain kadmium dan tembaga. Meskipun jumlahnya sangat sedikit, tubuh tidak boleh sama sekali terpapar oleh logam berat.
”Dengan dikuras, air sumur tetap akan sama jernihnya, tetapi terbebas dari logam berat yang berbahaya bagi kesehatan,” katanya.
Untuk pemupukan, Junun melihat pemindahan debu vulkanik ke daerah tandus dan daerah dengan lapisan tanah tipis akan membantu menyuburkan tanah. ”Partikel debu vulkanik sangat mudah lapuk sehingga sangat bagus digunakan sebagai bahan material tanah. Pemindahan ke tempat tandus akan membuat daerah itu menjadi subur.”
Namun, ahli mineralogi liat dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB Bogor, Iskandar, yang melihat debu vulkanik kaya akan unsur hara penyubur tanah, tak serta-merta membuat tanah subur.
”Itu harus menunggu waktu hingga 10 tahun. Upaya percepatan pelapukan dapat dilakukan dengan menambah kompos, urea, dan ekstrak senyawa humat atau senyawa hasil ekstraksi bahan organik pada humus,” kata Iskandar.
Dalam uji laboratorium, penambahan senyawa itu akan mempercepat pelapukan hingga sekitar separuhnya atau cukup lima tahun saja.
”Berbagai unsur hara, termasuk belerang, yang ada pada permukaan material debu vulkanik sangat mudah terbawa air saat hujan tiba. Adapun unsur hara yang ada dalam partikel debu vulkanik akan dikeluarkan secara perlahan hingga waktu yang lama,” ujar Iskandar.
Debu vulkanik yang sudah dingin, kata Iskandar, dapat langsung dimanfaatkan sebagai media tanam. Namun, jika ditambah kompos hingga pelapukannya jadi cepat, debu vulkanik itu akan menjadi pupuk.
Namun, Abdul Syukur dari UGM mengatakan, jika campuran debu vulkanik itu dijaga kelembabannya agar cepat menyatu, hanya diperlukan dua hingga tiga minggu tanah itu dapat ditanami. ”Tanaman apa saja bisa,” ujarnya.
Sementara itu, Irsal Las, Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian, mengatakan, unsur hara yang terkandung dalam pasir dan debu vulkanik, antara lain, adalah kalium, natrium, fosfor, kalsium, dan magnesium. Dalam jangka panjang, material tersebut dapat menyuburkan tanah.
Adapun daerah dengan timbunan abu vulkanik sangat tebal akan lebih baik jika menggunakan pengembangan tanaman tahunan.