CINANGKA, KOMPAS.com — Selama tiga jam 35 menit total kegempaan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Kamis sebanyak 63 kali.
"Setelah kurang lebih tiga hari, alat penangkap gempa, solar panel, yang ada di Gunung Anak Krakatau tidak berfungsi, pada Kamis kemarin alat itu berfungsi tak kurang dari tiga jam 35 menit, merekam 63 kali kegempaan," kata Kepala Pos Pemantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Anton S Pambudi, Jumat (26/11/2010).
Aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau terekam pada Kamis pukul 09.22 sampai 12.57 WIB, di mana vulkanik dangkal (VB) 14 kali, tremor letusan sembilan kali, embusan 16 kali, dan letusan 24 kali.
"Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status GAK pada level II atau 'waspada'," katanya.
Pada status itu juga masih, menurut Anton, pihaknya masih melarang warga atau turis untuk mendekat pada radius 2 kilometer.
"Rekomendasi kami masih sama sejak gunung itu masuk pada level II," ujarnya.
Sementara untuk ketinggian asap GAK masih, menurut Anton, mencapai 1.000 meter berwarna kelabu kehitam-hitaman mengarah ke utara.
"Visual Gunung Anak Krakatau dilihat dari pos pemantau sangat jelas, seiring dengan cuaca di sekitar gunung dan pos pemantau cerah," katanya.
Diketahui, salah satu komponen alat penangkap gempa GAK, Solar Panel, sejak tanggal 22 November pukul 12.31 WIB tidak berfungsi lantaran tertutup oleh debu vulkanik dari perut Gunung Anak Krakatau.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang