Lahan kritis

Hutan DAS Batanghari Tinggal 3,5 Persen

Kompas.com - 23/11/2010, 16:49 WIB

JAMBI, KOMPAS.com - Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai Batanghari Provinsi Jambi mendata hutan di sepanjang aliran sungai ini yang masih dalam kondisi baik tinggal 3,5 persen. Sebanyak 4,9 juta hektar hutan dalam keadaan sangat kritis hingga potensial kritis.

Berdasarkan data BP DAS Batanghari, kawasan hutan yang kondisinya tidak kritis hanya 173.300 hektar, dari total 5,1 juta hektar di sepanjang DAS Batanghari. Lahan yang kondisinya masih baik ini berada pada kawasan hutan konservasi seluas 83.725 hektar, hutan produksi terbatas 48.165 hektar, hutan lindung 20.967 hektar, hutan masyarakat 14.490 hektar, dan hutan produksi 5.959 hektar.

Sedangkan kondisi lahan yang sangat kritis dan kritis di sepanjang DAS Batanghari telah mencapai 662.297 hektar. Selain itu, lahan yang agak kritis dan potensial kritis sebanyak 4,2 juta hektar.

Hutan yang kondisinya telah kritis tersebut sebagian besar dalam kondisi kritis dan sangat kritis berada pada hutan masyarakat seluas 302.000 hektar, dan hutan produksi seluas 236.000 hektar.

"Lahan menjadi kritis karena telah beralih fungsi," ujar Misran, Kepala BP DAS Batanghari.

Misran melanjutkan, luasnya hutan yang beralih fungsi lebih disebabkan faktor manusia, dan tumbuhnya euforia akan komoditi. Akibatnya, banyak hutan tidak lagi dapat berfungsi maksimal dan bahkan meningkatkan frekuensi bencana seperti banjir dan longsor.

Untuk menekan keluasan lahan kritis, pihaknya sejauh ini terus melaksanakan program penanaman pohon. Pihaknya tengah menyiapkan penanaman pohon pada 131 unit kebun rakyat di Jambi. Ini untuk mendukung program nasional atas penanaman 1,6 juta hektar lahan kritis.  Selain itu, pihaknya juga mengupayakan setiap kegiatan yang digelar kalangan pemerintahan maupun swasta, diikuti dengan gerakan menanam pohon. "Setiap kegiatan perlu diikuti gerakan menanam pohon agar semakin banyak lahan hijau," tuturnya.

Lahan pertanian

Dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Prof Naik Sinukaban mengatakan, masifnya pengalihfungsian lahan pertanian membuat kondisinya semakin kritis. "Hal itu mengakibatkan manusia yang tinggal dalam lahan kritis tidak dapat banyak bergantung untuk mengelola sumber penghidupannya dari lahan. Lahan sudah terdegradasi berat," tuturnya.

Naik mencatat lahan di Indonesia yang sudah kritis mencapai lebih dari 30 juta hektar. Selain menimbulkan dampak bencana alam, lahan menjadi tidak mampu memberikan produktivitas yang maksimal pada tanaman.

Menurut Naik, pemerintah perlu segera mengupayakan terobosan efektif untuk menyelamatkan lahan-lahan pertanian sebelum kondisinya telanjur menjadi kritis. Salah satunya dengan melakukan upaya konservasi tanah yang mengarah pada terciptanya sistem pertanian berkelanjutan. Hal itu dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dan peningkatan fungsi kelembagaan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelestarian sumber daya lahan dan lingkungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau