Suu Kyi Jemput Anak

Kompas.com - 24/11/2010, 03:36 WIB

YANGON, SELASA - Setelah terpisah sepuluh tahun, Aung San Suu Kyi dan anak bungsunya, Kim Aris (33), berkumpul kembali di Yangon, Myanmar, Selasa (23/11). Junta Myanmar memberi visa kepada Kim, yang sudah menunggu di Bangkok, Thailand, sebelum pembebasan ibunya pada 13 November.

Suu Kyi (65) menunggu kedatangan putranya di terminal bandara internasional Yangon dengan pengawalan ketat. ”Saya sangat bahagia,” tutur Suu Kyi dengan mata berkaca-kaca saat melihat Kim.

Suu Kyi pun memeluk Kim, yang kemudian melepas baju luar seraya menunjukkan tato bergambar burung merak dan bintang simbol partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai Suu Kyi, di lengan kirinya. Suu Kyi mengamati tato itu, lalu tersenyum. Dia pun menggandeng Kim keluar dari bandara.

Kim mengatakan, ia berencana menghabiskan waktu bersama ibunya selama dua minggu. Kim, yang tinggal di Inggris, terakhir bertemu ibunya pada Desember 2000. Sejak saat itu, permohonan visa untuk berkunjung ke Yangon selalu ditolak oleh junta.

Kontak dengan ibunya pun sangat sulit karena dalam tahanan rumah. Suu Kyi tak memiliki sambungan telepon ataupun akses internet dan dibatasi ketat berhubungan dengan dunia luar.

Suu Kyi memiliki dua anak, satu lagi bernama Alexander Aris (38),

dari almarhum suaminya akademisi Inggris, Michael Aris. Kabar soal Alexander yang tinggal di Amerika Serikat tidak diketahui.

Keluarga ini praktis terpisah sejak Suu Kyi terlibat aktivitas prodemokrasi di Myanmar pada 1988, yang berujung pada pengenaan status tahanan rumah pada Suu Kyi tahun 1999.

Suu Kyi selalu menolak tawaran junta agar ia tinggal bersama keluarganya di Inggris. Suu Kyi khawatir, begitu pergi, dia tak akan pernah diizinkan pulang.

Permohonan visa oleh almarhum Aris untuk menengok istrinya selalu ditolak hingga meninggal karena kanker prostat pada 1999. Sampai sekarang Suu Kyi juga belum pernah melihat dua cucunya.

Suu Kyi mengakui, anak-anaknya sangat menderita dengan kondisi keluarga yang terpisah itu, terutama sejak Aris wafat. ”Michael adalah seorang ayah yang sangat baik. Saat dia sudah tiada, semuanya tak semudah dulu lagi,” tutur Suu Kyi.

Suu Kyi dan Kim berencana mengunjungi Pagoda Shwedagon di Yangon, Rabu ini, setelah itu berkunjung ke saudara-saudara. Di pagoda itulah pertama kali Suu Kyi menyampaikan pidato politik pada 1988, dihadiri suami dan dua putranya.

Janji Presiden Filipina

Presiden Filipina Benigno Aquino III berjanji kepada Suu Kyi akan mendukung penyebaran demokrasi di Myanmar. Filipina adalah negara anggota ASEAN yang paling lantang mengecam junta Myanmar, yang dipimpin Jenderal Than Shwe.

”Saya berjanji karena kestabilan Myanmar stabil, juga merupakan stabilitas kawasan. Filipina akan mendorong hal itu untuk menegakkan demokrasi demi kestabilan Myanmar,” kata Presiden Aquino, putra dari Benigno Aquino (nama sama). Ayahnya, musuh almarhum mantan Presiden Ferdinand, mati ditembak saat mendarat di bandara Manila tahun 1983 setelah kembali dari pengasingan di AS. (AP/AFP/CNN/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau