TKW Asal Banyumas Hilang

Kompas.com - 27/11/2010, 03:51 WIB

Banyumas, Kompas - Dua tenaga kerja wanita asal Banyumas, Jawa Tengah, yang bekerja di luar negeri sejak belasan tahun silam, tidak diketahui kabarnya. Mereka adalah Kuswati, warga Desa Kaliwedi, Kecamatan Kebasen, dan Eri Supriani, warga Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden.

Muhtarom, kakak Kuswati, Jumat (26/11), menuturkan, adiknya berangkat sebagai TKW di Arab Saudi pada 18 Oktober 1992 atau 18 tahun silam melalui perusahaan pengerah jasa TKI PT Duta Wibawa.

Dia menerima kabar terakhir tentang Kuswati pada Januari 1993.

”Waktu itu dia kirim surat dan bilang kalau sudah bekerja di rumah seorang majikan di Arab Saudi,” kata Muhtarom.

Dalam surat tersebut dituliskan, Kuswati bekerja di kota Al Baha. Muhtarom membalas surat tersebut, tetapi kantor pos di Arab Saudi mengembalikannya karena alamat tidak dikenal. Sejak saat itu, Muhtarom tidak lagi bisa berkomunikasi dengan Kuswati.

Berbagai upaya dia lakukan, mulai dari menghubungi calo dan pengerah jasa TKI yang memberangkatkan adiknya, dinas tenaga kerja setempat, hingga mendatangi Markas Koramil Kebasen.

Namun, Muhtarom gagal menemukan adiknya. Bahkan, dia sempat tertipu oknum koramil setempat yang meminta sejumlah uang untuk mencari adiknya.

Dengan bantuan dosen Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Imron Rosyadi, Muhtarom mengirimkan surat kepada Atase Tenaga Kerja Kedutaan Besar RI di Riyadh dan Bagian Tenaga Kerja Konsulat Jenderal RI di Jeddah.

Namun, berdasarkan jawaban dari KJRI Jeddah, keberadaan Kuswati tak lagi bisa dilacak karena alamat majikan yang pernah disebutnya itu tak ada.

”Saya sampai bingung harus bagaimana lagi untuk menemukan adik saya,” kata Muhtarom.

Diminta bayar Rp 2 juta

Keluarga Eri Supriani juga mengalami kondisi yang sama. Menurut Rakum (45), ayah Eri, putrinya itu pamit pergi bekerja ke Malaysia sejak tahun 1999. Saat berangkat, Eri masih 14 tahun. Bahkan, saat berangkat, Eri baru akan naik ke kelas II SMP.

”Karena khawatir, satu bulan setelah dia berangkat, saya menyusul ke penampungannya di Jakarta. Saya ingin mengajaknya pulang. Tetapi, sama PT yang punya penampungan itu dilarang. Boleh dibawa pulang asalkan bayar Rp 2 juta. Saya tak punya uang,” tutur Rakum.

PT pemilik penampungan tersebut adalah PT Amira Prima. Belakangan PT tersebut berubah nama menjadi PT Bandar Laguna. Setelah pertemuan di penampungan itu, Rakum tak lagi bertemu dan berkomunikasi dengan Eri. Dia pernah meminta tolong lembaga bantuan hukum dan dinas tenaga kerja setempat, tetapi jejaknya putrinya tak pernah ditemukan.

Istri Rakum, Sutirah, sejak tahun 2007 nekat mencari putrinya itu dengan menjadi TKW ke Malaysia. Namun, keberadaan Eri tetap tak diketahui.

Di Sragen, Bupati Sragen Untung Wiyono meminta pemerintah menghentikan pengiriman TKW pembantu rumah tangga (PRT) ke luar negeri.

Permintaan ini didorong kenyataan terus berulangnya kasus penganiayaan TKW di luar negeri, khususnya di Arab Saudi.

Dalam siaran persnya yang dikirimkan ke Kompas, Kamis, Untung Wiyono menyatakan, Sragen telah menghentikan pengiriman TKW PRT sejak tahun 2003 dan menggantinya dengan tenaga kerja profesional.

”Pengiriman TKW PRT dengan alasan apa pun harus dihentikan. Apa artinya devisa jika harga diri bangsa diinjak-injak. Kalau Arab Saudi ingin mengambil TKW PRT harus ada klausul TKW kita dilindungi Undang-Undang Perburuhan di sana. Mereka yang disiksa jangan lagi diperbolehkan bekerja di luar negeri. Mereka harus diberi bekal keterampilan untuk berwirausaha,” kata Untung Wiyono.

(HAN/EKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau