Merasakan Sensasi All-New Jupiter MX di Sirkuit Balap

Kompas.com - 26/11/2010, 08:16 WIB

SENTUL, KOMPAS.com - Setelah sempat menjajal sedikit Yamaha Jupiter MX baru di ruang terbatas awal pekan ini, KOMPAS.com diajak lagi untuk merasakan sensasinya di trek balap Sentul, Jawa Barat, Kamis (25/11). PT Yamaha Motor Kencana Indonesia juga mengajak puluhan jurnalis untuk mengetahui kemampuan lebih jauh sepeda motor bebek ini.

Sebelum "ngegas" perlengkapan keamanan digunakan, mulai dari helm, pelindung lengan-kaki, dan sarung tangan.

Akselerasi
Masuk gigi pertama, tenaga MX baru terasa responsif ketika grip gas ditarik dengan cepat. Hanya dalam beberapa detik, speedometer sudah menunjuk angka 20 km/jam, suara mesin meraung menandakan putaran sudah mencapai top-nya. Pindah ke gigi 2, mencapai 60 km/jam, gigi 3 (80 km/jam) dan gigi 4 (100 km/jam).

Dengan bobot tubuh 110 kg, top speed yang bisa dicapai hanya 100 km/jam. Tapi, ada rekan lain yang mengaku mampu menembus 130 km/jam saat melaju di trek lurus. Semuanya berdasarkan speedomter pada sepeda motor.

YMKI mengatakan, MX baru ini dikembangkan berdasarkan hasil survei konsumen. Karena itu, akselerasi lebih diutamakan ketimbang kecepatan tinggi. "Dari survei 10 konsumen, hanya 2 orang yang menginginkan kecepatan top lebih tinggi. Mayoritas lebih mementingkan akselerasi," ujar Muhammad Abidin, Manager Technical Support Service Division, YMKI.

Saat di gigi 3, terasa seperti ada "limiter" yang mencegah MX ini menembus 80 km/jam. Gigi harus dipindahkan ke gigi posisi lebih tinggi agar laju motor turun. "Yamaha tetap mengutamakan keselamatan. Kalau mau kemampuan lebih, bisa dimodifikasi tapi tak kami rekomendasi," jelas Abidin.

Pengendalian
Unggulan MX baru yang belum dimiliki kompetitor adalah pelek 2.50/17 dan ban 100/17/70 (paling lebar di kelasnya). Hasilnya, kemampuan bermanuver di berbagai tikungan Sentul, termasuk "S" kecil, dilahap pada 70 km/jam.

Saat menikung, pengendalian mantap! Sepeda motor tetap stabil dan tak perlu khawatir tatakan kaki (footstep) menyentuh aspal. Suspensi depan terasa terlalu empuk. Kondisi ini sedikit mengganggu pengendara dengan bobot lebih berat: Yamaha lebih memilih setelan yang menghasilkan kenyamanan.

Setang kemudi yang lebih menekuk ke dalam, 19 derajat, (MX lama 16 derajat), membuat sepeda motor ini lebih nyaman diajak meliuk-liuk di antara kerucut (cone) yang berjarak 1 meter.

Harga
Untuk harga, Yamaha belum memberikan kepastian. Pasalnya, peluncuran resmi  All New Jupiter MX dilakukan akhir  mingu ini.

"Ini yang belum bisa dibicarakan. Kami masih menghitung. Kesulitan meluncurkan produk di akhir tahun harus mempertimbangkan kemungkinan naiknya pajak di awal tahun. Kami masih mempertimbangkan, apakah akan menetapkan harga tertinggi sehingga tahun depan tak perlu ada kenaikan atau sebaliknya," papar Paulus Sugih Firmanto, General Manager Promotion and Motorsport, YMKI.

Di Jakarta, varian tertinggi Jupiter MX lama dibanderol Rp 15,425 juta. Paulus mengatakan, “Perubahan sangat banyak. Jadi, kemungkinan, harganya lebih tinggi. Tapi, tetap ditekan semaksimal mungkin." Bisa jadi, harga psikologisnya, sekitar Rp 16 juta?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau