Kisah di balik penunjukan basrief arief (2)

Saya Diminta Benahi Kejaksaan Agung

Kompas.com - 26/11/2010, 13:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Permintaan untuk menjadi Jaksa Agung datang tiba-tiba dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Basrief Arief yang memenuhi undangan Presiden ke Istana diminta membenahi institusi kejaksaan yang menurut Presiden telah luluh lantak karena berbagai kasus yang melibatkan pegawai dan petinggi kejaksaan.

"Beliau tidak menyatakan pertimbangan seperti apa dan karena apa. Yang pasti beliau menginginkan ketika sudah menjadi Jaksa Agung, fokus dalam penegakan hukum karena gonjang-ganjing penegakan hukum begitu dahsyat. Saya diminta membenahi Kejaksaan Agung," ujar Basrief di kediaman pribadi, Jalan Tanjung Duren, Jakarta, Jumat (26/11/2010).

"Saya katakan siap," ujar Basrief. Ia menjelaskan, sejumlah agenda prioritas akan dijalani selepas Presiden Yudhoyono melantiknya di Istana Negara, Jakarta.

"Saya secara simultan akan membenahi sumber daya manusia dan teknis penanganan perkara," katanya.

Menyangkut pembenahan sumber daya manusia, Basrief mengemukakan, ia akan membenahi kejaksaan dengan berbagai masukan sejawatnya di lembaga tersebut. "Ada kemungkinan moratorium penerimaan pegawai. Kita tata ulang kembali, kenapa sampai begitu bermasalah," paparnya.

Dari sisi penanganan perkara, dia mengaku akan menangani perkara-perkara yang disebut lolos dari penanganan serius kejaksaan. "Saya membaca media, perkara yang lolos ini mencapai 42 persen. Nah, ini perlu kami lakukan eksaminasi kasus-kasus yang menyebabkan bisa lolos," tuturnya.

"Ini ada dua kemungkinan. Mungkin jaksanya yang tidak mampu secara teknis, ya kami tingkatkan kemampuannya. Tapi kalau itu perbedaan persepsi, kami lakukan evaluasi dari teoretis dan praktis," urainya.

Dia menambahkan bahwa kasus yang saat ini menjadi perhatian masyarakat, seperti kasus yang didalangi mantan pegawai pajak Gayus Tambunan, bakal menjadi bidikan kerja.

"Itu memang menjadi perhatian saya. Saya akan menelisik seberapa jauh penanganan kasus ini, dan seberapa jauh pembuktiannya. Kalau cukup alasan, ya kami limpahkan, tentu dengan turunan kasusnya," imbuhnya. (Ade Masayanto)


(Bersambung - Bagian 2 dari 3 tulisan)

_____________________________________
<<Sebelumnya: Ditelepon Sudi, Basrief Bingung
>>Selanjutnya : SBY-Basrief Sudah Kenal Lama

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau