Garuda Belum Normal

Kompas.com - 23/11/2010, 03:33 WIB

jakarta, kompas - Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, penerbangan maskapai nasional itu diprediksi baru akan normal pada Kamis (25/11). Supaya Garuda optimal menuntaskan gangguan operasional, pada hari Selasa dan Rabu tak akan ada penjualan tiket.

Hingga Senin ratusan penumpang tujuan Biak dan Jayapura telantar lebih dari tiga jam di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, sedangkan dua penerbangan ke Jakarta dibatalkan.

Administrator Bandara Hasanuddin, M Sidabutar, mengatakan, ratusan penumpang GA 650 tujuan Biak dan Jayapura akhirnya dipindahkan ke Lion Air. Pesawat GA 650 yang sedianya berangkat pada pukul 03.55 Wita baru tiba dari Jakarta sekitar pukul 09.00.

Sementara itu, di Bandara Polonia, Medan, penerbangan Garuda pada Senin relatif lancar. Hanya satu penerbangan yang terlambat tiba, dari pukul 15.00 menjadi pukul 16.06.

Dari Padang, General Manager PT Angkasa Pura II Cabang Bandara Internasional Minangkabau Agus Kemal menyebutkan, Senin, ada keterlambatan penerbangan Garuda menuju Jakarta selama setengah jam.

Di Semarang, mantan Menteri Kehutanan MS Kaban yang menjadi penumpang GA 239 menilai, tak seharusnya perubahan sistem mengorbankan penumpang.

Seharusnya, ujar Kaban, perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. Kaban mengaku, sebelumnya sudah tiga kali menanyakan apakah pesawat yang ditumpanginya turut tertunda, tetapi dijawab tetap sesuai jadwal. Namun, pesawat itu ternyata tertunda. Dari Madinah dilaporkan, sekitar 5.000 jemaah haji dari berbagai penyelenggara haji khusus (ONH plus) hingga Senin sudah 30 jam menunggu kepastian pulang ke Tanah Air.

Namun, Vice President Corporate Communications Garuda Pujobroto mengatakan, ”Keterlambatan pesawat haji tak terkait masalah sistem baru Garuda. Itu masalah klasik karena kepadatan di Bandara Madinah.”

Penggantian tiket

Garuda juga berupaya keras mengembalikan kepercayaan penumpang. Menurut Pujobroto, bila ada pembatalan, Garuda akan membayar dua kali lipat harga tiket. Sementara itu, bila penumpang tetap terbang, Garuda memberi uang kontan senilai harga tiket.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, manajemen Garuda perlu menyelesaikan semua masalah sebelum rencana penawaran saham perdana awal tahun 2011.

Publik juga harus dijelaskan masalah yang sedang dihadapi agar eskalasi masalahnya tidak membesar. ”Apalagi, Garuda akan IPO. Penjelasan itu diperlukan untuk menghindari turunnya kepercayaan publik terhadap Garuda, baik masyarakat domestik maupun luar negeri,” katanya.

Sementara itu, pengurus Serikat Karyawan Garuda Tommy Tampaty membantah informasi gangguan jadwal penerbangan Garuda terkait adanya mogok karyawan.

”Gangguan itu murni karena implementasi sistem, sementara karyawan Garuda tetap bertugas seperti biasa. Memang ada masalah hubungan industrial, tetapi tak ada aksi mogok. Namun, kami prihatin gangguan sistem masih terjadi,” kata Tommy.

Implementasi sistem baru Integrated Operation Control System (IOCS), yang diaplikasikan sejak Kamis pekan lalu, telah menyebabkan gangguan pada jadwal penerbangan Garuda.

IOCS yang diterapkan di Garuda sebenarnya sistem yang digunakan oleh maskapai nasional Jerman, Lutfhansa.

Teknologi Informasi ini merupakan perangkat lunak, yang memungkinkan pertukaran data dan komunikasi antarunit bisnis. Ketika IOCS diterapkan, ketepatan waktu penerbangan dipastikan akan meningkat.

Dengan adanya IOCS, indikator-indikator, seperti jadwal pemeliharaan dan perputaran pesawat, penerbangan, kru, hingga kondisi dan volume penumpang, akan dipaparkan secara online. Indikator pun segera dianalisis sehingga keputusan bisa segera diambil.

(RYO/OIN/HAM/GAL/INK/MHD/MHF/BAY/RIZ/KEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau