Basrief jadi jaksa agung

Dharmono Sempat Terkejut

Kompas.com - 25/11/2010, 22:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksana Tugas Jaksa Agung Dharmono mengaku belum tahu nama pengganti dirinya saat pers menyebutkan nama mantan Wakil Jaksa Agung Basri Arief yang telah ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (25/11/2010) sore, seusai Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta.

"Saya baru dengar besok akan dilantik, akan tetapi, sungguh, saya tidak tahu siapa orangnya," ujarnya berkali-kali.

Saat disebutkan nama Basrief Arief, Dharmono agak terkejut dan menjawab, "Ya, kalau memang betul dia, ya, tidak apa-apa juga. Dia kan senior kita juga. Namun, sekarang dia bekerja di kantor konsultan hukum juga," jelasnya.

Seusai dicegat pers soal nama Basrief Arief, Dharmono terlihat langsung sibuk menelpon ke sana ke mari di halaman Istana sehingga menarik perhatian pers yang masih lalu lalang di sekitar lokasi itu. Tampaknya, Dharmono ingin memastikan kebenaran nama Basrief Arief yang dikonfirmasikan pers.

Ketidaktahuan Dharmono kalau Presiden Yudhoyono sudah menetapkan Basri Arief, memang agak ironis baginya. Maklumlah, sebelum Sidang Kabinet, Dharmono yang juga ditanya meminta pers bersabar soal calon Jaksa Agung definitif. "Sabar-sabar saja. Sekarang masih belum diputuskan," ujarnya tenang.

Sementara, Menko Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, yang ikut mendampingi Presiden dalam keterangan pers mengenai Jaksa Agung definitif, Kamis petang itu, juga mengaku baru tahu beberapa saat sebelum keterangan pers Presiden tentang pengangkatan Basrief Arief.

Saat ditanya Kompas, nama Basrief Arief adalah bukan nama jaksa dari delapan nama yang pernah dicalonkan oleh mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji beberapa waktu lalu, Djoko balik bertanya, "Loh, memangnya, kenapa kalau Presiden tidak menetapkan satu pun dari delapan nama yanng diajukan itu? Presiden kan punya prerogatif dan dasarnya semua itu adalah undang-undanag. Jadi, Presiden bisa memilih jaksa karir, non jaksa atau pun lainnya," kata Djoko lagi.

Tentang pelantikan Jaksa Agung, Djoko memastikan, Kamis (26/11/2010) sore pukul 15.00 WIB di Istana Negara. Isyarat Presiden Sebelumnya, saat mengawali pembukaan Sidang Kabinet, Presiden Yudhoyono sudah memberikan isyarat menetapkan Jaksa Agung yang baru.

"Dalam waktu segera, saya akan memilih dan melantik ketua dan anggota Komisi Kejaksaan dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), maka, Insya Allah, dalam waktu dekat ini, saya akan melantik saya juga akan mengangkat dan melantik Jaksa Agung definitif," tandas Presiden.

Dengan demikian, tambah Presiden, terbentuknya Komisi Kejaksaan dan Kompolnas dalam waktu segera, akan menjadi penting dan cepat. "Sebenarnya, itu sudah jatuh tempo. Bulan Desember depan, semuanya harus sudah selesai, termasuk pelantikan ketua dan anggota Komisi Kejaksaan dan Kompolnas sehingga saya bisa memastikan penegakan hukum berjalan dengan baik," jelas Presiden lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau