Korsel Tolak Usulan Rapat Darurat

Kompas.com - 29/11/2010, 02:54 WIB

BEIJING, MINGGU - China hari Minggu (28/11) menyerukan segera digelarnya kembali pembicaraan perlucutan nuklir Korea Utara oleh enam pihak (Six Party Talks) Desember mendatang, sekaligus pihaknya menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah.

Langkah itu dilakukan Beijing demi menurunkan ketegangan yang terus terjadi antarkedua Korea dalam sepekan terakhir, menyusul serangan Korea Utara Selasa lalu ke sebuah pulau berpenduduk, Pulau Yeonpyeong. Dua penduduk sipil dan dua marinir Korsel dilaporkan tewas.

”Setelah mempelajarinya dengan sangat hati-hati, kami usulkan digelarnya konsultasi darurat di antara keenam negara anggota Pembicaraan Enam Pihak awal Desember di Beijing, terutama untuk bertukar pandangan terkait perkembangan situasi yang saat ini sama-sama dialami,” ujar perwakilan China dalam forum pembicaraan itu.

Namun, sayang, tawaran China tadi langsung ditolak Korsel, yang menilai sekarang bukan saat yang tepat untuk memulai kembali pembicaraan, yang sempat terhenti dua tahun lalu ketika secara mendadak Korut hengkang dari pertemuan sebelum ada kesepakatan apa pun.

Menurut juru bicara Gedung Biru, Hong Sang Pyo, tawaran tersebut muncul dalam pertemuan antara Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak dan anggota Dewan Negara China, Dai Bingguo.

Tidak hanya itu, Presiden Myung-bak bahkan mendesak China, satu-satunya sekutu utama Korut yang kerap enggan mengkritik negara itu, untuk bisa lebih membantu. Meski begitu, dalam pertemuan tersebut China sepakat dengan Korsel dalam menyebut situasi di kawasan itu ”sangat mengkhawatirkan”.

Menyikapi serangan ke Yeonpyeong, Korsel dan AS langsung mengarahkan kekuatan militernya dalam bentuk latihan perang besar-besaran di perairan barat Semenanjung Korea.

Hal itu sangat tidak disukai Pyongyang, yang menganggap latihan perang tersebut sebagai bentuk intimidasi. Mereka juga mengancam akan melancarkan serangan ”tak berbelas kasih” ke Korsel jika sampai latihan perang itu jadi digelar.

Sementara itu, Jepang sebagai bagian dari forum Pembicaraan Enam Pihak tadi mengaku ingin menyikapi hati-hati tawaran Beijing dengan terlebih dahulu mengonsultasikannya dengan Korsel dan AS, yang juga bagian dari forum tersebut.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Kabinet Jepang Tetsuro Fukuyama di Tokyo. Selain Korsel, Korut, Jepang, China, dan AS, Rusia juga terlibat dalam forum enam pihak itu.

Dalam kesempatan terpisah, pejabat tinggi Korut, Choe Thae Bok, dilaporkan akan melakukan kunjungan resmi ke Beijing pada pekan ini menyusul ketegangan yang terus terjadi antara negaranya dan Korsel. Kunjungan itu disebut-sebut atas undangan mitranya di China, Wu Bangguo.

Thae Bok adalah Ketua Majelis Tertinggi Korea Utara, sekaligus orang kepercayaan pemimpin negeri itu, Kim Jong Il. Kunjungan itu akan berakhir 4 Desember mendatang.

China selama ini memang kerap kali berada dalam posisi di bawah tekanan, terutama untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Pyongyang dalam berbagai krisis yang terjadi akibat kelakuan Korut. Meski begitu, Beijing selalu bersikap enggan ikut campur dan sekadar meminta semua pihak menahan diri.

Hingga saat ini, Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi juga telah menggelar sejumlah pertemuan dengan rekan-rekannya sesama menteri luar negeri sejumlah negara, seperti AS, Rusia, Jepang, dan Korsel. Dia juga menemui Penasihat Negara Dai Bingguo, seorang pembuat kebijakan senior yang saat ini berada di Seoul.

(AFP/AP/REUTERS/BBC/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau