KOMPAS.com — Meletusnya Gunung Merapi menimbulkan dampak terhadap hampir semua sektor, tak terkecuali perikanan. Para petani benih ikan di Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini harus menelan kenyataan pahit. Hampir semua ikan peliharaan mereka mati.
Sejumlah kolam ikan yang berada di tengah sawah kini kebanyakan dibiarkan terbengkalai. Para petani enggan memanen karena hasilnya sangat sedikit. ”Habis terkena abu, hampir semua ikan mati. Jadi biarkan saja di sawah,” kata Isman (35), petani di desa tersebut, Jumat (12/11/2010).
Isman memiliki tiga petak kolam benih ikan. Kolam-kolam tersebut berisi sekitar 10.000 ekor benih ikan mujair seharga sekitar Rp 1 juta. Akibat terkena abu vulkanik, sebagian besar ikan mati. Ikan di dalam kolamnya kini diperkirakan tersisa sekitar 10 persen.
Sebagai petani kecil, nilai Rp 1 juta sangat berharga. Terlebih selama ini usaha itu merupakan andalan bagi keluarganya, yang terdiri dari satu istri dan dua anak.
Muhtadi (39), petani benih ikan lain, hanya bisa mengelus dada saat mengetahui 20 petak kolam ikannya rusak. Tingkat kematian ikan di tiap kolam sekitar 80-90 persen. ”Sepuluh persen yang masih hidup mendapat air sumber (mata air). Kolam yang mendapat aliran air sawah mati semua,” katanya.
Padahal, tiap satu petak kolam rata-rata berisi 20.000 ekor benih ikan senilai Rp 2,5 juta. Akibatnya, ia merugi hingga Rp 50 juta. ”Ikan mati karena kandungan asam pada abu sangat tinggi,” katanya.
Kondisi itu diperparah dengan lesunya kondisi sektor perdagangan benih ikan. Selama ini pasar benih ikan terbesar dari Magelang adalah DI Yogyakarta, terutama Sleman. Per harinya Muhtadi bisa menjual 30.000-40.000 ekor benih ikan dengan nilai Rp 3 juta-Rp 4 juta.
Namun, wilayah pemasaran ikan juga terkena dampak letusan Gunung Merapi. Akibatnya, permintaan benih ikan dari DIY nyaris terhenti.
Saat ini Muhtadi mengaku hanya melayani permintaan benih ikan dari Kabupaten Wonosobo dan Temanggung. Namun, permintaan benih ikan dari wilayah itu sangat sedikit, rata-rata hanya 1.000 ekor per hari.
Menurut dia, untuk mengembalikan kondisi kolam dibutuhkan waktu setidaknya satu bulan. Itu pun dengan catatan setelah Merapi berhenti meletus. ”Kalau Merapi masih terus meletus, ya waktunya lebih lama lagi,” kata Muhtadi.
Untuk mengembalikan usaha, petani juga membutuhkan modal. Dalam kondisi seperti ini, dipastikan bank-bank umum tidak akan bersedia menyalurkan kredit. Bagi petani yang memiliki simpanan modal, mereka akan berusaha bangkit dengan kemampuannya sendiri.
Namun, bagi petani yang tidak memiliki simpanan modal, mereka akan semakin terpuruk.
”Kondisi ini memang parah sekali,” tutur Sri Haryanti (37), petani ikan lain. Ia mengaku kehilangan sekitar 10 petak benih ikan. Selain itu, ikan-ikan milik petani di bawah asuhannya juga mati semua. Sri memiliki sekitar 25 petani asuhan, dengan kerugian tiap petani sekitar Rp 10 juta.
Saat ini ia dan para petani asuhannya harus kembali memulai usaha dari nol. Untuk itu, Sri mengaku membutuhkan modal yang besar. Oleh