Suu Kyi (65) menunggu kedatangan putranya di terminal bandara internasional Yangon dengan pengawalan ketat. ”Saya sangat bahagia,” tutur Suu Kyi dengan mata berkaca-kaca saat melihat Kim.
Suu Kyi pun memeluk Kim, yang kemudian melepas baju luar seraya menunjukkan tato bergambar burung merak dan bintang simbol partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai Suu Kyi, di lengan kirinya. Suu Kyi mengamati tato itu, lalu tersenyum. Dia pun menggandeng Kim keluar dari bandara.
Kim mengatakan, ia berencana menghabiskan waktu bersama ibunya selama dua minggu. Kim, yang tinggal di Inggris, terakhir bertemu ibunya pada Desember 2000. Sejak saat itu, permohonan visa untuk berkunjung ke Yangon selalu ditolak oleh junta.
Kontak dengan ibunya pun sangat sulit karena dalam tahanan rumah. Suu Kyi tak memiliki sambungan telepon ataupun
Suu Kyi memiliki dua anak, satu lagi bernama Alexander Aris (38),
dari almarhum suaminya akademisi Inggris, Michael Aris. Kabar soal Alexander yang tinggal di Amerika Serikat tidak diketahui.
Keluarga ini praktis terpisah sejak Suu Kyi terlibat aktivitas prodemokrasi di Myanmar pada 1988, yang berujung pada pengenaan status tahanan rumah pada Suu Kyi tahun 1999.
Suu Kyi selalu menolak tawaran junta agar ia tinggal
Permohonan visa oleh almarhum Aris untuk menengok istrinya selalu ditolak hingga meninggal karena kanker prostat pada 1999. Sampai sekarang Suu Kyi juga belum pernah melihat dua cucunya.
Suu Kyi mengakui, anak-anaknya sangat menderita dengan kondisi keluarga yang terpisah itu, terutama sejak Aris wafat. ”Michael adalah seorang ayah yang sangat baik. Saat dia sudah tiada, semuanya tak semudah dulu lagi,” tutur Suu Kyi.
Suu Kyi dan Kim berencana mengunjungi Pagoda Shwedagon di Yangon, Rabu ini, setelah itu berkunjung ke saudara-saudara. Di pagoda itulah pertama kali Suu Kyi menyampaikan pidato politik pada 1988, dihadiri suami dan dua putranya.
Presiden Filipina Benigno Aquino III berjanji kepada Suu Kyi akan mendukung penyebaran demokrasi di Myanmar. Filipina adalah negara anggota ASEAN yang paling lantang mengecam junta Myanmar, yang dipimpin Jenderal Than Shwe.
”Saya berjanji karena kestabilan Myanmar stabil, juga merupakan stabilitas kawasan. Filipina akan mendorong hal itu untuk menegakkan demokrasi demi kestabilan Myanmar,” kata Presiden Aquino, putra dari Benigno Aquino (nama sama). Ayahnya, musuh almarhum mantan Presiden Ferdinand, mati ditembak saat mendarat di bandara Manila tahun 1983 setelah kembali dari pengasingan di AS.