Sekretaris Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Soeprapto, yang juga kelompok tani kopi, mengatakan, sebelumnya luas areal tanaman kopi rakyat di lereng Kelud mencapai 700 hektar lebih.
Saat ini luas areal tanaman kopi menyusut hingga kurang dari 500 hektar yang tersebar di Desa Petungombo, Kecamatan Plosoklaten dan Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar.
Menurut rencana, tanaman kopi akan terus dibabat sampai habis kemudian diganti dengan kakao atau hortikultura lain seperti nanas dan tebu secara bertahap.
”Tanaman kakao sepertinya lebih menjanjikan baik dari produktivitas maupun harga. Apalagi kami akan mendapatkan bantuan benih kakao dari pemerintah daerah,” kata Soeprapto, Minggu (28/11).
Soeprapto menambahkan, rata-rata tanaman kopi di lereng Kelud merupakan tanaman yang sudah berumur lebih dari 30 tahun. Tanaman kopi tersebut telah berulang kali mengalami peremajaan dengan cara dikepras batangnya.
Sejauh ini belum ada upaya mengganti dengan tanaman baru, karena petani kesulitan mendapatkan bibit kopi berkualitas.
Jenis kopi yang ditanam adalah robusta. Idealnya, setiap satu hektar lahan mampu menghasilkan 1-1,5 ton kopi.
Namun, saat ini satu hektar lahan hanya mampu menghasilkan sekitar 400-500 kilogram biji buah kopi basah. Penurunan produktivitas hingga 50 persen.
Selain usia tanaman yang sudah tidak produktif, penurunan produktivitas kopi di lereng Kelud disebabkan tingginya curah hujan selama tahun 2010.
Hujan deras dengan intensitas tinggi mengakibatkan bunga kopi rontok sebelum berkembang menjadi biji kopi. Produksi pun langsung merosot drastis.
Saat ini harga kopi di pasar domestik juga cenderung turun. Saat lelang komoditas unggulan pertanian dan peternakan yang digelar Pemkab Kediri pekan lalu, harga kopi robusta petani Rp 12.000 per kilogram. Kopi dengan kualitas terbaik hanya mampu menyentuh level Rp 15.000 per kilogram.
”Awal tahun 2010 kami masih bisa menikmati harga kopi Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogram. Dengan harga itu kami masih dapat untung. Kalau sekarang, margin petani sangat minim,” ucap Soeprapto.
Petani beralih ke kakao karena tergiur keuntungan besar. Dari hasil simulasi, satu hektar kakao mampu mendulang Rp 60 juta per tahun, sedangkan satu hektar kopi maksimal Rp 15 juta per tahun.
Secara terpisah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kediri Widodo mengatakan, pihaknya tak sependapat jika petani kopi menumbangkan tanamannya.
Menurut dia, langkah terbaik adalah meremajakan dengan varietas bagus sehingga produktivitas meningkat. Widodo optimis harga kopi akan kembali naik.
Dia justru tak yakin harga kakao akan terus tinggi seperti saat ini. Apalagi menanam kakao merupakan hal baru bagi petani Kediri sehingga belum bisa dipastikan produktivitas yang dihasilkan bisa maksimal.